Jumat, 14 Juli 2017

Produktivitas THR

Lebaran identik dengan Tunjangan Hari Raya (THR). Hal yang paling ditunggu banyak orang, baik anak-anak, remaja, dewasa, maupun manula.

Bagi anak-anak dan remaja, THR yang mereka terima bisa tak terduga jumlahnya. Bisa lebih besar dari ekspektasi awal, bisa juga sebaliknya, jauh lebih sedikit dari yang diharapkan. Tergantung tradisi keluarganya setiap merayakan Lebaran. Sementara bagi orang dewasa, khususnya yang bekerja, jumlah THR yang diterima biasanya sudah dipastikan. Tentu saja karena THR-nya biasanya satu kali gaji. Nah, berbeda dengan manula. Mereka yang pensiunan PNS atau purnawirawan, tentu berharap ada gaji ke-13 sebagai pengganti THR. CMIIW. Jika bukan pensiunan PNS atau purnawirawan, THR yang diharapkan biasanya dari anak-anak yang sudah mapan.

THR bagi saya bukan hal yang terlalu ditunggu karena tidak ada tradisi menerima atau memberi THR di keluarga kami. Semasa kanak-kanak, hanya adik ayah yang memberi kami THR. Nilainya tiap tahun beragam. Biasanya setelah menerima uang THR, kami bertiga membeli coklat silverqueen di toko dekat rumah. Tradisi membeli coklat itu yang mengesankan bagi kami.

Setelah menikah, saya pun tidak terbiasa membagikan uang THR pada ponakan dan sepupu. Kebetulan ponakan saya ada lima orang. Sementara sepupu saya ada kurang lebih dua belas orang. Sepupu-sepupu saya ini sebagian besar sudah beranjak dewasa saat saya menikah. Jadi, saya merasa takperlu membagi uang THR karena mereka sudah bekerja juga. Pelit ya?hehehe...




www.beritalima.com


Selain itu, perusahaan tempat saya bekerja pun tidak memberikan THR sesuai aturan yang berlaku. Tak ada uang THR sebesar satu kali gaji tiap bulannya. Perusahaan hanya memberikan uang THR ala kadarnya.  Besarnya pun taksampai 50% dari gaji kami. Hiks..sedih banget ya?

Anyway, kebijakan itu tidak menyurutkan kebahagiaan saya untuk merayakan Lebaran dengan suka cita. Jatah THR yang taksampai 50% dari gaji itu biasanya saya gunakan untuk membayar zakat, THR orangtua, dan modal berjualan coklat serta kacang mede. Saya berprinsip uang THR harus digunakan untuk kegiatan produktif dunia akhirat.


www. i-am-not-juliet.blogspot.com


Karena THR cairnya tidak tentu, tergantung keputusan manajer keuangan, biasanya saya pakai dana di pos lain dulu untuk modal berjualan. Saat uang THR sudah cair, saya kembalikan pinjaman modal itu. Alhamdulillah sudah empat tahun saya berjualan coklat dan kacang mede dengan memutar modal dari dana THR. Apa pun, berapa pun jumlahnya jika dikelola dengan bijak, in sya Allah akan bermanfaat.

8 komentar:

  1. Btw sama di tempatku bekerja pun pemberian THR tidak menurut aturan, seikhlasnya saja sesuai dengan omset yang ada. tapi Alhamdulillah segitu juga dapet hihii

    BalasHapus
  2. Wah dipostingan ini jadi tahu kalo mbak juga pebisnis. Semoga bisnis coklat dan kacang mede nya lancar ya mbak. Salam kenal sesama blogger!

    BalasHapus
  3. Aku juga alokasi THR untuk bayar zakat mbak. Dan kebetulan tahun ini kebagian jatah ngunduh trah. Jadi duit THR dipake u beli hidangan untuk trah keluarga besar

    BalasHapus
  4. Tanggal segini thr nya udah kemana lagi teh, emang perlu managemen yang baik :)

    BalasHapus
  5. emang butuh pengaturan yang detail ia, sampai hal hal yang tak terduga biar bisa terserap sesuai dengan kebutuhan ...

    BalasHapus
  6. Harus pintar2 mnggunakan uang THR agar dpt digunakan sesuai kebutuhan......

    BalasHapus
  7. Aku dapet THR cuma dua taon. Abis itu jadi pengangguran banyak acara.. Ahahah tapi alhamdulillah masih disyukuri kak. Rezeki mah ada aja...

    Dan kalo dapet THR dulu tuh abis juga buat belanja dan dibagi2 ke ponaan2. Kerja lagi dalam keadaan fitri. Fitri semua muanya. Ahahaha

    BalasHapus
  8. wah yg penting disyukuri y mba terlebih bisa untuk modal jualan jg uda pandai mba atur keunagannya

    BalasHapus

Produktivitas THR

Lebaran identik dengan Tunjangan Hari Raya (THR). Hal yang paling ditunggu banyak orang, baik anak-anak, remaja, dewasa, maupun manula. Ba...