Jumat, 14 Juli 2017

Produktivitas THR

Lebaran identik dengan Tunjangan Hari Raya (THR). Hal yang paling ditunggu banyak orang, baik anak-anak, remaja, dewasa, maupun manula.

Bagi anak-anak dan remaja, THR yang mereka terima bisa tak terduga jumlahnya. Bisa lebih besar dari ekspektasi awal, bisa juga sebaliknya, jauh lebih sedikit dari yang diharapkan. Tergantung tradisi keluarganya setiap merayakan Lebaran. Sementara bagi orang dewasa, khususnya yang bekerja, jumlah THR yang diterima biasanya sudah dipastikan. Tentu saja karena THR-nya biasanya satu kali gaji. Nah, berbeda dengan manula. Mereka yang pensiunan PNS atau purnawirawan, tentu berharap ada gaji ke-13 sebagai pengganti THR. CMIIW. Jika bukan pensiunan PNS atau purnawirawan, THR yang diharapkan biasanya dari anak-anak yang sudah mapan.

THR bagi saya bukan hal yang terlalu ditunggu karena tidak ada tradisi menerima atau memberi THR di keluarga kami. Semasa kanak-kanak, hanya adik ayah yang memberi kami THR. Nilainya tiap tahun beragam. Biasanya setelah menerima uang THR, kami bertiga membeli coklat silverqueen di toko dekat rumah. Tradisi membeli coklat itu yang mengesankan bagi kami.

Setelah menikah, saya pun tidak terbiasa membagikan uang THR pada ponakan dan sepupu. Kebetulan ponakan saya ada lima orang. Sementara sepupu saya ada kurang lebih dua belas orang. Sepupu-sepupu saya ini sebagian besar sudah beranjak dewasa saat saya menikah. Jadi, saya merasa takperlu membagi uang THR karena mereka sudah bekerja juga. Pelit ya?hehehe...




www.beritalima.com


Selain itu, perusahaan tempat saya bekerja pun tidak memberikan THR sesuai aturan yang berlaku. Tak ada uang THR sebesar satu kali gaji tiap bulannya. Perusahaan hanya memberikan uang THR ala kadarnya.  Besarnya pun taksampai 50% dari gaji kami. Hiks..sedih banget ya?

Anyway, kebijakan itu tidak menyurutkan kebahagiaan saya untuk merayakan Lebaran dengan suka cita. Jatah THR yang taksampai 50% dari gaji itu biasanya saya gunakan untuk membayar zakat, THR orangtua, dan modal berjualan coklat serta kacang mede. Saya berprinsip uang THR harus digunakan untuk kegiatan produktif dunia akhirat.


www. i-am-not-juliet.blogspot.com


Karena THR cairnya tidak tentu, tergantung keputusan manajer keuangan, biasanya saya pakai dana di pos lain dulu untuk modal berjualan. Saat uang THR sudah cair, saya kembalikan pinjaman modal itu. Alhamdulillah sudah empat tahun saya berjualan coklat dan kacang mede dengan memutar modal dari dana THR. Apa pun, berapa pun jumlahnya jika dikelola dengan bijak, in sya Allah akan bermanfaat.

Minggu, 04 Juni 2017

Mari Menjaga Indonesia



Dewasa ini, sejak media sosial menjadi media paling efektif menyampaikan gagasan, setiap orang menggunakannya sebagai buku harian. Mereka bisa bebas bercerita tentang apa saja. Bahkan saat mereka marah, mereka bisa menumpahkan unek-uneknya sesuka hati. Tanpa perlu menyaring atau mengkhawatirkan ada pihak-pihak yang tersinggung dengan unek-unek yang disampaikan.

Mulanya, unek-unek itu seputar urusan pribadi. Sebal pada si A, jengkel pada si B, dan lain-lain. Lambat laun, masalah politik dan ideologi pun mewarnai beranda media sosial. Analisis politik berubah menjadi hujatan dan makian. Hal itu bergulir bak bola salju hingga menimbulkan friksi di masyarakat.

Media sosial pun menjadi semakin ramai dengan status-status bersahutan. Suasana di dunia maya yang panas merembet ke kehidupan nyata. Pecahnya persahabatan, rusaknya persaudaraan, hingga hambarnya hubungan pernikahan akibat perbedaan pilihan politik. Ini makin lama makin mengkhawatirkan.

Ternyata, meskipun disebut-sebut sebagai salah satu negara demokrasi terbesar di dunia, masyarakatnya belum siap dengan keragaman. Padahal negeri ini disatukan oleh perbedaan. Para pendiri pun memilih semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang diambil dari kitab Negarakertagama sebagai semboyan pemersatu bangsa.

Berbagai informasi yang bertebaran di media sosial seringkali tidak disikapi bijaksana oleh sebagian masyarakat. Mudahnya membagi informasi tanpa disaring terlebih dahulu menimbulkan kecurigaan antarkelompok. Hal ini tentu membahayakan kerukunan dan ketertiban bangsa. Betapa mengerikannya jika negeri yang mulanya damai tenteram ini berubah chaos tak terkendali seperti di Suriah, misalnya.

Sebelum semua tidak terkendali, penting bagi lembaga-lembaga tinggi negara mempunyai cyber army. Cyber army ini bertugas menghalau informasi negatif dan menyadarkan masyarakat agar tak mudah terkecoh hoax. Bagaimana pun, tradisi literasi yang buruk akan memudahkan hoax masuk dan mencuci otak pembacanya.

Majelis Permusyawaratan Rakyat sebagai salah satu lembaga tinggi negara pun mengajak para blogger sebagai cyber army-nya. Bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional, MPR mengadakan gathering dengan netizen Bandung. Acaranya yang dihadiri Sekjen MPR dan para staf ini diselenggarakan di Hotel Novotel Bandung. Pada kesempatan itu, Sekjen MPR menekankan pentingnya warga negara memahami etika kehidupan berbangsa.

Suasana gathering MPR dan Netizen. dok.pribadi

Dalam Tap MPR RI Nomor VI/MPR/2001 tentang etika kehidupan berbangsa dijelaskan ada enam etika kehidupan berbangsa. Keenam etika itu adalah etika sosial budaya, etika politik dan pemerintahan, etika ekonomi dan bisnis, etika penegakan hukum yang berkeadilan, etika keilmuan, dan etika lingkungan.
 
Selain menjelaskan pentingnya etika kehidupan berbangsa, Sekjen MPR, Ma'ruf Cahyono, juga menekankan tentang empat pilar kebangsaan, yaitu NKRI, Pancasila, UUD 1945, dan Bhinneka Tunggal Ika. Empat pilar ini diharapkan dapat menjadi perekat dalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. 
Buku saku yang harus dipelajari agar paham Indonesia. dok.pribadi

Pilar-pilar ini menjadi cermin bagi masyarakat Indonesia dalam berinteraksi dengan sesama di dunia maya dan dunia nyata. Krisis multidimensi yang dialami bangsa ini sebenarnya bisa diatasi jika semua orang berhati-hati dalam menggunakan lidah dan tangannya agar tak menyakiti orang lain. Minimnya etika pergaulan menyebabkan banyak pihak saling menyakiti agar tampak lebih hebat, lebih keren, dan benar.

Jika kondisi saling menjatuhkan ini terus terjadi, Indonesia benar-benar ada di ambang kehancuran. Negeri ini bukan hancur akibat hantaman bom atau nuklir, melainkan tidak terkendalinya lisan dalam berkomentar. Hal sederhana yang bisa dilakukan untuk menjaga Indonesia adalah tidak menyakiti orang lain dengan lisan dan tulisan kita.


Minggu, 21 Mei 2017

PRUprime Healthcare Syariah Sebagai Investasi


 Apa yang Anda lakukan jika seseorang menawarkan produk asuransi? Apakah Anda akan meluangkan waktu untuk mendengarkan penjelasannya lebih dulu atau langsung menolak dengan berbagai alasan? 

 Beragam respons muncul saat agen asuransi menawarkan produk yang dinilai tidak berguna bagi sebagian orang. Mengapa demikian? Karena banyak orang yang belum paham atau belum sadar pentingnya asuransi sebagai investasi.

 Asuransi dianggap membuang uang. Sebagian orang lagi merasa tidak punya dana untuk disisihkan setiap bulannya. Ada juga yang menganggap berasurasi sama dengan mengkhawatirkan masa depan. Benarkah demikian? 

 Tentu anggapan tersebut keliru. Berasuransi bukan berarti khawatir terhadap masa depan, melainkan menyiapkan diri dalam menjalani masa depan. Kita takpernah tahu apa yang akan terjadi di kemudian hari. karena itu, berasuransi menjadi hal yang penting dan perlu.

 Berangkat dari pentingnya mempersiapkan masa depan, beragam asuransi ditawarkan kepada masyarakat. Semakin maju pemikiran masyarakat, semakin peduli mereka terhadap hukum-hukum yang berhubungan dengan asuransi. Untuk itu, di hari jadinya yang ke- 10 tahun, Prudential Syariah sebagai perusahaan asuransi terbaik di Indonesia pada tahun 2017 meluncurkan asuransi syariah yang dinamai PRUprime healthcare syariah.

Minggu, 14 Mei 2017

Tentang Ibu

Takbanyak kenangan manis yang kusimpan tentang ibu. Sebagian besar jejak yang tertinggal dalam ingatan tentang ibu adalah kebiasaan mengomel yang bagiku sangat menyebalkan. Takbanyak kenangan manis tentang perempuan yang telah bersusah payah melahirkanku puluhan tahun silam itu.

Kuakui, aku memang tidak dekat dengan ibu. Ingatan tentang kebersamaanku dengan ibu pun takbanyak. Bukan karena ibu sibuk bekerja, melainkan karena ibu lebih sering memarahiku ketimbang bersikap lembut seperti kisah-kisah tentang ibu yang sering kubaca.

Ada juga kenangan tentang betapa heroiknya ibuku saat aku sakit. Waktu itu aku duduk di kelas 2 SMP. Ibu menggendongku dari tempat praktik dokter sampai rumah karena aku takkuat berjalan. Kenapa ibu tidak memanggil becak waktu itu ya? Apakah karena ibu takpunya uang? Bisa jadi begitu karena ibu harus sangat cermat dan hemat mengelola keuangan setelah bapak meninggal saat aku duduk di kelas 1 SMP. Ingatan lain adalah saat ibu harus bersusah payah mengantar aku ke dokter waktu sakit bronchitisku kambuh. Kami harus naik turun angkutan umum dan melewati pasar yang becek juga ramai. Aku masih ingat ibu mengeluh karena harus mengalami perjalanan yang tidak nyaman. Kalau ingat itu, aku sangat berterima kasih pada ibu.

Jika kubuat perbandingan, kenangan tentang ibu lebih banyak tidak menyenangkan ketimbang sebaliknya. Sejak remaja, aku sering memberontak kepada ibu. Mengapa itu kulakukan? Karena ibu menikah lagi sepeninggal bapak. Itu hal yang wajar sebenarnya, tetapi bagiku tidak. Alasan utamanya karena bapak tiriku sudah beristri sebelumnya. Kedua kakakku dan adik tunggalku sebenarnya tidak setuju, tetapi mereka hanya diam dan tak berdaya dalam ketidaksetujuannya.

Pemberontakanku menimbulkan konflik antara aku dan ibu. Konflik yang membekas di hati hingga hari ini. Selain konflik yang disebabkan pernikahan ibu dan bapak tiriku, konflik-konflik lain muncul saat aku memilih sekolah dan melanjutkan kuliah. Mulanya ibu taksetuju dengan pilihan SMA-ku. Ibu pun taksetuju dengan pilihan perguruan tinggi negeri yang kuputuskan. Seiring berjalannya waktu dan kekerasan hatiku, akhirnya ibu menerima pilihanku. Perjuangan yang menguras energi, termasuk cucuran air mata saat aku keukeuh memilih sekolah dan perguruan tinggi tertentu sebagai tempatku menimba ilmu.

Ternyata perbedaan pendapat pun masih berlanjut pada keputusanku menikah saat kuliah. Ibu menentangnya. Namun akhirnya ibu melunak. Ibu mengizinkanku menikah setelah aku diwisuda. Ini sangat berbeda dengan ketetapan ibu sebelumnya. Semua anaknya boleh menikah jika sudah bekerja. Ternyata kegigihan bisa mengubah keputusan.

Seruwet apa pun konflikku dengan ibu, ibu takpernah meninggalkanku. Ibu selalu ada dalam setiap peristiwa kehidipan yang kualami meskipun tak terlibat secara spiritual. Maksudnya, ibu bukan tempatku mencurahkan semua keluh kesah saat kesulitan menimpaku. Ibu selalu ada membantuku,meringankan bebanku secara fisik dan itu sebenarnya pun sangat membantu.

Saat aku ada di masa transisi pasca perceraian. Ibu membantuku menjaga anakku yang masih balita; mengurus semua keperluannya karena aku harus bekerja di luar kota. Ibu takpernah melihatku menangis sedih dalam kondisi sesulit apa pun. Ibu hanya tahu aku sedang dalam kesulitan lalu ibu membantuku menyelesaikan urusan sehari-hari. Dan mengingat semuanya sekarang, aku sangat berterima kasih pada beliau.

Mungkin benar simpulan tentang hubungan antara ibu dan anak perempuan yang takpernah mulus. Selalu ada perbedaan, ada konflik, tapi saling membutuhkan. Hm..bukankah warna serupa juga dialami dalam hubungan antara ayah dan anak perempuannya, ibu dan anak laki-lakinya? Entahlah . . .
Di usiaku yang sudah semakin dewasa ini, aku semakin sering merenungi peran ibu dalam hidupku. Aku pun mengurai ingatan tentang ibu semasa kecil, remaja hingga dewasa. Banyak kenangan pahit tentang ibu yang sulit kuhapus karena beberapa kenangan itu menyebabkan kerumitan bagi keluarga kami juga -mungkin- kesedihan panjang di hati ibu saat ini. Namun, setelah begitu banyak hal yang ibu lakukan untukku, aku sangat menghargai ibu. Meskipun masih banyak ketidaksepakatanku terhadap keputusan-keputusan yang ibu buat, sudah waktunya aku memaklumi itu.

Usia ibu sudah kepala enam. Tak elok jika aku tetap keras kepala menentang beliau. Keinginan ibu agar kami tinggal di rumah sepeninggal bapak tiriku memang tidak serta-merta langsung kusetujui. Aku harus membicarakannya dengan suamiku. Sementara, cukup banyak juga ketidaksepakatannya terhadap keputusan-keputusan ibu. Aku sadar sudah bukan waktunya aku keras kepala seperti belasan tahun silam. Sudah waktunya aku memaklumi ibu dan menemani beliau di usianya yang sudah lanjut ini. Meskipun beliau masih super aktif, aku harus bersiap dengan kondisinya yang mungkin bisa menurun drastis kelak. Menemaninya dan merawatnya.

Membayangkan ibu kelak tak berdaya karena usia tuanya membuatku sedih dan ingin memeluknya . .

Selasa, 13 Desember 2016

Makna Headline bagi Kompasianer

Lama sekali saya tidak menulis di kompasiana. Saking lupanya, saya tidak ingat kapan terakhir menulis di sana. Seperti yang lain, ide menulis sebenarnya kerap muncul, tapi eksekusinya yang sering gagal. Akibatnya, ide-ide itu menguap tanpa bekas. Yang tersisa hanya sisa-sisa kata yang taktahu bagaimana merangkai alurnya. 

Mulanya saya sangat semangat menulis tentang kemenangan Trump di Pilpres Amerika November silam. Namun, kesempatan fokus menulis yang tak kunjung disempatkan membuat ide berikut gambaran tentang alur tulisan itu menguap pelahan hingga hilang. Akhirnya, ya sudah, tak ada ide menarik lagi untuk ditulis. Saya agak menyesal sebetulnya karena momentum menulis tentang Trump saat itu sedang hangat-hangatnya. Di koran langganan saya, hampir tiap hari opini yang dimuat bicara tentang Trump dari berbagai sudut pandang. Saya memang tidak atau lebih tepatnya belum berencana mengirimkan tulisan itu -kalau sudah jadi- ke media cetak. Cukuplah saya posting di Kompasiana. Mengapa Kompasiana? Karena saya yakin tingkat keterbacaannya. Kalau di blog pribadi, bisa jadi hanya saya yang membaca. Kebetulan di blog baru ini, saya belum punya follower yang akan membaca setiap tulisan yang saya posting.

Saat label penistaan agama mengemuka, saya belum tertarik menuliskannya. Saya merasa belum punya cukup referensi untuk menyoal pembahasan itu. Ketika masalah makin memanas, saya masih menjadi pengamat yang diam. Ternyata kasus itu menimbulkan reaksi dahsyat yang direalisasikan dalam aksi 411 dilanjutkan 212. Meskipun pada 411, ada kerusuhan di malam harinya, aksi 411 dinilai berjalan tertib dan damai. Begitu pula aksi 212, takhanya tertib dan damai, tetapi juga tak ada sampah berserakan yang tertinggal. Maka tak heran, jika banyak pihak terlebih saudara-saudara yang terlibat langsung dengan aksi itu berucap, "Masya Allah..." Ada keharuan luar biasa saat mengikuti aksi dan meninggalkan lokasi aksi. Ada kebahagiaan, kebanggaan, dan mungkin keimanan yang bertambah sekian persen di hati masing-masing. Wallahualam....

Namun, ketertiban dan kedamaian di dunia nyata tak berhasil mendinginkan panasnya dunia maya alias media sosial. Berbagai komentar penghakiman, komentar caci maki, hinaan, dan sebagainya yang membakar hati dan memerahkan telinga berlalu-lalang di beranda. Ada yang meresponsnya dengan takkalah sengit, ada yang mendiamkan, bahkan ada pula yang langsung memutuskan pertemanan. Berbagai reaksi di media sosial makin lama makin mengkhawatirkan. Kekhawatiran itu membuat saya ingin menulis lagi. 

Kekhawatiran yang tidak hanya dilatarbelakangi kasus penistaan agama, tetapi juga beberapa peristiwa terakhir yang berlatar agama. Penghentian ibadah KKR di Sabuga dan permintaan diturunkannya spanduk Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) di Yogyakarta karena memasang foto mahasiswa berhijab. Keduanya dilakukan oleh ormas Islam dengan alasan-alasan yang bisa dibaca di media massa lalu dibumbui dengan beragam subjektivitas di status-status media sosial. 

Saat itu, 8 Desember 2016, saya hanya ingin menulis dan berharap ada yang sempat membaca tulisan saya lalu merenungkannya. Saya tak berharap ia akan masuk headline, terpopuler, atau mendapat nilai tertinggi. Kalau bisa masuk artikel pilihan, itu sudah bagus, pikir saya. Esok paginya, saya cek tulisan saya. masuk ke bagian mana? berapa banyak yang membaca? Betapa bahagianya saya pagi itu, tulisan saya masuk headline Kompasiana. Ciri tulisan masuk headline adalah admin Kompasiana akan menyisipkan capture gambar pada tulisan kita. 

Duluu, sekira tahun 2012, tulisan saya pernah masuk headline Kompasiana juga. Ada capture gambar yang ditambahkan adminnya. Perasaan saya senang sekali. Itu artinya, isi tulisan kita diakui berkualitas oleh Kompasianer (sebutan untuk pengguna Kompasiana). Parameternya, tulisan kita dibaca 900 orang sehingga bisa menjadi headline. Bagaimana caranya agar tulisan bisa masuk headline? dari yang saya amati , tulislah tema-tema yang sedang tren, yang masih sangat aktual, dan masukkan data ke dalamnya. Kecuali jika kita ingin menulis puisi atau cerpen, takselalu harus pilih tema aktual.

Saya mengetahui caranya, tetapi tidak selalu berhasil mempraktikkannya. Memilih tema dan menuliskannya tidak mudah, bagi saya. Harus ada alur logis yang terangkai dalam tulisan, ada data yang bisa dimasukkan agar tulisan kita menarik dan bernas. Untuk itu, bukalah mata, telinga, tajamkan hati, dan kemampuan logika kita untuk menganalisis masalah. Jika semua itu terasah, biasanya tulisan-tulisan kita akan bernas dan menarik dibaca. Itu pun nasihat sekaligus tips bagi saya sendiri 😊




 
 

Kamis, 01 Desember 2016

Renungan Kematian

Hari Minggu kemarin, saya dan keluarga menjenguk tetangga sebelah yang dirawat di Rumah Sakit Kebon Jati, Bandung. Karena terbiasa memanggil `Mbah`, setibanya di rumah sakit, mulanya saya bingung juga nama beliau saat bertanya pada satpam lokasi ruangan Bougenville tempat beliau dirawat. Setelah menelepon Ibu RT, akhirnya saya tahu nama beliau, `Ibu Supiah`. Duh, hampir dua tahun kami bertetangga, saya takpernah mengetahui nama beliau. Betapa saya tetangga yang payah karena terlalu sibuk bekerja.
Ruang Bougenville terletak di lantai 2 gedung ini. Saya baru dua kali menjenguk relasi di rumah sakit ini. Kali pertama kalau tidk aslah semasa SMP, waktu itu, saya bersama teman-teman sekelas menjenguk wali kelas kami. Bangunan rumah sakit ini kusam, terkesan tidak terawat. Kesan lain yang tertangkap adalah bagnunan ini seperti sedang direnovasi.  Semoga kesan kedua yang benar. Entah karena bangunan tua entah karena kusamnya, jika kelak terpaksa harus dirawat di rumah sakit, semoga dirawat di rumah sakit yang nyaman dan terawat baik.

Ruangan tempat Mbah Supiah dirawat ada di ujung lorong. Syukurlah lorong ini terbuka sehingga udara segar terhirup leluasa. Kamar 239 tertulis di bagian atas kusen pintu masuk. Ada empat tempat tidur di ruangan tersebut. Masing-masing tempat tidur dipisahkan tirai berwarna coklat. Saya mengecek empat tidur itu. Melihat pasien yang terbaring di atasnya. Adakah Mbah Supiah di sana? Ternyata Mbah Supiah ada di tempat tidur pertama dekat pintu masuk. Tubuhnya sangat kurus. Erangan kesakitan takhenti terdengar dari mulutya. Tangannya yang diinfus takbisa diam. Aroma taksedap menguar dari ruang tempat tidurnya. Beliau tidak menyadari kedatangan kami.
Ibu mertua mengajak saya keluar ruangan. Saya pun mengajak anak saya, Lintang, keluar. Sementara itu, ibu saya masih ada di dekat Mbah Supiah. menyentuh tangannya, meluruskan tangan berinfus itu agar takbanyak bergerak. Takada siapa pun di dekat Mbah Supiah. Namun, saya melihat ada seorang wanita dan dua orang pria paruh baya di luar ruangan. Saya masuk lagi ingin melihat keadaan Mbah Supiah saat perempuan paruh baya bermasker itu masuk juga ke ruangan Mbah Supiah. Ia ternyata adiknya. Ibu saya berbincang cukup lama dengannya, sedangkan saya memutuskan kembali ke luar karena taktahan dengan aroma taksedap yang menguar memenuhi ruang tempat tidur itu.

Selang beberapa menit, kami berpamitan diiringi doa semoga Tuhan memberikan yang terbaik untuk Mbah Supiah dan keluarga yang merawatnya. Kondisi Mbah Supiah masih terbayang-bayang di benak saya bahkan setelah kami tiba di rumah sore harinya. Erangan kesakitan beliau, tubuhnya yang tinggal tulang dibalut kulit, dan aroma tidak sedap yang menguar dari kamarnya. Ibu saya bilang, beliau menderita kanker kelenjar getah bening stadium IV. Kanker kelenjar getah bening disebut juga limfoma. Seperti semua kanker, itu adalah pertumbuhan yang tidak terkontrol dari sel-sel di sekitar kelenjar getah bening. Kanker ini berkaitan dengan sistem limfatik pada tubuh kita. Sistem limfatik pada tubuh kita berfungsi sebagai penjaga kekebalan tubuh. Jika limfatik tidak bisa bekerja maksimal,daya tahan tubuh akan melemah. 
Sebenarnya kondisi demikian dialami oleh semua penderita kanker apa pun. Intinya jika tubuh kita tidak mendapat asupan salah satu unsur yang dibutuhkan, daya tahan tubuh akan melemah. Saya hanya bisa berdoa di dalam hati, semoga Tuhan memberikan yang terbaik. Menjelang Maghrib, Ibu RT yang tinggal berseberangan dengan saya membawa kabar duka. Mbah Supiah meninggal dunia pukul 17.00 tadi. Saya yang sudah bersiap hendak solat Maghrib segera ke halaman. Ibu RT dan ibu saya sedang membahas kabar itu. Meskipun jarang berinteraksi dengan Mbah Supiah, saya merasa sedih. Tetangga yang ramah dan baik hati. Beliau tempat saya bertanya saat saya baru pindah ke rumah ini. Beliau juga kadang ikut mengawasi putri saya saat saya bekerja. Warung kecilnya membantu orang-orang sekitar memenuhi keperluan mendadak. Yah, seperti kata peribahasa, " Orang baik selalu mati muda."

Saya menjadi teringat paman saya, adik ibu, yang meninggal dua bulan lalu. Beliau meninggal karena kanker hati. Penyakit yang sama dengan ayah saya 23 tahun silam. Orang-orang baik yang dirasa sangat cepat pergi. Saat-saat mereka sakit masih teringat di benak saya. Tubuh yang sangat kurus, rasa sakit yang tak tertahankan, dan biaya besar yang harus dikeluarkan untuk pengobatan. Masa-masa sulit itu mengingatkan saya pada bayangan seperti apa kondisi saya saat dijemput malaikat maut kelak? Apakah saya akan merintih kesakitan dalam waktu yang panjang? Apakah tubuh saya yang sudah kurus ini akan semakin kurus dan tampak memprihatinkan? Apakah asuransi saya cukup untuk membiayai semua pengobatan? Apakah saya bisa tetap sabar dan optimis menyikapi sakit saya? Wallahualam..Hanya Tuhan yang tahu seperti apa saya jika waktu itu tiba.

Rabu, 09 November 2016

Lalu Lalang Pikiran

Selamat pagi . . . 

Cukup cerah Kamis pagi ini. Kecerahannya tidak menyurutkan berbagai pikiran yang lalu lalang di kepala saya. Banyak hal minta diurai agar takjadi beban. Bagaimana pun klasifikasi masalah atau tugas itu perlu dilakukan.

Ada dua naskah yang sudah ditunggu penerbit. Saya menjanjikan akhir minggu ini selesai. Sayangnya, inkonsistensi menghambat lagi. Dua hari kemarin saya keasyikan membaca Intelegensi Embun Pagi-nya Dee. Buku ini saya beli April 2016 silam dan baru dibaca dua hari kemarin. Sebelum 2016 berakhir, buku ini harus selesai. Resensinya menyusul. Akan saya tulis setelah resensi Dawai-Dawai Ajaib Frankie Presto karya Mitch Albom saya selesaikan. Sebelum 2016 berakhir, harus ada resensi yang saya kirim ke media. Dimuat atau tidak, itu urusan lain. 

Nah, karena keasyikan membaca itu, slogan "tar sok..tar sok..." melanda saya. Di hari Kamis ini, kesadaran itu menyeruak lagi. INGAT! modal penulis freelance adalah kepercayaan agar ada proyek-proyek lanjutan. Makanya, sengaja saya bangun pukul 03.19 dinihari untuk melanjutkan menyelesaikan naskah buku Akpol Akmil ini. Namun, ternyata saya masih belum memaksimalkan waktu dengan efektif. Hiks . . . kesadaran tak berdaya lagi. 

Agenda lain yang lalu lalang di pikiran adalah kegelisahan tentang 4 November lalu dan kemenangan Trump di Pilpres Amerika kemarin. Meskipun saya hanyalah seonggok debu di dunia ini, tetap saja saya peduli dan memperhatikan semua hal yang terjadi baik itu dekat maupun jauh dari jangkauan saya. Ide dan alur tulisan sudah menari-nari di benak saya. Sayangnya, saat duduk di depan laptop. Adaa saja hal yang mengalihkan perhatian. Mulai dari mampir sebentar yang akhirnya lama di FB, membaca pesan-pesan Whatsapp sampai urusan rutin rumah tangga yang tak ada habisnya. Akhirnya waktu sudah menunjukkan pukul 09.24, saya masih belum apa-apa. 

Image result for selamat pagi
Selain itu, ada beberapa tulisan yang seharusnya sudah saya revisi dan kirim ke beberapa media. Karena tidak punya banyak referensi tentang media-media daerah, seringkali saya buntu akan mengirimkan tulisan-tulisan itu ke mana? Masa targetnya cuma Kompas, Bobo, Pikiran Rakyat, Femina, dan Ummi selalu? Mentang-mentang media cetak itu yang saya akrabi atau mudah saya akses atau yang saya sukai. Membaca karya-karya teman-teman penulis di FB yang berhasil menembus media-media daerah membuat saya mengatur ulang strategi. Kali ini, saya akan mencoba peruntungan saya di media-media daerah itu. Kangen rasanya membaca nama saya di media cetak, seperti tahun 2014 lalu saat resensi saya dimuat di Kompas. Rasanya tak ada kebahagiaan yang lebih dari itu. Hati saya sumringah selama seminggu. hahaha...


Baiklah, sesi curhat selesai. Ditemani semangkuk sayur kacang merah, roti bumbu selai kacang dan meses, serta secangkir teh hangat, saya lanjutkan naskah Akpol Akmilnya. Semoga semua orang berbahagia meski
 Trump menang. "Selalu ada harapan," kata Obama. eaaa...


Produktivitas THR

Lebaran identik dengan Tunjangan Hari Raya (THR). Hal yang paling ditunggu banyak orang, baik anak-anak, remaja, dewasa, maupun manula. Ba...