Kamis, 12 April 2018

Dengan Aplikasi Antrean Qiwii, Antre Lebih Cepat dan Pasti

Patients in doctors waiting room in hospital, office interior clinic. Vector illustration
www.pixabay.com
Antrean apa yang ngga jelas kapan selesainya?
Antrean di dokter kandungan. Asli, itu saya alami sendiri. Pengalaman antre paling menyebalkan.

Untuk para bumil, pasti semua pernah merasakan betapa boringnya menunggu nama kita dipanggil. Bukan hanya ketidakjelasan kapan nama kita dipanggil, melainkan juga kedatangan dokter kandungan yang sulit dipastikan kapan ia datang.

Alhasil, kami harus duduk manis sambil elus-elus perut berharap sekaligus berdoa dokter segera tiba. Sebagian klinik atau rumah sakit ada yang menerima pendaftaran via telepon. Mekanisme itu sangat membantu bumil untuk menghemat waktu dan tenaga. Namun, setibanya di TKP, tetap harus menunggu dokter datang. Atau kalo dokter sudah datang, nomor yang dipanggil ternyata tidak urut. Ugh...itu menyebalkan sekali.

Saya mengalaminya di trimester pertama. Saya kira setelah daftar via telepon dan menerima nomor antrean, saya hanya akan antre 2-3 nomor saja. Ternyat tidak, Sodara-sodara. Waktu itu saya dapat nomor 11, kata resepsionisnya, giliran saya sekitar pukul 10.00. Pukul 10.30 saya tiba di rumah sakit itu. Setelah daftar dll., saya tanya sudah nomor berapa yang diperiksa dokter? Jawaban resepsionisnya bikin lesu,"Dokter Melinda belum datang. Tadi ada tindakan mendadak."

Olala...padahal saya izin masuk kantor pukul 13.00 karena harus periksa ke dokter dulu. Melihat gelagat bakal molor lama, saya izin datang ke kantor pukul 15.00. Asumsinya, ada rentang waktu cukup panjang untuk antrean hingga nomor 11.

Setelah urusan pendaftaran selesai, saya kembali ke ruang tunggu. Petugas pendaftaran mengingatkan saya agar tidak buang air kecil dulu agar saat USG, janin bisa terlihat jelas. Wah, ini lumayan repot karena saya kerap bolak-balik ke toilet untuk buang air kecil.

Sebelum benar-benar harus buang air kecil, saya kembali ke meja pendaftaran. "Mbak, bisa nggak saya didahulukan? Saya ingin buang air kecil."

Petugas pendaftaran langsung mengiyakan. Berhasil deh saya masuk ke ruang periksa. Yah, meskipun harus menunggu lagi sekira sepuluh menit, tak apa. Yang penting giliran saya sudah di depan mata. Kata suami, "Ini sih manajemen psikologis pasien. Biar pasien tenang dipanggil masuk ke ruang periksa. Padahal sama aja suruh nunggu lagi."

Akhirnya pukul 14.00 saya keluar dari rumah sakit. Selanjutnya, karena tidak mau mengantre tanpa kepastian semacam itu, saya pindah ke klinik lain. Eh, ternyata begitu juga. Di klinik ini malah tidak boleh daftar via telepon. Harus datang langsung untuk ambil nomor antrean. Di titik itu, saya sering gagal dapat nomor antrean awal.

salah satu infografis peserta lomba (doc.nuesto)
Kebetulan, kliniknya dekat kantor. Saya pernah ambil nomor antrean pukul 10.00 dan dipanggil pukul 16.00. Luar biasa kaan masa tunggunya? Untung dekat kantor. Jadi tidak banyak waktu terbuang karena harus menunggu enam jam. Ampun dah!

Pengalaman pahit mengantre membuat saya enggan setiap kali harus ke dokter. Antrean ini saya alami juga saat periksa ke dokter umum dan dokter gigi. Panjang, lamaa, dan kadangkala tanpa kepastian kapan giliran saya dipanggil. Menghitung jumlah pasien yang duduk di ruang tunggu sambil menduga-duga, "Abis ibu kerudung pink, trus bapak berkacamata, abis itu mbak modis, baru saya."

Saya berpikir seandainya ada cara efektif untuk mengatasi masalah antrean periksa dokter kandungan, tentu itu akan membahagiakan ibu-ibu hamil di negeri ini. Kami tidak harus berpayah-payah mengantre berjam-jam. Sakit pinggang, lelah, pusing, dan sebagainya mewarnai saat-saat mengantre. Padahal bumil harus bahagia terus supaya janin juga bahagia. :)


Pikiran yang melintas itu ternyata jadi kenyataan. Empat belas bulan kemudian, tepatnya hari Jumat, 6 April 2018, ada peluncuran aplikasi antrean Qiwii untuk semua industri di SBM ITB. Nama aplikasinya adalah qiwii. "Pendek saja supaya simple dan mudah diingat," jelas Nurfaridah dari PT Nuesto Technology, perusahaan yang mengembangkan aplikasi Qiwii.

Soft launching ini berbentuk acara seminar, presentasi tentang aplikasi Qiwii dan juga pengumuman lomba infografis dengan tema permasalahan antrean. Seminar yang bertajuk How Waiting Online Make Your Time Management More Effective ini diisi oleh empat pembicara. Tiga pembicara merupakan pelaku bisnis, yakni Muslim Pratama sebagai owner dari Wagoon Cafe, Ismail Marjuki sebagai owner dari Boys Barbershop, dan Indira Sulistiyanti sebagai Manajer Biya Salon Muslimah. Pembicara lain adalah Nurfaridah sebagai Manajer Produk Qiwii.

Seminar Soft Launching Qiwii

penyerahan hadiah bagi para pemenang lomba infografis

Qiwii hadir untuk memudahkan konsumen agar bisa mengantre secara online. Aplikasi ini diharapkan dapat memangkas waktu tunggu dan memastikan waktu tunggu yang jelas untuk setiap konsumen. Tidak hanya bekerja sama dengan kafe, salon, dan barbershop, Qiwii juga sudah bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Kota Bandung. Hasil dari kerja sama ini adalah digunakannya Qiwii sejak tahun 2016 sebagai aplikasi antrean di 4 puskesmas dan 1 rumah sakit di Kota Bandung. Empat puskesmas itu adalah Puskesmas Garuda, Puskesma Sukarasa, Puskesmas Pagarsih, Puskesmas Ibrahim Adjie. Sementara rumah sakit yang sudah menggunakan Qiwii adalah Rumah Sakit Al Islam.

Wah, baru tahu saya. Ternyata Puskesmas Garuda sudah pakai Qiwii. Terakhir saya ke sana untuk imunisasi bayi saya, masih antre manual. Kapan-kapan saya coba pakai Qiwii kalau ke sana lagi. Qiwii benar-benar inovasi yang manfaatnya langsung bisa digunakan masyarakat. Siapa sih yang tidak ingin antre dengan nyaman dan menyenangkan? Estimasi waktu yang disediakan di Qiwii membuat customer bisa mengatur waktunya lebih efektif.
doc.nuesto
















Kehadiran Qiwii diharapkan bisa menjadi solusi permasalahan antrean di berbagai industri. Untuk itu, para pemilik bisnis di Bandung bisa mendaftarkan usahanya di aplikasi antrean ini secara gratis. Semua pemilik bisnis bisa menggunakan aplikasi Qiwii, mulai dari salon, barbershop, foto studio, kafe, rumah makan, klinik, rumah sakit, bengkel, carwash, dan juga tempat wisata

Karena kepuasan pelanggan adalah masa depan yang cerah bagi kelangsungan suatu usaha. Betul apa betul? Jadi, tunggu apa lagi? Yuk,  kita unduh aplikasi Qiwii-nya. Hidup lebih mudah dengan Qiwii . 

















Sabtu, 31 Maret 2018

Lima Alasan Saya Sulit Move On dari Restoran Royal Kashimura Shabu



Hari Sabtu, 24 Maret lalu, saya bersama teman-teman blogger berkesempatan datang ke acara launching restoran masakan Jepang baru. Restoran ini berlokasi di jalan Lombok nomor 45, Bandung. Namanya Royal Kashimura.

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Masakan Jepang adalah favorit saya. Saat diberi kesempatan datang ke launching restoran Jepang, ini sesuatu banget. Hati saya senang bukan kepalang.

 Jadi, meskipun pagi itu cuacanya mendung. Belum lagi angin bertiup lumayan kencang, membuat badan saya yang sedang meriang makin terasa panas dinginnya. Namun, semua tidak berarti apa-apa. Mengapa? karena Royal Kashimura Shabu mengobati semuanya.

Ini lima alasan saya untuk kembali datang lagi dan lagi ke Royal Kashimura Shabu :

1.  Semua produk makanannya dijamin HALAL

     Jujur, selama ini saya sangat berhati-hati dengan masakan Jepang. Meskipun saya tergila-gila pada sushi dan shabu, saya tetap takbisa sembarangan memutuskan restoran Jepang yang akan saya kunjungi. Saya harus mencari informasi kehalalan produk makanan yang disajikan. Kalau belum ada sertifikat dari MUI, saya skip aja deh.

GM Royal Kasimura Shabu, Yanto Riyanto, berkemeja biru
   Nah, saat pengenalan restoran, GM Royal Kashimura Shabu, Yanto Riyanto, menjelaskan semua bahan makanan yang digunakan di restoran ini dipasok dari supplier yang sudah bersertifikat halal. Hati saya lega dan bahagia mendengarnya. eaa...

2. Bahan makanannya berkualitas alias segar dan sehat.

sayuran segar mengundang selera

buah-buahan pembuka


bakso ikan, udang, kepiting, dsb.



aneka saus dan pelengkap shabu
3. Harga terjangkau

Pada soft launchingnya ini, harganya murah banget. Hanya dengan Rp 109 ribu, kita bisa nyabu sepuasnya. Nyabu yang ini halal dan sehat. Dijamin nagihnya ngga nyusahin kantong dan kesehatan kita. Ciyus!

Masa promo ini berlangsung mulai tanggal 24 Maret 2018 sampai dengan 1 April 2018. Seminggu memang sekejap. Makanya, harus dimanfaatkan semaksimal mungkin. Seru kali ya, selama seminggu ini, maksinya ke Kashimura. hahaha...

Nah, mulai 2 April mendatang, harga yang berlaku ada di daftar menu di bawah ini :


baca teliti sebelum membeli ya,guys :)

4. Tempatnya luas & instagramable


halamannya aja luas, gimana bagian dalamnya ya?



Mulanya, saya mengira restoran baru ini halamannya mungil saja. Ternyata di luar dugaan, Halamannya luas. Ini tentu memudahkan pengunjung memarkirkan kendaraannya.

Melangkah ke dalam restoran, saya dan teman-teman blogger dibuat kagum oleh desain interior ruangannya.




Tak habis-habis kami abadikan setiap sudut ruangannya. Mulai dari penataan kursi,meja, hiasan dinding hingga perpaduan warna di setiap ruangan semua memikat hati. Instagramable banget deh

interior favorit saya
smoking room di balkon.
lantai 1 





salah satu sudut di lantai 1

suasana di lantai 2


See? keren banget kan ruangan-ruangannya? keren dan luaas. Ada gazebonya juga di luar ruangan. Saya nggak sempat memotretnya karena waktu itu gazebo-gazebonya masih dibereskan, belum siap dipakai. Dari penjelasan General Manager Kashimura, restoran ini menyediakan 397 kursi. Ratusan kursi lho!

5. Lokasi mudah diakses

Jalan Lombok 45 gampang dicari. Mau pakai kendaraan pribadi, pakai ojol atau taksi online, bahkan pakai angkutan umum pun, nggak susah cari lokasi Kashimura Shabu. Oh ya, angkutan umum yang lewat persis di depan resto ini adalah Sthall - Sadang Serang. Jadi, patokannya kalau mau pulang atau datang, bisa dari Stasiun Bandung. Bangunannya yang besar dengan lapangan parkir yang luas memudahkan pengunjung menemukan tempat ini.

Yuk rame-rame ke Royal Kashimura Shabu ^^

Senin, 19 Maret 2018

NIkmatnya Sambal Nusantara, Inovasi Terbaru Hokben untuk Keluarga Indonesia


"Panta Rhei, Yang Abadi Adalah Perubahan," kata Herakleitos, filsuf Yunani Kuno ratusan ribu tahun silam. Pernyataan itu memang terbukti benar. Tak ada yang luput dari perubahan. Jika ingin survive, kita harus mau berubah. Itu adalah pernyataan yang mengikutinya.

Perubahan terjadi pada siapa pun dan apa pun. Terlebih di zaman serbacepat seperti sekarang ini. Ketika teknologi informasi menggenggam dunia, kita sebagai penduduk dunia mau tidak mau harus menerimanya. Nah, dari milyaran penduduk dunia, kelompok mana yang paling tanggap mengikuti perubahan?


Tiga menu baru dari Hokben
Dunia usaha, jawabannya. Mengapa? Karena loyalitas konsumen berbanding lurus dengan inovasi.

Hokben sebagai salah satu pelaku usaha di bidang kuliner membaca mekanisme itu. Seperti yang disampaikan Mbak Kartini Mangisi, ComDiv Head Hokben, selama 33 tahun usia Hokben, sudah banyak inovasi yang dilakukan. 

Dari sekian banyak inovasi itu, rebranding Hokben adalah salah satunya. Rebranding Hokben bisa dilihat pada mural yang ada di jendela Hokben. Mural juga bisa dilihat di logo besar yang ada di pintu masuk di Hokben Paskal 160. Mural Hokben itu menggambarkan kehangatan keluarga, keramahtamahan, persahabatan, saling menghargai, dan kebanggaan (parent and kid, welcoming hello, friendship, respect, and pride).

Gambar kecil-kecil warna kuning di bagian bawah itu adalah mural Hokben 
Inovasi terbaru yang diperkenalkan Hokben kepada masyarakat Indonesia adalah sajian sambal khas Nusantara sebagai pelengkap sajian utama dalam menu Hokben. Sambal ini menggantikan mayonaise dalam menu Hokben Suka 1, Hokben Suka 2, dan Hokben Suka 3. Ada tiga jenis sambal yang bisa dinikmati para pecinta pedas, yaitu sambal matah, sambal bawang, dan sambal hijau. 

Kalau kamu pecinta pedas, kamu wajib coba sambal matah. Pedasnya mantap, bikin lidah terbakar, tapi nagih. Sambal bawang juga tidak kalah garang pedasnya. Nah, buat kamu yang nggak terlalu suka pedas, tapi suka nyicip dikit-dikit masakan pedas, sambal hijau cocok nih.


Misalnya kalau kamu merasa sambalnya kurang banyak, kamu bisa nambah sambalnya. tiap sambal dibanderol Rp 5000,00/bungkus. Jadi, bisa di-mix-kan dengan paket Hokben yang lain. Dicampur mayonaise rasanya seru juga kali ya?


Berlokasi di Hokben Paskal 160, Hokben pun mengundang Blogger Bandung untuk mencicipi tiga menu baru Hokben dengan sambal Nusantara. Sebelum icip-icip menu baru, Fanny Natalia sebagai pemandu acara mengajak Blogger Bandung bermain dalam beberapa games berhadiah voucher dari Hokben.

ini para pemenang games, kompetisi kultwit, dan posting foto di IG
Selain games penambah seru acara, ada juga kompetisi kultwit dan posting foto di Instagram.

Baru di acara ini, saya semangat banget ikut kompetisi kultwit dan posting foto di IG.  Ada dua foto yang saya unggah di IG dan sepuluh cuitan saya di Twitter. Sayangnya, Dewi Fortuna belum datang pada saya. Sepertinya saya harus serius belajar copy writing deh :-D
 
Sepanjang acara, kami tidak hanya menikmat menu Hokben Suka yang lezat dan sensasi rasa sambalnya, tetapi juga suasana Hokben Paskal 160 yang nyaman. Cocok banget untuk kumpul keluarga, rapat kecil, atau sekadar kongkow bareng teman-teman.







Acara di hari Selasa, 13 Maret 2018 ini seru banget pokoknya. Selain launching inovasi baru dari Hokben, ada juga sesi berbagi ilmu pembuatan Vlog dari Kang Ali Muakhir. Games sudah, penyerahan hadiah untuk pemenang kompetisi kultwit dan posting foto di IG sudah, makan-makan juga sudah. Yang belum apa yaa? foto-foto dong ^^

Acara pun ditutup paripurna dengan foto bersama di bawah logo keren Hokben. Blogger Bandung pulang dengan hati senang, perut kenyang, dan lidah kepedesan. Semoga Hokben semakin dicintai keluarga Indonesia. Apalagi di tahun 2017, Hokben sudah memeroleh sertifikat sistem jaminan halal dari MUI. Sertifikat itu berlaku selama empat tahun. Maju terus Hokben, semakin inovatif dan semakin enaak makanannya :)




Terima kasih Hokben ( dok. Efi Fitriyyah)














Kamis, 08 Februari 2018

Perjalanan Mencari Esensi Kehidupan




www.pixabay.com

Seorang sahabat lama yang belasan tahun menghilang, tiba-tiba mengontak saya. Tentu saja saya gembira sekaligus terkejut menerima teleponnya. Keterkejutan saya semakin menjadi mendengar kisah hidupnya selama kurang lebih sebelas tahun terakhir. Ia menghilang karena sibuk dengan perjalanannya mencari Tuhan.

Perjalanan mencari Tuhan tidak dialami oleh semua orang. Pun saya, yang notabene lulusan filsafat. Karena saya lulusan filsafat, saya merasa setengah diri saya adalah filsuf. Klaim yang sombong. hehehe...Meskipun mengklaim setengah diri saya adalah filsuf, saya tetap membatasi diri ketika masuk hutan belantara pencarian Tuhan.

Sedikit intermezzo, berbulan-bulan lalu, saya bermimpi berdiskusi dengan seorang teman. Saya lupa persis isi diskusinya. Yang masih kelas saya ingat adalah pertanyaan teman saya,"Gimana kalau nggak ada jalan keluar?"
Di mimpi itu dengan mantap saya menjawab,"Kan ada Allah."


Saat bangun, saya langsung kagum sama diri sendiri. Di alam bawah sadar pun, saya sudah religius. Halah. Lebay yak? Hahaha...Anyway, kalimat penuh keyakinan di mimpi itu pula  yang membuat saya semakin yakin pada keyakinan saya terhadap eksistensi Tuhan. Meskipun saya tidak melakukan pencarian yang radikal seperti sebagian teman-teman, hati kecil saya juga mencari. Bedanya pencarian yang sangat hati-hati. 


Saya tidak berani membiarkan diri saya ada di hutan belantara pencarian ketuhanan. Hasilnya memang berbeda dengan teman-teman yang mencari dengan pembebasan sebebas-bebasnya. Apa sih pembebasan sebebas-bebasnya? Contoh sederhananya ia melepaskan keyakinannya, melepas atribut yang selama ini menjadi identitasnya, dan sebagainya.


Saya akui, saya tidak seberani itu. Meskipun di bangku kuliah, porsi belajar tentang esensi segala hal dalam kehidupan jauh lebih besar dari teman-teman yang hanya belajar Filsafat di semester 1 dan 2. Proses pencarian saya pun tidak dimulai saat belajar Pengantar Filsafat di semester 1. Atau saat  mengupas teori-teori dasar pemikiran para filsuf di zaman Socrates, Plato, dan Aristoteles. 


Saya masih bergeming saat Mazhab Frankfurt menggoncang pemikiran sebagian teman-teman. Atau saat Baudrillard dan teori simulakranya menjangkiti keyakinan sahabat-sahabat. Bahkan saat Nietzsche bilang,”Tuhan sudah mati,” saya tidak peduli.  Atau ketika Marx bilang,”Agama itu candu, saya tetap membutuhkan agama.  Saya pun tidak terlalu peduli dengan Foucault  yang sempat membuat teman-teman terkagum-kagum. Selama lima tahun berguru di fakultas Filsafat, filsuf yang sangat berkesan di hati hanya dua : Immanuel Kant dengan Imperatif Kategoris-nya dan Ludwig Wittgenstein dengan Language Games-nya.


www.pixabay.com
Hingga hari ini, saya masih berpegang pada pemikiran Kant, “Lakukan kebaikan karena kebaikan itu sendiri bukan karena imbalan atau alasan lain.”  Sementara pemikiran Wittgenstein yang menjadi pegangan hingga hari ini,”Apabila tidak bisa dibicarakan lagi, lalui dengan diam.”


Dari pemikiran kedua filsuf itu, saya tarik benang lain yang mengikat dua pemikiran itu. Benang pengikatnya saya ambil dari pemikiran Nietszche,”Apa pun yang tak membuat kita mati, akan menguatkan kita.” Yup, saat kita merasa sakit dengan kondisi yang tidak nyaman, tetapi kita harus tetap berbuat baik dan dalam kesulitan itu,kita takpunya lagi daya untuk menyampaikan ketidaknyamanan dengan kata-kata, diam menjadi jalan terbaik. 


Itulah yang tersisa dari perjalanan saya selama nyantri di fakultas Filsafat. Lalu, bagaimana dengan pencarian esensial yang sangat khas dengan mahasiswa Filsafat? Pencarian eksistensi Tuhan; pencarian keyakinan yang benar. Jujur, saya tidak terlalu melibatkan diri dengan dua hal itu. Saya lebih fokus pada filsafat manusia. Pada esensi kemanusiaan bukan pada eksistensi Tuhan. Meskipun sebenarnya eksistensi itu akan dipertanyakan saat kita bicara kemanusiaan. Kegelisahan yang menyebabkan Nietszche bilang,"God is dead."


Saya menerima apa adanya yang sudah melekat pada diri saya. Meskipun pada setiap diskusi Filsafat saya bisa berbusa-busa bicara tentang dua hal itu, saya menempatkannya cukup pada keliaran berpikir saja. Tidak saya biarkan masuk terlalu jauh ke dalam hati dan jiwa saya. Saat sahabat lama saya bercerita betapa ia jatuh bangun mencari hal esensial dalam hidupnya sehingga ia nyaris berpindah agama, nyaris putus asa dengan hidup yang sudah dijalaninya, pikiran nakal saya bilang,"Untung dulu saya nggak seserius itu cari Tuhan dan mempertanyakan Islam."


Saya sempat bertanya tentang Tuhan setelah menikah. Saya bertanya,"Apakah Tuhan adalah waktu? Karena di setiap proses kehidupan manusia, selalu ada pernyataan,"Waktu akan menyembuhkan segalanya."  Atau ada juga pernyataan,"Akan indah pada waktunya."


"Apakah Tuhan adalah waktu? Atau apakah Tuhan mengirimkan segala sesuatu lewat waktu? Jadi, apakah waktu itu?" mbulet yak? hehehe...


Seorang senior yang baik hati, saya menyebut dia sebagai mentor saya, menyarankan saya membaca buku Heidegger. Ia seorang filsuf sejarah. Bukunya berjudul Being and Time. Heidegger menjelaskan panjang lebar tentang hubungan antara Yang Ada dan perjalanan waktu. Saya akan menulis tentnag buku ini di tulisan lain. Buku yang rumit, tersendat-sendat saya berusaha memahaminya. Betul memang. Kita tidak bisa sendirian dalam pencarian. Butuh Mentor, dia yang akan membimbing dan menjadi kawan diskusi hingga pertanyaan-pertanyaan terjawab.


Nah, sayangnya, tidak semua pencarian berhenti dengan happy ending. Seorang teman berhenti mencari setelah taksanggup lagi berdampingan dengan kanker otak yang dideritanya. Sahabat lama saya ini berhenti mencari setelah ia bercerai. Teman lain berhenti mencari setelah pindah keyakinan, teman yang lain berhenti mencari setelah orangtuanya meninggal dan sang kakak sakit jiwa.


Duh, kok banyak yang mengerikan ya? Tenang, yang berhenti mencari tanpa ada tragedi pun banyak kok. Yang pasti sih, berani mencari, berani terima konsekuensi. 


Senin, 18 Desember 2017

Gathering Netizen MPR, Ketua MPR Serukan Persatuan Bangsa




Gathering Netizen MPR RI Desember ini berbeda dengan Gathering  Netizen  MPR RI Mei lalu. Apa saja perbedaannya? Pertama, acara berlangsung lebih singkat. Acara dimulai pukul 14.00 dan berakhir secara formal sekira pukul 17.00. Di bulan Mei lalu, acaranya berlangsung seharian, sejak pukul 09.00 hingga pukul 15.00. Kedua, ini yang paling menarik. Acara tidak dibuka dengan pemaparan lebih dahulu dari Ketua MPR sebagai pembicara tunggal. Pak Ketua, begitu Zulkifli Hasan meminta Blogger BDG memanggil dirinya, membuka acara dengan memberi kesempatan pada Blogger BDG untuk menyampaikan uneg-uneg mereka  tentang apa saja. 


foto: parmadi
Kesempatan emas ini tentu saja dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh saya dan teman-teman dari Blogger BDG. Berbagai pertanyaan dan pernyataan disampaikan kepada Pak Ketua. Mulai dari keluhan tentang langkanya tabung gas 3 kg, persoalan sampah, curhat politik perkawanan, harapan adanya undang-undang yang jelas tentang perbukuan dan kesejahteraan penulis, masalah korupsi, SARA, dan lain sebagainya. Diskusi gayeng pun terbangun. Respons Pak Ketua terhadap antusiasme netizen pun menyenangkan. Serius, tapi santai.


Dalam setiap jawabannya, Zulkifli Hasan menekankan pentingnya kesadaran. "Kesadaran itu penting," tegas Zulkifli Hasan. Seharusnya setiap orang mempunyai kesadaran dalam menjalani perannya sebagai warga negara. Dengan kesadaran itu, setiap warga negara Indonesia pasti bisa memahami dalamnya makna Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan bangsa. 


Roadshow gathering Netizen di beberapa kota di Indonesia merupakan salah satu upaya
suasana saat gathering (foto : dedew)
MPR untuk memasyarakatkan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika. Acara ngobrol bareng MPR ini penting untuk mengajak netizen berkontribusi dalam upaya mempertahankan persatuan dan kesatuan Indonesia. Wih, segenting itukah kondisi negara kita?


Genting atau belum seharusnya tidak dijadikan parameter untuk membangun kesadaran kolektif rakyat Indonesia menjaga keutuhan bangsa. Kita bisa becermin pada Pilpres 2014 silam atau Pilkada Gubernur DKI yang menggoncangkan sosmed akibat perseteruan dua kubu. Perseteruan itu sayangnya takselesai saat pilpres dan pilkada usai. Perseteruan masih berlanjut hingga hari ini meskipun tidak sepanas dulu. Perseteruan itu serupa api dalam sekam; serupa bom waktu. Bisa meledak kapan pun jika kita sebagai rakyat abai terhadap kesadaran kolektif bahwa negeri ini dibangun dari keragaman latar belakang sosial geografis.

Baca : Mari Menjaga Indonesia

Kesadaran itu pula yang seharusnya menjadi panglima bagi pola pikir dan perilaku setiap manusia Indonesia. Mengapa demikian? Saya teringat cerita Pak Jokowi tentang pesan dari Presiden Afghanistan yang dimuat di harian Kompas. "Hati-hati negaramu, hati-hati negaramu. Di Afghanistan hanya ada 7 suku, negaramu memiliki 714 suku. Kurang lebih 30 tahun lalu, dua suku bersengketa. Karena tidak ditangani dengan benar, hingga hari ini sengketa itu berubah menjadi peperangan yang sulit didamaikan." (Kompas, Oktober 2017)

Jika tidak ada yang menjaga kesadaran kolektif betapa beragamnya Indonesia, tidak mustahil nasib Indonesia akan sama seperti Afghanistan. Saya ngeri membayangkannya. Perang merenggut segalanya. Kita bisa berkaca pada negara-negara di Timur Tengah; di Afrika. Tak ada yang tersisa kecuali kenangan buruk.  Karena itu, penting bagi rakyat Indonesia merawat negara bersama-sama. Perbedaan suku, agama, dan status sosial bukan halangan untuk tetap satu dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Blogger bisa menjadi cyber army
Di titik ini, di manakah peran MPR? MPR sebagai lembaga tinggi negara bertugas memasyarakatkan Pancasila, UUD NRI tahun 1945, NKRI, Bhinneka Tunggal Ika, dan Ketetapan MPR. Berdasarkan tugas itulah, roadshow gathering netizen diselenggarakan. " Visi utama MPR adalah menjadi rumah kebangsaan agar merah putih tidak terkoyak," jelas Ketua MPR RI, Zulkifli Hasan  menutup acara ngobrol santai sore itu.

Selasa, 05 Desember 2017

Sayangi Sampah, Lingkungan Menjadi Indah

Pada hari Minggu, 19 November 2017 lalu, Balitbang PUPR mengadakan acara di Car Free Day (CFD) Dago. Acara ini bertajuk Ciptakan Lingkungan Sehat dengan Inovasi Balitbang.

Sambutan dari Sekretaris Balitbang (dok.pribadi)
Acara ini dipusatkan di halaman Eduplex Dago. Ada panggung kecil, spanduk berdiri, dan meja informasi tentang hasil-hasil penelitian dan pengembangan yang dilakukan Balitbang PUPR.

Dalam sambutannya, Sekretaris Badan Litbang, Herry Vaza, mengatakan bahwa kegiatan ini perdana digelar di car free day Bandung. Dalam kegiatan ini pula, Balitbang sebagai badan yang bertugas melaksanakan penelitian dan pengembangan di bidang perumahan dan permukiman memperkenalkan teknologi seputar banjir, sampah, serta aspal plastik kepada masyarakat. Hal itu bertujuan untuk meningkatkan wawasan masyarakat terhadap inovasi yang telah dihasilkan oleh Badan Litbang PUPR.

Banyak hasil penelitian dan pengembangan yang sudah dilakukan Balitbang PUPR. Pada acara di hari Minggu lalu, hasil-hasil itu bisa dilihat di pamflet yang bisa diperoleh di meja informasi. Bahan utama dari penelitian dan pengembangan itu adalah sampah. Sampah yang selama ini dipandang tak berguna, Balitbang bisa mengolahnya menjadi produk-produk yang bermanfaat bagi kehidupan masyarakat. Di sinilah peran ilmu pengetahuan menyejahterakan manusia.

Ada yang menarik dari ungkapan Sekretaris Balitbang, "1 kg sampah = 1 kg ikan". Kok bisa ya? Ternyata ungkapan itu merupakan simpulan dari menumpuknya sampah yang tidak terurus sehingga merusak lingkungan, mengancam kehidupan.

Sampah ternyata ada di perut ikan; di perut ayam. Kondisi yang mungkin tidak terbayangkan oleh sebagian besar orang. Karena pengelolaannya tidak tepat, sampah pun bertebaran di mana-mana. Wajar jika slogan dari sampah oleh sampah untuk sampah menjadi bagian dari kehidupan manusia.

Sebenarnya, citra slogan itu bisa diubah menjadi positif apabila kita mengetahui cara hidup berdampingan dengan sampah. Untuk itu, Balitbang melalui berbagai hasil penelitian dan pengembangannya mengenalkan kepada masyarakat tentang cara hidup berdampingan dengan sampah.

Menurut Balitbang, kesadaran substansial yang harus dimiliki adalah kesadaran mengelola sampah sejak dari dapur kita. Mengapa dari dapur? karena sampah terbanyak berasal dari dapur. Persentasenya saja sebesar 50%. 

Wawancara Blogger Bandung dengan Balitbang (dok.pribadi)
Langkah pertama yang bisa dilakukan adalah memilah sampah. Pisahkan sampah organik dan nonorganik. Sampah organik adalah sampah yang berasal dari makanan. Pasti banyak sisa nasi, sayur,buah, daging, dan masakan lain yang tidak habis dikonsumsi. Tempatkan sampah organik itu di kantong plastik yang sudah dialasi kerikil agar sisa-sisa airnya tertampung dibawah kerikil.

Oh ya, sebelum ditaruh di kantong plastik, pastikan kita memeras sisa-sisa makanan itu hingga tetesan airnya tidak mengalir lewat sela-sela jari kita lagi. Cara menuntaskan kandungan air ini bertujuan agar proses pembuatan kompos tetap bersih, tidak dikunjungi kecoa dan teman-temannya.

www.paktani.net
Sampah nonorganik adalah sampah yg terdiri dari plastik, kertas,botol,dan sebagainya. Tempatkan juga sampah nonorganik di kantong yang berbeda. Sangat baik jika kita pun memilah sampah-sampah nonorganik. Kantong-kantong plastik ditaruh di tempat yang berbeda dengan botol, bungkus-bungkus makanan lain.

Pemisahan jenis-jenis sampah nonorganik ini ada tujuannya juga. Bungkus-bungkus minuman dan makanan bisa diolah lagi menjadi tas, tempat tisu, dompet, dan sebagainya. Karena itu,agar mudah mengolahnya, bungkus-bungkus itu harus dibersihkan dari sisa-sisa makanan dan minuman yang ada di dalamnya.

Sementara itu, kresek alias kantong plastik diolah untuk hal yang lain. Ternyata kresek bisa diolah menjadi bahan campuran pembuatan jalan. Teknologi ini namanya teknologi tambal cepat mantap. Bersama aspal, kerikil, dan bahan lain, kresek berjasa menjadi bahan pembuat jalan.

Menurut Pak Tedy, Kasi Pelayanan Pengerasan Jalan, untuk 1 ton hotmix,dibutuhkan 3,6 kg kresek atau kantong plastik. Penggunaan kantong plastik juga mengurangi pemakaian semen dalam proses pembuatan jalan. Ternyata, 1 kg semen = 1 kg gas rumah kaca. Luar biasa.

Sejauh ini, sudah ada tiga daerah di Indonesia yang menggunakan kresek dalam campuran pembuatan jalan. Tiga daerah itu adalah Bekasi, Makassar, dan Bali. Di Bekasi, jalan aspal yang menggunakan kresek sepanjang 600 meter. Ternyata sebagian besar sampah kresek di tiga tempat itu didatangkan dari Bandung!

uji coba aspal plastik di Bekas (www,binamarga.pu.go.id)





Sampah, bagaimana pun tidak sukanya kita padanya, ia tetap ada. Ia bisa menjadi lawan atau kawan, tergantung cara kita mengelolanya.