Friday, August 10, 2018

Kampanye Bunda Peduli Asupan Sehat (PAS) Bersama Blackmores


Sejak kapan seribu hari pertama kehidupan buah hati dihitung? Apakah sejak ia lahir atau sejak ia masih berupa janin? Pengetahuan tentang ini ternyata menjadi pijakan penting bagi bunda dalam mengatur asupan sehat yang bunda dan buah hati butuhkan selama hamil dan menyusui. 



1000 Hari Pertama yang Amat Penting

Dari informasi yang saya baca, seribu hari pertama itu dihitung sejak buah hati dilahirkan. Jadi, hitungan seribu hari pertama itu kurang lebih sampai usia tiga tahun. Meski hitungannya demikian, saya tetap berusaha menjaga asupan nutrisi selama hamil. Saya mengatur menu makan dengan jenis makanan yang lebih sehat dan bergizi. Tidak cukup mengandalkan makanan dan minuman, saya pun mengonsumsi suplemen. Suplemen DHA dan zat besi yang saya konsumsi seringkali menimbulkan rasa mual. Namun, saya tetap harus mengonsumsinya demi kesehatan saya dan bayi. Yang ada di pikiran saya saat itu, bayi harus lahir dengan berat badan cukup, kondisi tubuhnya sempurna, dan ASI saya melimpah. 

Saat mengikuti seminar edukasi Kampanye Bunda PAS (Peduli Asupan Sehat) yang diselenggarakan Kalbe Blackmores Nutrition, saya baru mengetahui bahwa 1000 hari pertama kehidupan buah hati dimulai sejak ia dalam kandungan. Wah, ternyata pemahaman saya selama ini keliru. Pentingnya nutrisi sejak hamil dijelaskan dr Bram Pradipta, Sp.OG, yang juga pengasuh Redaksi Spesialis Kebidanan dan Kandungan dari Klikdokter.com. Menurut dr. Bram, 1000 hari pertama itu terbagi atas 270 hari kehamilan + 365 hari tahun pertama + 365 hari tahun kedua. Pada rentang waktu itu, sangat penting bagi ibu mengonsumsi nutrisi seimbang agar ia dan janinnya sehat.

"Untuk itu, makanan yang dikonsumsi ibu harus seimbang. Isinya ada karbohidrat, sayur, buah, dan protein," jelas dr. Salli Fitriyanti, M.Gizi, SpGK. "Proteinnya juga harus terdiri atas protein hewani dan nabati. Karena kalau ibu hanya mengonsumsi protein hewani, kolesterol ibu bisa tinggi. Begitu juga kalau kebanyakan protein nabati, ibu bisa kena asam urat," lanjut dr. Salli selaku spesialis gizi klinik yang membuka praktik pribadi di Klinik Jaya Sentosa dan RS Sentosa Kebon Jati, Bandung.

Lalu, bagaimana jika bunda mengalami mual muntah selama kehamilan? Lakukan empat hal ini agar bunda tetap memeroleh asupan sehat :
  1. Makan sedikit, tapi sering. Ini dilakukan agar lambung tetap terisi. Apalagi kalau Bunda mempunyai riwayat sakit maag.
  2. Konsumsi vitamin B untuk mengurangi mual.
  3. Banyak minum air hangat untuk menetralkan rasa tidak nyaman di perut dan kerongkongan.
  4. Hindari mengonsumsi makanan pemicu mual, seperti makanan pedas dan gorengan.


Rangkaian Kegiatan Seminar Edukasi Kampanye Bunda PAS

Seminar edukasi Kampanye Bunda PAS hari Sabtu, 4 Agustus 2018, di Kota Bandung ini sekaligus memperingati pekan ASI dunia yang dihelat setiap minggu pertama di bulan Agustus. Seminar edukasi Kampanye Bunda PAS sebelumnya telah dijalankan di beberapa kota besar dengan target mengedukasi ribuan bunda hamil dan menyusui. Diharapkan dari seminar ini, bunda hamil dan menyusui paham akan pentingnya kesehatan fisik dan psikologis bunda selama 1000 hari pertama kehidupan si kecil.

Edukasi ini sejalan dengan visi misi Kalbe Blackmores Nutrition, yaitu menyediakan solusi kesehatan yang terbaik untuk membantu mewujudkan kehidupan masyarakat Indonesia yang lebih baik. Banyak kegiatan bermanfaat yang bisa diikuti ibu hamil dan menyusui pada seminar ini. Mulai dari pemeriksaan kesehatan bagi ibu, metode hypnobirthing dalam memperlancar proses kehamilan dan persalinan, coaching clinic, dan cooking demo.

P emeriksaan kesehatan dilakukan sebelum seminar dimulai. Bunda yang sudah registrasi bisa datang ke booth pemeriksaaa. Ada dokter-dokter yang siap mengecek kondisi kesehatan bunda sekaligus menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar kesehatan bunda dan buah hati.
Sesi hypnobirthing menjadi agenda pertama seminar. Ibu Lanny Kuswandi sebagai pemandu sesi ini menjelaskan ada dua hormon yang berperan dalam proses persalinan, yaitu hormon oksitosin dan endorphin. Hormon oksitokson akan keluar saat kehamilan memasuki usia 37 minggu  dan hormon endorphin keluar saat hati dan pikiran tenang. Bagaimana caranya? Bunda bisa mempraktikkannya dengan bernapas melalui perut secara pelahan dan teratur.

www.siswiyantisugi.com
Cooking demo merupakan agenda ketiga setelah talkshow. Menu kali ini menggunakan ikan salmon sebagai bahan dasar. Kandungan asam lemak omega 3 dalam ikan salmon sangat bermanfaat untuk otot dan perkembangan janin. Selain itu, asam lemak omega 3-nya bisa memberi pertahanan antioksidan untuk bunda.

Blackmores Bunda PAS - Peduli Asupan Sehat

Para ibu yang hadir sangat antusias mengikuti acara ini. Begitu pula saat dipandu MC menyampaikan komitmen Bunda Peduli Asupan Sehat. Hadirin berseru dengan penuh semangat. Dalam kesempatan ini juga, Mbak Dian dari Kalbe Blackmores Nutrition menyampaikan bahwa Blackmores mendukung kesehatan bunda dan buah hati dengan memenuhi asupan nutrisi yang PAS (Peduli Asupan Sehat).

Akhir pekan kali ini sangat berfaedah berkat ilmu yang saya dapat dari Blackmores Bunda PAS - Peduli Asupan Sehat. Mengonsumsi sayuran, buah-buahan, karbohidrat, protein hewani, dan nabati, disempurnakan oleh Blackmores Pregnancy and Breast-Feeding Gold akan mendukung kesehatan saya dan tumbuh kembang buah hati. 

Friday, August 3, 2018

Misi Kemanusiaan Rumah Zakat untuk Meringankan Beban Sesama


www.siswiyantisugi.com

Menolong sesama umat manusia tanpa memperhitungkan asal-usulnya adalah kewajiban setiap orang. Prinsip kemanusiaan universal ini menjadi dasar pemikiran Rumah Zakat dalam menjalankan program-programnya sebagai lembaga nirlaba. 

Sejak berdiri tahun 1998, lembaga ini beberapa kali mengalami perubahan nama. Hingga pada tahun 2010, namanya menjadi Rumah Zakat. Dengan mengusung tiga brand value baru, yaitu trusted, progressive, dan humanitarian. Rumah Zakat menajamkan karakter menuju World Class Socio-Religious Non Governance Organization (NGO).

Selanjutnya transformasi ketiga terjadi pada 5 April 2010, RUMAH ZAKAT diresmikan menggantikan brand sebelumnya RUMAH ZAKAT INDONESIA. Dengan mengusung tiga brand value baru : Trusted, Progressive dan Humanitarian, organisasi ini menajamkan karakter menuju “World Class Socio-Religious Non Governance Organization (NGO)”.

Dalam menjalankan program-programnya, Rumah Zakat bergerak berdasarkan tiga misi ini :
1. Berperan aktif dalam membangun jaringan filantropi Internasional
2. Memfasilitasi kemandirian masyarakat
3. Mengoptimalkan seluruh aspek sumber daya melalui keunggulan insani

Rumah Zakat merealisasikan misi kemanusiaannya dalam berbagai program, salah satunya adalah Superqurban. Program ini mengoptimalkan daging qurban menjadi cadangan pangan bagi masyarakat Desa Berdaya di 34 provinsi. 



www.siswiyantisugi.com



Daging qurban sebagai sumber protein hewani sebagian diolah menjadi daging kalengan atau yang dikenal sebagai korned. Cara pengolahan tersebut menjadi salah satu upaya Rumah Zakat agar daging qurban dapat dimanfaatkan lebih lama dan berkelanjutan. Dengan diolah menjadi korned, daging qurban bisa didistribusikan ke tempat-tempat yang lebih jauh sehingga lebih banyak orang yang dibantu meringankan bebannya.

Melalui Superqurban, setiap anggota masyarakat dapat berpartisipasi dalam program penyediaan energi berkelanjutan bagi Indonesia dan dunia. Superqurban bisa menjadi inovasi dalam menyalurkan bantuan daging qurban kepada berbagai pihak yang membutuhkan. Berkaitan dengan misi tersebut, pada tanggal 30 Juli 2018, bertempat di Jalan Turangga nomor 33, Bandung, Rumah Zakat mengadakan konferensi pers dalam rangka pelepasan relawan untuk mengirimkan bantuan ke Yordania dan Yerusalem. Lebih tepatnya, di perbatasan Yordania dan Yerusalem. Bantuan yang disampaikan adalah bahan pangan pokok, salah satunya berupa korned. Selain itu, ada juga hygiene kit dan hewan qurban untuk disembelih pada hari raya Idul Adha nanti.

Rumah Zakat juga bekerja sama dengan peternakan di salah satu wilayah di Palestina. Kerja sama ini dilakukan dalam pengadaan hewan qurban yang akan dipotong langsung di lokasi. "Ada donatur yang minta dikirim dalam bentuk korned, ada juga donatur yang minta dipotong langsung di sana, " jelas Nur Effendi, CEO Rumah Zakat. 

Pengiriman bantuan ke perbatasan Yordania dan Yerusalem sebagai wujud peran aktif dalam membangun jaringan filantropi internasional. Filantropi atau nama lainnya adalah kedermawanan merupakan bentuk kesadaran untuk memberi bantuan dalam rangka mengatasi kesulitan dan meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat secara luas dalam berbagai kehidupan. Filantropi jika diterjemahkan dalam pandangan Islam bisa dijumpai pada amalan zakat yang wajib hukumnya, infaq, sedekah, waqaf, hibah, dan pemberian-pemberian lainnya.


Lalu bagaimana dengan komentar yang muncul di masyarakat, "Nyumbang kok jauh-jauh? Di Indonesia juga banyak yang kelaparan." Nur Efendi menjelaskan tentu saja prioritas tetap di dalam negeri. Persentasenya 80% dalam negeri, 20% ke luar negeri.




Tuesday, July 24, 2018

Open House Museum Biofarma Bandung

https://www.siswiyantisugi

Selalu ada yang baru di Kota Bandung. Selain wisata kuliner yang ngga ada matinya, wisata alam yang memukau, ada juga wisata edukasi yang pasti menambah wawasan dan pengetahuan wisatawan yang datang ke kota ini.

Salah satu wisata edukasi yang baru saja launching di Kota Bandung adalah Museum Bio Farma. Museum ini berlokasi di jalan Pasteur No. 28 Bandung. Bio Farma adalah produsen vaksin yang kini  telah ditunjuk sebagai Center of Excellence untuk pengembangan dan distribusi vaksin di negara berkembang dan negara Islam. 

Sekilas Tentang Bio Farma
Perusahaan yang berdiri sejak tahun 1980 ini dengan kompetensi ekspertis dan pengalamannya dipercaya untuk mentransfer teknologi produk vaksin bagi negara berkembang dan negara Islam. Dengan prestasinya itu, pada tahun 2009, Bio Farma melangkah menuju perusahaan vaksin kelas dunia yang berdaya saing global. Pencapaian Bio Farma ini membuat saya makin bangga sebagai rakyat Indonesia.

Terlebih ketika saya mendengarkan penjelasan Kepala Dinas Pariwisata dan Budaya Kota Bandung, Kenny Dewi Kaniasari, pada acara Open House Museum Bio Farma, 19 Juli 2018. “Gedung Bio Farma ini merupakan cagar budaya berklasifikasi A. Gedung ini akan menjadi wisata edukasi dan tentunya wisata museum. Tentu saja ini menambah daftar destinasi wisata di Kota Bandung," jelasnya.

Talk Show

https://www.siswiyantisugi.com












 Open House Museum Bio Farma ini dihadiri berbagai komunitas, seperti Komunitas Aleut, Sahabat Museum, Blogger Bandung, dan akademisi. Sebelum berkunjung ke museum, kami mengikuti talk show. Ada dua pokok bahasan, yaitu sejarah imunisasi di Indonesia dan menjejakkan sejarah museum medis.

www.siswiyantisugi.com
  
Saya sepakat dengan penjelasan dr. Andri Edwin tentang upaya menghidupkan museum sebagai jejak literasi. Keberadaan museum yang menyimpan jejak-jejak sejarah serupa kumpulan catatan yang menggambarkan perjalanan peradaban suatu zaman. Karena itu, museum seharusnya menjadi tempat belajar bagi masyarakat untuk mengenali perjalanan peradaban.

Sementara itu, dr. Luthfi Yondri sebagai ahli sejarah memaparkan bahwa sistem pengobatan sebenarnya bagian dari kebudayaan manusia. Jadi, tidak perlu heran kalau sampai hari ini pengobatan herbal sama populernya dengan pengobatan medis. Keduanya bisa seiring sejalan karena masyarakat kita memercayai keduanya.

Pembicara terakhir adalah Kepala Bagian Pelayanan Unit Klinik dan Imunisasi, dr.Erwin. Ia memaparkan perbedaan antara selesma (batuk pilek) dan influenza. Informasi yang sangat bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari. Betapa influenza dan gejalanya sangat menghambat aktivitas kita. Untuk itu, seharusnya setiap orang mempunyai kesadaran untuk divaksin influenza. 

Nah, diumumkan juga ada harga khusus bagi hadirin yang ingin divaksin influenza. Harga biasa sekitar 200 ribu lebih, hari itu harganya hanya Rp 160 ribu. Lumayan banget kan? Tapii, saya memutuskan tidak ikut divaksin. Alasannya sepele bin klasik : saya takut disuntik, hehe..

Kunjungan ke Museum Bio Farma

https://www.siswiyantisugi.com
Meja Resepsionis Museum Biofarma

Acara puncak adalah  berkunjung ke museum. Ini sesi yang saya tunggu. Museum Bio Farma terdiri atas satu lantai. Para undangan sangat antusias membaca sejarah yang terpampang di dinding di tiap ruangan. Selain sejarah berdirinya Bio Farma, kita bisa belajar tentang kemunculan smallpox atau cacar api beserta vaksinnya.

Saya jadi ingat serial tv produksi NBC, serial ER. Di serial itu, ada satu episode yang mengangkat masalah smallpox alias cacar api. Saking bahayanya cacar api ini, County Hospital sebagai setting serial ER ini disterilisasi pemerintah selama dua minggu. Tim medis yang sempat memeriksa dan mengobati pasien smallpox pun dikarantina selama dua minggu.

www.siswiyantisugi.com







Masuk pintu utama museum, kami diajak melihat rekaman para pekerja di Bio Farma di masa lalu, pada masa berdirinya Bio Farma. Setelah itu, kami masuk ke ruangan di sebelah kiri. Ada deretan foto-foto dokter-dokter yang pernah memimpin Bio Farma dari masa ke masa.

www.siswiyantisugi.com

www.siswiyantisugi.com

Di ruangan lain, kita bisa melihat perubahan logo Bio Farma sebagai lembaga yang fokus meneliti dan menghasilkan vaksin.
www.siswiyantisugi.com

www.siswiyantisugi.com






Di museum ini, kita juga bisa melihat banyak penghargaan yang sudah diterima Museum Bio Farma dalam perjalanannya.

Di ruangan selanjutnya ada penjelasan berikut foto-foto hasil-hasil penelitian Bio Farma di tiga bidang cultural, geografi, dan biodiversity.

www.siswiyantisugi.com

Selalu ada rasa haru setiap memasuki museum dan mengamati koleksinya. 
Saya kadang merasa terlempar ke masa lalu saat ada di dalam lorong-lorongnya. Bagaimana pun, museum adalah etalase kenangan. Kenangan tentang perjuangan jerih payah manusia membangun peradabannya.

Melihat animo masyarakat yang sangat antusias dalami acara open house kali ini. Head Of Corporate Communication Bio Farma Nurlaela Arief angkat bicara, “Kedepannya berencana akan membuka museum ini untuk umum, tentunya dengan konsep digital serta tak melepaskan unsur edukasinya. Untuk perihal waktunya nanti kami akan menginformasikan kembali secepatnya” Ujar Lala Rabu (18/07).


Rokok Harus Mahal Demi Masa Depan Anak Indonesia

Foto : www.wartawanita.com

Setiap pagi, anak-anak SMK nongkrong di depan rumah saya. Kebetulan sekolah mereka memang dekat dengan perumahan tempat saya tinggal. Mereka biasanya nongkrong di situ untuk menghindari apel pagi. Dan nongkrong itu tidak hanya diisi ngobrol ngalor ngidul, tetapi juga klebas-klebus asap rokok di tengah mereka.

Saya dan suami kerap jengkel sekaligus prihatin dengan perilaku mereka. Selain asap rokoknya masuk ke rumah, di usia masih belia, mereka sudah merusak paru-parunya. Saya dan suami sering mengingatkan mereka untuk tidak nongkrong merokok di depan rumah saya. Respons mereka ya begitulah..iya..iya..tapi besoknya merokok lagi.

Anak-anak SMK nongkrong merokok juga sering saya jumpai di gang sempit dekat perumahan.  Tidak banyak yang mengakses gang sempit itu. Hanya sedikit orang yang sengaja melewatinya untuk memotong jalan. Anak-anak ini bahkan nongkrong di pagi hari, siang, hingga maghrib. Asap rokok takhenti mengepul di tengah mereka. 

Saya heran orang-orang dewasa di sekitar tempat nongkrong itu tidak menegur mereka. Usut punya usut, ternyata keberadaan anak-anak ini menguntungkan warung yang menjual rokok di situ. Tetangga sebelah saya membuka warung kelontong. Warung tetangga saya inilah tempat anak-anak itu membeli rokok. Sama halnya dengan kasus di gang sempit itu. Mereka nongkrong persis di depan warung jajanan yang menjual rokok juga. Jadi, kasarnya ada simbiosis mutualisma di antara mereka. Simbiosis mutualisma yang menyimpang.

Warung-warung rokok ini mungkin tidak peduli dengan kondisi ini. Yang penting jualannya laku, pikir mereka. Padahal seandainya mereka mau berpikir jauh ke depan, kebiasaan merokok ini membahayakan kesehatan anak-anak itu di masa depan. Selain membahayakan kesehatan, kebiasaan merokok sejak dini akan menciptakan ketergantungan terhadap nikotin hingga usia tua. Ketergantungan itu bisa diatasi selama si perokok segera sadar akan akibat buruk rokok. Bagaimana jika tidak? Bersiaplah negeri ini akan kehilangan bonus demografi 5-10 tahun akan datang.
Keprihatinan dan kekhawatiran terhadap generasi muda yang kecanduan rokok mendorong Yayasan LenteraAnak bersama FCTC Warrior mengungkapkan hasil survei yang menunjukkan harga rokok masih terjangkau anak-anak pasca kenaikan tarif cukai rokok 10,04 persen per Januari 2018. Sementara itu, data Tobacco Control Atlas ASEAN mencatat lebih dari 30 persen dari sekitar 20 juta anak Indonesia mulai merokok sebelum usia 10 tahun. 

Rokok bisa menjadi pintu gerbang penyalahgunaan narkotika dan zat adiktif lainnya. Jika sudah fasih merokok, anak bisa saja tertarik mencoba hal lain yang lebih menantang agar tampak keren di komunitasnya. Atau saat embusan asap rokok mild atau kretek tak membantunya mengatasi kegalauan, ia bisa lari ke media lain, narkoba misalnya. Itu mungkin kekhawatiran berlebih yang saya pikirkan, tapi becermin dari kasus-kasus sebelumnya, hal itu bisa saja terjadi. 

Adakah cara yang bisa dilakukan agar anak-anak tidak bisa menjangkau rokok? Untuk itu, Radio KBR mengupasnya di Ruang Publik KBR dalam serial Rokok Harus Mahal. Pada hari Rabu, 18 Juli 2018, serial Rokok Harus Mahal sudah memasuki episode ke-6. Kali ini live dari Surabaya dengan narasumber :
1.Dr Santi Martini,dr. M Kes-- Wakil Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga 
2.Lisda Sundari--- Ketua Yayasan Lentera Anak Indonesia 
3.Dr Sophiati Sutjahjani, M Kes ---Ketua Majelis Kesehatan Pimpinan Wilayah Aisyiyah Jawa Timur .

Foto Sugi Siswiyanti.


Dalam obrolan ini, dokter Santi memaparkan bahwa regulasi pemerintah dalam PP 109 tentang rokok sudah sangat lengkap. PP 109 menjelaskan bahwa rokok tidak boleh dijual kepada anak-anak atau orang di bawah umur 18 tahun. Selain itu, ada pasal yang melarang rokok dijual dalam kemasan kurang dari 20 batang. 
Jadi, yang urgent adalah implementasinya. Menaikkan harga rokok adalah keharusan. Seperti yang disampaikan Lisda Sundari bahwa kampanye rokok harus mahal mengajukan harga rokok Rp 80ribu/bungkus. Hal ini dilakukan agar daya beli anak-anak terhadap rokok tidak ada lagi, jelas Lisda. 
Sementara, Dr. Sophi menjelaskan bahwa dampak rokok bertambah, yaitu mengakibatkan stunting. Stunting itu selain pendek, ternyata juga kecerdasannya menurun. Bagaimana anak bangsa kita nanti? Kecil dan tidak pintar. Saat ini stunting salah satu dari 4 problem terbesar di Indonesia. Agar bonus demografi Indonesia tidak sia-sia, kita semua harus bergerak. 
Kita harus membangun persepsi denormalisasi merokok. Itu penting. Inilah alasan kegiatan seperti ini harus tetap dilakukan terutama mengampanyekan Smoke Free Campaign untuk anak-anak sedini mungkin. Kampanye ini akan membentuk pola pikir pada anak-anak perempuan dan laki-laki bahwa merokok itu berbahaya. Selanjutnya, anak-anak bisa berani meminta bapaknya untuk tidak merokok. 
Mari kita dukung kampanye rokok harus mahal agar anak-anak Indonesia tidak bisa menjangkau rokok. Kita bisa menyampaikan dukungan "Rokok Harus Mahal" dengan menandatangani petisinya di Change.org/rokokharusmahal.

Foto Sugi Siswiyanti.

Obrolan ini  bisa disimak lewat 100 radio jaringan KBR. Di Jakarta bisa disimak di Power Radio 89,2 FM. Kita bisa juga menyimak melalui aplikasi KBR Radio di Android dan iOS; fan page Kantor Berita Radio KBR. 

Obrolan Serial Rokok Harus Mahal ini masih akan tayang dua kali lagi setiap hari Rabu, tanggal 25 Juli 2018 dan 15 Agustus 2018, pukul 09.00 WIB - 11.00 WIB. Pasang alarm supaya tidak lupa :) Untuk blogger, ada lombanya juga. Jadi, bisa mendengarkan obrolan sambil menulis artikel bertema  rokok harus mahal.


Thursday, July 5, 2018

Memuliakan Ramadan agar Allah Makin Sayang

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa” (QS. Al Baqarah: 183)


Setiap muslim pasti mengetahui perintah Allah untuk berpuasa di bulan suci Ramadan. Ketika ia mematuhinya, in sya Allah predikat takwa melekat pada dirinya. Namun, seperti apa melekatnya? hanya hatinya yang mengetahui itu. Karena ibadah puasa yang dijalani akan terasa hambar jika sekadar menahan lapar dan dahaga belaka.

Ramadan tahun ini bagi saya adalah Ramadan yang sangat sibuk. Mengapa saya menyebutnya demikian? Pada Ramadan tahun ini, saya masih menyusui meskipun bayi saya sudah mulai mendapat mpasi. Di hari-hari terakhir bulan Sya'ban, saya ragu-ragu akan berpuasa atau tidak. Saya tahu banyak ibu menyusui yang bisa berpuasa sebulan penuh. Namun, banyak juga ibu menyusui yang memutuskan tidak berpuasa demi bayinya. Dari referensi fiqih yang saya baca, tidak apa-apa jika ibu memutuskan tidak berpuasa demi bayinya. Sebagai gantinya, ibu harus berpuasa di lain hari setelah Ramadan.

Puasa yang Putus-Putus

Saya pun mengamati kondisi bayi saya. Apakah ia cukup kuat jika saya berpuasa sehari penuh selama satu bulan? Di hari pertama, saya berpuasa. Tidak ada masalah. Ia memang minum asi lebih banyak dari biasanya, tapi semua baik-baik saja. 

Di hari kedua, ia agak rewel karena pilek. Entahlah, pilek datang tiba-tiba. Karena ia pilek, saya memutuskan tidak berpuasa dulu. Dua hari kemudian, saya puasa lagi. Eh, baru puasa beberapa hari, bayi saya masuk angin. Saya tidak puasa lagi. Begitu terus kondisinya. Belum lagi saat tamu bulanan datang. Libur lagi puasanya. Puasa saya pun rasanya geje. 

Tidak hanya puasanya, ibadah lain pun rasanya tak selapang tahun-tahun sebelumnya. Waktu ibadah terasa amat sempit. Bayi selalu ikut bangun saat sahur dan ia mengantuk ketika azan subuh berkumandang. Alhasil, saya harus meninabobokan lebih dulu. Harapan salat subuh tepat waktu pun pupus. Untungnya itu terjadi saat di awal Ramadan. Setelah seminggu berlalu, bayi saya bisa kembali tidur nyenyak saat kami makan sahur hingga subuh tiba.


foto : www.hrc.org

Amalan Ramadan

Sepakat dengan Mak Ade, Ramadan yang datang setahun sekali ini jangan sampai sia-sia. Karena itu, di tengah padatnya kesibukan saya mengurus bayi, rumah, dan pekerjaan lain, saya berusaha keras agar bisa melakukan ibadah-ibadah ini :
1. Salat sunnah sebanyak-banyaknya
Salat sunnah rawatib, salat dhuha, dan salat tarawih atau tahajud menjadi andalan setiap muslim yang sedang menunaikan ibadah puasa agar puasanya semakin bermakna.
2. Tadarusan
Maksud hati sih ingin bisa One Day One Juz, tapi apa daya, yang bisa dicapai one week one juz. Tapi tak apa, yang penting rutin mengaji setiap hari. Bukankah ibadah yang Allah sukai adalah ibadah yang rutin dilakukan setiap hari meski hanya sedikit. Yang penting rutin.
3. Salat tepat waktu
Ini tantangan sekaligus kebahagiaan bagi saya saat saya bisa menunaikannya tepat waktu. Bergegas salat begitu azan berkumandang. Di kondisi sekarang, kadangkala baru saja berwudhu, bayi tidak mau ditinggal salat sebentar. Atau saat sudah akan salat, ia pup sehingga harus bersih-bersih dulu. Atau saat azan, saya tengah menyuapi bayi makan. Mau ditinggal, nanti malah tidak mau makan lagi. Banyak alasan? hiks...saya tidak berapologi.
4. Menyampaikan permohonan saat berbuka puasa
Ada hadits yang mengatakan berdoalah saat hujan dan saat berbuka puasa. Maka Allah akan mengabulkan doamu. Saya camkan hadits itu dalam hati. Jadi, hati dan mulut saya berbagi konsentrasi saat berbuka puasa. Masya Allah :)
5. Memperbanyak sedekah
Sebisa mungkin, baik saat lapang maupun sempit, usahakan tetap bersedekah. Bukankah dengan bersedekah Allah akan semakin membuka pintu-pintu rezeki kita? Sedekah takhanya uang, bisa banyak hal.Yang penting dilakukan dengan tulus dan ikhlas. Terlebih saat Ramadan, in sya Allah kasih sayang-Nya makin berlipat-lipat kepada kita.



Monday, June 25, 2018

Memilih atau Tidak, Proses Demokrasi Tetap Berjalan


www.ptotoday.com
foto : www.ptotoday.com

Pilkada serentak tahun ini menjadi gambaran kekuatan politik parpol untuk menyusun strategi pada pilpres tahun 2019 yang akan datang. Calon dari partai mana yang menang akan menjadi referensi bagi parpol bersangkutan untuk memetakan langkah-langkah politis parpol dalam berkoalisi.

Suhu politik yang memanas setahun terakhir ini menyebabkan semua orang tertarik bicara tentang politik. Yang dibicarakan tidak hanya seputar siapa cagub atau cawalkot pilihanmu, tetapi juga partai mana saja yang berkoalisi dan berpeluang menang di Pilpres 2019.  Di topik bahasan ini, Mak Umi memfokuskan pada cara kritis kita sebagai warga negara dalam memilih pemimpinnya.

Pemimpin yang dimaksud tentu tidak hanya presiden dan wakil presiden, tetapi juga gubernur, wali kota, bahkan ketua RT. Sebagai warga negara, kita harus cermat memilih sosok yang tepat. Ia harus amanah, cerdas, bersih, dan prorakyat. Itu kriteria sederhana yang saya ajukan sebagai warga negara.

Sebenarnya, jujur, saya agak apatis dengan kondisi politik negeri ini. Siapa pun pemimpinnya, ia takpernah bisa bebas dari titipan kepentingan partai politik yang mengusungnya. Hal ini memang suatu keniscayaan karena takada ketulusan dalam berpolitik. Politik takpernah bebas nilai. Pasti ada mekanisme balas budi jika tujuan terpenuhi. Ini yang lazim terjadi di dunia politik dan kita harus menerima itu.

Namun, seiring berjalannya waktu, kelaziman itu kok lama-lama menjadi pemandangan yang memuakkan bagi saya. Praktik balas budi kemudian berkembang menjadi praktik bagi-bagi kekuasaan. "Saya berjasa lho dalam kemenangan Anda. Jangan lupa posisi untuk saya."

Sebagai warga negara yang tak berdaya, saya hanya bisa geram setiap membaca berita atau mendengar kabar dari kawan-kawan jurnalis tepercaya tentang bunglon-bunglon politik di negeri ini. Saya takbisa protes langsung pada para petinggi partai pembuat keputusan. Yang bisa saya lakukan adalah lebih cermat mengenali orang-orang partai yang mencalonkan diri dalam bursa pilkada. Saya mempelajari rekam jejak mereka beserta program-program kerja yang ditawarkan.

Semakin saya mengkaji rekam jejak para calon, semakin saya tidak menemukan sosok yang pas di hati memimpin kota dan provinsi tempat saya berdomisili. Sebenarnya ada sih calon yang sedikit mengena di hati. Namun, setelah ditimbang berulang kali, kembali mengkaji rekam jejak mereka, hati saya menolaknya. Anyway, memang tidak ada yang sempurna. Mencari sosok pemimpin seperti Umar Bin Khattab di zaman sekarang ini kok rasanya seperti mencari jarum dalam jerami.

Harapan saya tidak muluk-muluk sebenarnya. Saya hanya ingin pemimpin yang bersih dari korupsi; punya sikap, dan berani membela kepentingan rakyat. Abstrak? Tidak. Susi Pudjiastuti memenuhi tiga kriteria itu di mata saya. Entah di mata yang lain. Biasanya sih yang punya sikap dan berani membela kepentingan rakyat adalah mereka yang nonpartai. Sementara, di negeri ini, jalan terlalu terjal tanpa bendera parpol. Ahok yang pede punya banyak pendukung saja akhirnya harus maju di bawah bendera PDI. Terlebih dengan aturan ambang 20% untuk mencalonkan presiden. Parpol-parpol makin giat sikut kanan kiri berkoalisi demi kekuasaan.

Akhirnya, di detik-detik terakhir pencoblosan, saya memilih tidak memilih. Meskipun mungkin suara saya dimanfaatkan pihak-pihak tak bertanggung jawab, biarlah. Saya pun takpeduli jika dinilai tak bertanggung jawab karena tidak berpartisipasi dalam menentukan nasib Bandung dan Jawa Barat lima tahun ke depan. Saya tidak ingin asal memilih atau malah mencoblos semua gambar di bilik suara. Lagi pula, memilih atau tidak memilih, proses demokrasi tetap berjalan.

Sama halnya dengan saling menghargai perbedaan pilihan politik, yang memilih dalam pilkada dan pileg, serta pilpres kelak harus juga menghargai mereka yang tidak memilih. Hal mahapenting dari kondisi ini adalah tidak saling menghasut dan tidak saling menghakimi. Mari saling menghargai demi Indonesia yang kita cintai.