Featured Slider

Pengalaman Mengatasi Mata SePeLe (Sepet, Perih, Lelah) saat Kerja Daring dengan Insto Dry Eyes

Insto Dry Eyes bantu atasi Mata SePeLe

Agenda outbond ini sudah kami rancang sejak dua bulan lalu. Ya, akhir minggu di Agustus yang sibuk akan kami isi dengan hiking di Gunung Putri, Lembang, Kabupaten Bandung. Di tengah padatnya jadwal pekerjaan, mengurus rumah tangga, mendampingi si bungsu menjalani aktivitas sekolah dan belajar di rumah, serta semua urusan sebagai istri, saya sangat antusias akan menikmati kesegaran udara Gunung Putri. 

Apa Itu Mata SePeLe?

Sayangnya, makin hari mata saya makin tidak nyaman. Sebenarnya sudah seminggu terakhir saya merasa ada yang salah dengan mata saya.

Mata terasa seperti “lelah bekerja” setelah beberapa jam menatap layar. Saya kira dengan mengistirahatkan mata dari menatap layar ponsel dan laptop seharian, mata saya akan kembali nyaman. Ternyata dugaan saya salah. 

Kemarin saat saya mengajar daring, mata saya kok sepet. Semacam ada sensasi mengganjal di mata. Rasanya seperti ada pasir, debu, atau bulu mata masuk. Ganjalan itu sangat mengganggu sehingga membuat saya ingin sering mengucek mata. Sekuat tenaga saya tahan agar tidak mengucek mata. 

Ketika sedang menjelaskan materi pembahasan soal, penglihatan saya agak kabur. Duh, saya mulai panik. Apalagi malam ini kondisi mata SePeLe semakin mengganggu. Mata terasa sepet ditambah lelah dan kering secara bersamaan.

Kacaunya kondisi ini terjadi saat saya mengajar kelas besar bukan kelas privat seperti biasanya. Akibatnya saya tidak bisa mengajar secara maksimal. Saya perlu waktu lebih lama untuk membaca soal yang saya bahas di kelas daring. Ketika waktu belajar usai, masih 70% soal yang belum dibahas. 


Insto Dry Eyes atasi Mata SePeLe


Saya mulai berpikir untuk izin tidak bisa ikut acara hiking lusa. Saya perlu istirahat dan menyembuhkan mata saya dulu. Saat mengajar tadi saja saya tidak bisa melihat layar laptop dengan jelas. 

Bagaimana jika saya tidak bisa melihat jalan saat hiking? Tentu kondisi saya akan merepotkan teman-teman di komunitas. Saya putuskan tidak jadi pergi saja. 

 Bahaya Mata Kering Jika Tidak Diatasi

Sebenarnya keluhan mata SePeLe alias sepet, kering, dan lelah yang datang beruntun sangat jarang saya alami. Meskipun saya berkacamata sejak remaja dan setiap hari terpapar layar laptop juga layar ponsel, baru hari ini saya merasakan keluhan mata Sepet, Perih, Lelah kompak mengunjungi.

Saya kira setelah rehat sejenak dari paparan layar laptop dan ponsel, tiga serangkai ini akan undur diri. Ternyata dugaan saya meleset. Permukaan mata saya terasa kering. Saya kuatir bisa ada peradangan pada mata saya. #MataSePeLejangansepelein.

Kalau sudah berurusan dengan organ tubuh paling sensitif ini, saya tidak bisa santai lagi. Mata adalah jendela kita memandang dunia. Tentu harus dijaga sebaik-baiknya bukan?

Solusi Mengatasi Mata Kering: Insto Dry Eyes dan Aturan 20-20-20

Kekhawatiran membuat saya agak panik. Di tengah kegalauan itu, suami menyarankan menggunakan Insto. Kebetulan karena ia lebih mobile, Insto kadangkala menjadi sahabatnya ketika matanya mengalami iritasi ringan karena polusi. Melihat kondisi mata saya, suami menyarankan Instro Dry Eyes.

Suami menjelaskan alasannya menyarankan varian #InstoDryEyes ini. Katanya, Insto Dry Eyes mengandung hydroxypropyl methylcellulose (hypromellose). Zat ini berfungsi sebagai air mata buatan.

Hypromellose membentuk lapisan pelumas di permukaan mata, membantu menjaga kelembapan lebih lama, mengurangi gesekan saat berkedip, serta meredakan gejala mata pegal, sepet, dan kering.

"Wah, keren banget kamu, Bi. Bisa hapal dan paham kandungan Insto Dry Eyes," ujar saya kagum.

Suami tersenyum lebar, "Itu hasil mengecek di internet kok."

Oh, pas beli Insto Dry Eye, dia juga browsing kandungannya. Hari gini apa sih informasi yang tidak bisa kita akses? :D

Kemasan Insto Dry Eyes didominasi warna biru cerah pada botol dan tutupnya. Kotak karton luarnya berwarna biru putih dengan gambar botol Insto dan dilatari gambar banyak  tetesan air. 

Cara Penggunaan Insto Dry Eyes untuk Mata SePeLe sederhana saja. Teteskan 1–2 tetes pada mata kanan dan kiri. Kita bisa gunakan 3 kali sehari atau sesuai kebutuhan, Yang pasti baca cermat petunjuk pada kemasan. Ukuran 7,5 ml yang membuatnya ringkas mudah dibawa di tas atau disimpan dalam saku pakaian. 

Petunjuk penggunaan Insto Dry Eyes

Dari kondisi yang saya alami, sebaiknya gunakan Insto Dry Eyes saat gejala mulai muncul, terutama setelah lama menatap layar, berada di ruangan ber-AC, atau saat mata mulai terasa tidak nyaman. Ya, seperti mata SePeLe yang saya rasakan ini.

Terapkan Aturan 20-20-20

Selain menggunakan Insto Dry Eyes, kita juga membiasakan diri menerapkan aturan 20-20-20. Ini adalah pengaturan waktu untuk mata kita bekerja dan beristirahat. Berikut ini mekanismenya :

👉 setiap 20 menit menatap layar, lihat objek yang berjarak sekitar 20 kaki (6 meter) selama 20 detik.

Teknik sederhana ini dicetuskan oleh Dr. Jeffrey Anshel, seorang optometrist, dan direkomendasikan oleh American Optometric Association serta American Academy of Ophthalmology.

Dr Jeffery Anshel menjelaskan, "Saat menatap layar terlalu lama, otot fokus mata terus berkontraksi dan frekuensi kedipan menurun drastis. Dengan melihat objek jauh selama 20 detik, otot mata menjadi rileks, kedipan kembali normal, dan penyebaran air mata membaik."

Bagaimana caranya? Mudah saja. Kita bisa memasang timer setiap 20 menit untuk bekerja di depan layar monitor. Setelah 20 menit, alihkan pandangan ke jendela, pohon, atau ujung ruangan yang jaraknya 20 kaki (sekira 6 meter) selama 20 detik. Selanjutnya, kedipkan mata beberapa kali sebelum kembali bekerja.

Kombinasi antara penggunaan Insto Dry Eyes dan penerapan aturan 20-20-20 secara konsisten akan memberikan hasil yang lebih optimal. Ditambah dengan pengaturan posisi layar yang benar (jarak 50–70 cm dan bagian atas layar sedikit di bawah sejajar mata) serta pencahayaan ruangan yang baik, kenyamanan mata dapat terjaga lebih lama.

Tentu kita semua sepakat dengan ungkapan "mencegah selalu lebih baik daripada mengobati". Dengan mengenali gejala sejak dini, memahami penyebabnya, dan segera memberikan solusi yang tepat, risiko mata SePeLe dapat diminimalkan. Jangan biarkan keluhan ringan berkembang menjadi masalah yang lebih serius. Jaga kenyamanan mata agar aktivitas digital tetap produktif, nyaman, dan tidak terganggu oleh rasa tidak nyaman yang mengganggu. Pastikan mata kita sehat #BebasMataKering.

547 Bank Sampah Unit Menuju 1.000 BSU :Langkah Nyata Membangun Ekonomi Sirkular Indonesia

Bank sampah ke-574


Ekonomi Sirkular Indonesia tidak lagi hanya menjadi wacana di ruang-ruang diskusi kebijakan, melainkan sudah bergerak nyata dari tingkat rukun tetangga. Salah satu buktinya datang dari jaringan Bank Sampah Unit (BSU) yang kini telah mencapai angka 547 unit dan menargetkan tumbuh hingga 1.000 BSU dalam waktu dekat. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan cerminan dari ribuan keluarga yang mulai memandang sampah bukan sebagai beban, melainkan sebagai sumber nilai ekonomi.

Dari Rumah Tangga ke Gerakan Nasional

Setiap Bank Sampah Unit lahir dari inisiatif warga di tingkat lokal, biasanya dimulai dari kesadaran sederhana: sampah rumah tangga yang selama ini dibuang begitu saja ternyata bisa dipilah, ditimbang, dan ditabung nilainya. Warga membawa sampah anorganik seperti plastik, kertas, dan logam ke BSU terdekat, lalu hasilnya dikonversi menjadi tabungan yang bisa dicairkan. Praktik sederhana ini adalah inti dari Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat yang menjadi fondasi utama gerakan menuju 1.000 BSU

Seluruh BSU ini kemudian terhubung dengan Bank Sampah Induk Bersinar sebagai simpul pengelolaan yang lebih besar. Di sinilah sampah bernilai ekonomi diproses lebih lanjut, dijalin kemitraan dengan pihak industri daur ulang, dan didorong menjadi bagian dari rantai pasok ekonomi sirkular yang lebih luas. Model bertingkat ini dari rumah tangga, ke BSU, lalu ke bank sampah induk menjadi contoh bagaimana Pengelolaan Sampah bisa dibangun secara sistematis, bukan sekadar proyek sesaat.

Ekonomi Sirkular Indonesia kini digerakkan dari akar rumput lewat 547 Bank Sampah Unit yang menargetkan 1.000 BSU. Simak kisah di baliknya.

Target 1.000 BSU bukan angka yang dipilih secara sembarangan. Semakin banyak unit yang terbentuk, semakin luas jangkauan edukasi lingkungan yang bisa disampaikan langsung ke tingkat keluarga. Setiap BSU baru berarti ada kelompok warga baru yang belajar memilah sampah, memahami dampak lingkungan dari kebiasaan konsumsi, dan mulai melihat keterkaitan antara sampah rumah tangga dengan isu yang jauh lebih besar seperti krisis iklim dan ketahanan pangan.

Pertumbuhan jaringan ini juga sejalan dengan konsep Living Laboratory Ekonomi Sirkular yang tengah dikembangkan di kawasan Oxbow. Kawasan ini disiapkan menjadi ruang uji coba nyata, tempat pengelolaan sampah, edukasi lingkungan, dan program ketahanan pangan berjalan dalam satu ekosistem yang saling terhubung. Jika Oxbow berhasil menjadi laboratorium hidup pertama berbasis masyarakat, maka pengalaman dari 547 BSU yang ada hari ini akan menjadi bahan pembelajaran berharga untuk direplikasi di kawasan lain. Peran Sekolah dan Kolaborasi Pentahelix

Menariknya, sebagian dari BSU yang tumbuh berasal dari inisiatif sekolah peduli lingkungan. Anak-anak diajak memilah sampah sejak dini, memahami siklus daur ulang, dan membawa kebiasaan itu pulang ke rumah masing-masing. Pendekatan ini terbukti efektif karena edukasi lingkungan yang ditanamkan sejak usia sekolah cenderung bertahan lebih lama dan menular ke lingkungan keluarga.

Namun, gerakan sebesar ini tidak mungkin berjalan sendirian. Dibutuhkan kolaborasi lingkungan yang melibatkan banyak pihak: pemerintah, akademisi, komunitas, dunia usaha, dan media. Pendekatan inilah yang dikenal sebagai Pentahelix Indonesia Bersinar, di mana setiap unsur memainkan peran spesifik namun saling melengkapi. Pemerintah menyediakan regulasi dan dukungan infrastruktur, akademisi menyumbang riset dan pendampingan teknis, dunia usaha membuka jalur off-taker untuk sampah bernilai ekonomi, sementara media membantu memperluas kesadaran publik agar semakin banyak wilayah tergerak membentuk BSU baru.

Menuju Pemberdayaan Masyarakat yang Berkelanjutan

Di balik setiap angka pertumbuhan BSU, ada cerita pemberdayaan masyarakat yang konkret: ibu rumah tangga yang mendapat tambahan penghasilan dari tabungan sampah, pemuda desa yang terlibat dalam logistik pengangkutan, hingga kelompok tani yang mulai memanfaatkan kompos hasil olahan sampah organik untuk mendukung ketahanan pangan di lingkungannya.

Gerakan ini merupakan bagian dari upaya membangun Ekonomi Sirkular Indonesia melalui Pentahelix Indonesia Bersinar. Perjalanan dari 547 menuju 1.000 Bank Sampah Unit adalah bukti bahwa perubahan besar bisa dimulai dari langkah kecil yang konsisten di tingkat komunitas—dan bahwa masa depan ekonomi sirkular Indonesia sesungguhnya sedang dibangun hari ini, satu bank sampah pada satu waktu.





Ketika Cinta Tak Bisa Mengubah Seseorang, Catatan tentang pernikahan, niat menyelamatkan, dan belajar menerima batas diri



“Menikahlah karena dengan menikah, kita sudah menunaikan setengah dari perintah agama.”

Pernyataan itu menjadi semacam legitimasi buatku ketika kuputuskan menerima pinangannya. Ia sebenarnya sahabat dari sahabatku. Mereka satu kos. Sahabatku sering bercerita tentang dia padaku. Ternyata sahabatku juga sering bercerita tentang aku padanya. 

Dunia Kita yang Berbeda

Ketika kami akhirnya bertemu, kami sudah saling tahu satu sama lain lewat cerita-cerita itu. Meski begitu, ia tetap datang dari luar lingkaran pertemananku, lingkaran aktivitasku, dan lingkaran minatku.

Ia bukan aktivis kampus. Ia juga tidak pernah hadir di kajian rutin di masjid. Ia juga tak suka diskusi, tidak pernah membaca buku-buku sastra, atau ikut turun aksi ke jalan. 

Aku aktivis pers mahasiswa, aktivis pecinta alam, juga aktivis rohis. Aku membagi Senin hingga Minggu-ku dalam diskusi buku, rapat redaksi, liputan, menulis artikel, dan kajian rutin di masjid atau kelompok kecil. Sementara ia menghabiskan waktunya berhari-hari membaca komik, main gitar, touring dengan motor Binter Kawasakinya, dan latihan band. 

Kami memang sangat berbeda. Ketika ia datang ke hidupku dan bilang, “Kalau ada yang sayang padamu, aku lebih sayang. Aku berjanji akan menemanimu menjalani hidup," aku tergagap karena menikah belum masuk agenda hidupku kala itu.

Aku tak pernah membayangkan ada laki-laki melamarku di usia 22 tahun. Di usia itu, aku masih penuh mimpi, penuh cita, dan harapan. Aku masih ingin fokus menyelesaikan skripsi yang kuharap bisa jadi magnum opus karyaku. Aku masih ingin lanjut S-2 ke luar negeri, aku masih ingin jadi jurnalis yang pergi ke banyak tempat bahkan meliput di medan peperangan.

Namun, beragam rencana, impian, dan harapan kutinggalkan di belakang. Ia menunjukkan kesungguhan dan datang dengan beragam cerita sedihnya tentang keluarga serta rasa sunyi yang selalu ia rasakan. Aku jatuh hati, jatuh kasihan, dan jatuh cinta padanya. 

Ketika Logika Kalah oleh Cinta

Seperti kata orang, “Mereka yang sedang jatuh cinta amat sulit melihat realita.”

Demikian halnya dengan kondisiku. Aku ingin menyembuhkan luka-lukanya. Niat yang amat lugu, niat yang ternyata membuatku menerima pinangannya. Dalam perjalanan saling mengenal sebelum pernikahan, aku mengalami berbagai kekerasan fisik. 

Seharusnya aku segera pergi, angkat kaki dari relasi kami. Sayangnya, aku sok heroik. Aku yakin bisa mengubahnya menjadi lebih baik.

Hari pernikahan pun ditetapkan, satu bulan setelah aku wisuda. Sebagian teman menggodaku, “Harusnya di belakang togamu, kamu tulis : lulus untuk menikah.”

Aku yang sedang amat bahagia tertawa mendengarnya. Yah, demi segera menikah, kulepaskan keinginan menulis skripsi yang bisa menjadi magnum opus karyaku. Skripsiku mungkin termasuk paling tipis di antara skripsi lulusan Filsafat lainnya. Hanya 68 halaman! Tidak ada masalah dengan jumlah halamannya. Saat sidang, dosen-dosen penguji tidak mempermasalahkan itu selama aku bisa mempertanggungjawabkan isi skripsiku. 

Hari pernikahan pun tiba. Kerabat dan sahabat datang menyemarakkan hari bahagia itu. Aku amat lega karena akhirnya halal. Selama setahun berproses dengannya, hati nuraniku sering gelisah karena aku tahu pacaran dilarang dalam Islam, tapi aku tetap pacaran.

Jadi, ketika kami sah sebagai suami istri, hatiku rasanya plong. Semua halal di hadapan Allah Ta’ala. Babak baru pun dimulai. Aku berharap pernikahan kami dilandasi ajaran Islam seperti yang selama ini kupelajari di kajian-kajian rutin. 

Aku membayangkan suamiku pun seperti Rasulullah SAW. Suami yang tak pernah marah ketika masakan istrinya keasinan. Suami yang tidak akan murka ketika istri kelupaan bawa kunci kamar sehingga ia harus menunggu istrinya pulang karena tak bisa masuk kamar. 

Ekspektasi yang Patah 

Realita ternyata tak seindah harapan. Ia kerap marah kalau masakanku keasinan atau tak sesuai harapannya. Ia juga tak mau menoleransi sifatku yang pelupa. Ia pun masih sulit untuk solat apalagi mengaji. Aku yang berharap suamiku adalah ensiklopedi tempat aku bertanya harus berdamai dengan itu semua. OK fine. Mari kita lanjutkan perjalanan.

Perjalanan mulai terasa amat berat di tahun keenam. Eskalasi kekerasan fisik semakin tinggi. Luka-luka fisik tampak di sana-sini. 

Seorang sahabat mengingatkan, “Kamu harus berani mengamputasi kakimu supaya keluar dari lingkaran kekerasan.”

Sahabat yang lain menegur, "Berhenti bersikap heroik dalam pernikahan. Kamu tidak bisa mengubahnya. Ia yang harus mengubah dirinya dengan sadar.”

Di tahun keenam itu juga, kubulatkan hati keluar dari pernikahan kami. Sebelumnya tidak mudah memintanya melepas ikatan ini. Setelah beragam peristiwa, akhirnya ia pun kelelahan dengan konflik-konflik panjang kami.

Di bulan Desember 2010, putusan jatuh. Ikatan kami lepas. Kami bukan suami istri lagi. Rasanya campur aduk, tapi untuk kesehatan lahir batin dan kehidupan yang bebas dari rasa takut dan tertekan, aku harus menelannya. Aku hanya perlu membiasakan diri tanpa dia lagi dalam kehidupan kami. Memang bukan jalan yang mudah, jalannya amat terjal berliku, tapi ada Allah yang selalu menemani dan menguatkanku.

Penerimaan dan Sapaan dalam Kenangan

Itu cerita enam belas tahun lalu. Semua luka sudah terbasuh. Ingatan-ingatan tentang negativitas masa itu memang tak pernah hilang, tapi rasa yang tertinggal tentu saja sudah tidak sama. Bukan luka yang berdarah-darah lagi, tetapi lebih ke pembelajaran bahwa aku pernah ada di masa yang sangat berat karena terlalu larut dalam perasaan mencintai yang heroik.

Pun kenangan tentang dia. Yang tertinggal adalah kenangan penuh makna. Aku tak tahu rasa ini apa namanya. Yang pasti aku mengapresiasi hal-hal baik yang sudah ia lakukan dan ajarkan padaku. Sebagian masih kuingat detail hal-hal baik itu. 

Tentang ingatan buruk yang kadang masih muncul, kadang memang masih terselip marah dan gusar, tapi itu sesaat saja. Kini aku mulai paham dengan kata-katanya di Ternate delapan belas tahun silam.

“Aku menyakitimu dengan tanganku. Kamu menyakitiku dengan kata-katamu.”

Yah, dulu kami masih amat muda. Ego berkelindan dengan tuntutan dipahami dan dipatuhi. Jadinya ya begitulah, saling menyakiti hingga cinta tak bisa menolong lagi.

Malam ini aku bercerita lagi tentang dia. Aku mengingat lagi fase perjalanan yang sangat banyak mengubah caraku memandang hidup. Kegagalan pernikahan dan proses memaafkan juga melepaskan yang amat panjang.

Aku lupa kapan terakhir kali aku menulis tentangnya. Mungkin saat ia sakit parah tahun lalu. Itu pun aku hanya menulis pendek-pendek di caption konten Instagram. Oh yaa! Aku ingat, aku menulis tentang dia di review film Sore tahun lalu. 


Ia takkan pernah hilang dari ingatan. Semua kenangan tentangnya menjadi bagian dari perjalanan hidupku sebagai manusia hari ini. Mungkin baginya pun sama. Aku tak pernah benar-benar tahu bagaimana ia menempatkanku dalam perjalanan hidupnya. Dari cerita mantan - mantan istrinya, aku tahu bahwa namaku sesekali masih hadir dalam kisah-kisahnya. Wallahualam.

Tiga hari lagi seharusnya ia genap berusia 47 tahun. Namun, Tuhan berkehendak lain. Tahun lalu, kanker hati merenggutnya. Ia kini hanya bisa kusapa dalam kenangan atau sesekali muncul dalam mimpi.

Di titik ini, aku makin paham "makna luka tawar oleh pengertian. "

Salam :) 

Cara Kartini Modern Melawan Algoritma Belanja: Tips Berdaya Secara Finansial

Perempuan melek literasi finansial

Menjadi Kartini modern bukan lagi soal berjuang di medan literasi buku saja, melainkan literasi finansial. Di tengah kepungan algoritma media sosial yang dirancang untuk memicu belanja impulsif, perempuan perlu memiliki 'perisai' berupa kesadaran finansial agar bisa menentukan tujuan hidupnya sendiri tanpa terjebak FOMO.

Sejalan dengan pemahaman tersebut, pada perayaan Hari Kartini, 22 April 2026, Female Digest bekerja sama dengan Tropicana Slim, Nutrifood, dan Wardah Beauty dari Paragon Corp menggagas webinar bertema Literasi Tinggi, Risiko Rendah. Kartini Modern, Melek Finansial.

Webinar ini dipandu Mbak Ruth Ninajanty (Community Development Manager Female Digest. Dua narasumber adalah  Mbak Dedek Gunawan ( certified financial planner) dan Mbak Diana Anggraini (Dosen LSPR Institute of Communication & Business). Sebagai narasumber yang sudah makan asam manis pergumulan literasi finansial, keduanya menekankan bahwa musuh utama keuangan perempuan saat ini adalah 'kebocoran halus' akibat dorongan emosional yang dipicu oleh algoritma digital.

6 Kesalahan Umum Perempuan dalam Mengelola Keuangan menurut Financial Planner

Menurut Mbak Dedek Gunawan dari pengalamannya sebagai certified financial planner, ada enam kesalahan umum yang dilakukan perempuan dalam mengelola keuangan. Kesalahan umum ini menunjukkan pola pikir/kebiasaan buruk yang sering menghambat seseorang dalam mencapai tujuan finansial. 
 
1. Menjadi perfeksionis
Seringkali kita menunda memulai sesuatu karena menunggu waktu yang sempurna. Sementara, kita tidak pernah tahu kapan yang sempurna itu datang. 
 
2. Tidak punya perencanaan keuangan
Tanpa ada perencanaan keuangan, pengeluaran seringkali tidak terkendali. Akibatnya, kita tidak tahu ke mana arah tujuan keuangan.
 
3. Merasa tidak punya uang 
Ini adalah penundaan klasik. Sebagian kita menunggu banyak uang baru mau mulai mengelola uang ayau berinvestasi. Padahal, yang terpenting adalah kedisiplinan seja dini, bukan besarnya nominal.
 
4. Takut angka
Sebagian orang merasa terintimidasi oleh data keuangan, laporan, atau perhitungan investasi. Ketakutan ini membuat mereka menghindari pengelolaan secara sadar.
 
5. Takut investasi
Takut terhadap risiko investasi membuat kita tidak maju-maju dalam pengelolaan keuangan; menyimpan uang di bawah bantal atau di rekening biasa. Dana yang disimpan lama-lama tergerus inflasi. 
 
6. Menabung saja sudah cukup
Ini tentu anggapan yang keliru bahwa menabung saja sudah menjamin masa depan. Padahal, untuk melawan inflasi, investasi diperlukan agar uang kita bertumbuh. 
 
Agar terhindar dari berulangnya kesalahan umum itu, Mbak Dedek Gunawan mengingatkan setiap orang seharusnya fokus pada tujuan finansialnya masing-masing. Hindari memutuskan sesuatu karena melihat orang lain melakukan itu. Karena bagaimana pun kebutuhan setiap orang berbeda. Begitu pula dengan problematika finansial yang mengiringinya. 
 
Ada perempuan yang menjadi tulang punggung keluarga. Perempuan yang lain terjebak dalam lilitan utang beragam pinjol dan paylater tak berkesudahan, Ada pula perempuan lain yang burn out harus mengelola keuangan yang pas-pasan sehingga ia kerap bertanya, "Gimana caranya mengelola uang kalau uangnya ngga ada?"
 
Mbak Dedek memberi dua alternatif solusi terhadap kondisi ini. 
 
1. Menekan pengeluaran sebesar-besarnya, tapi tetap ada batas minimum.
Kita bisa mulai mengecek dari budgetin. Cek pos-pos pengeluaran yang bisa di-cut. Salah satunya latte factor alias bocor alus, seperti jajan kopi, makan di luar, langganan berbagai platform berbayar, seperti Netflix, Spotify, dsb. 
 
2. Mencari penghasilan tambahan.
Pengeluaran sudah ditekan seminimal mungkin,  tapi tetap saja tidak ada yang bisa ditabung atau tetap saja minus. Apa yang harus dilakukan? Mencari tambahan penghasilan. Bisa kerja remote seperti yang sekarang sedang marak atau jualan kecil-kecilan atau pekerjaan sampingan lain.
 

Menghadapi "Jebakan" Algoritma: Berdaya Tanpa FOMO

 Pada sesi kedua, Mbak Diana sebagai narasumber memberikan tips sekaligus penjelasan yang mencerahkan tentang cara menghadapi jebakan algoritma. Dosen LSPR ini menekankan pentingnya perempuan berdaya tanpa FOMO. Itulah pentingnya melek literasi finansial supaya tidak mudah tergiur segala macam bujuk rayu diskon di rimba marketplace :D
 
Menurut Mbak Diana, ada tiga tombol kendali literasi digital yang bisa kita lakukan. Tujuannya tentu saja supaya kita tidak takluk terhadap ilusi diskon. Penandanya apa ilusi ini? Ketika muncul pikiran, "Sayang kalau dilewatkan, mumpung diskon.
 
Dalam penjelasannya, Mbak Diana menyampaikan sebenarnya bukan kita yang lemah, tapi layar ponsel kita memang dirancang memanipulasi. Kalau kita cermati, ada notifikasi, ada algoritma, mesin pelacak yang hafal kesukaan kita, dan ada penghitung waktu alias flash sale. Ini merupakan tes psikologis untuk memanipulasi waktu dan menciptakan kepanikan (rush).
  
 3 Tombol Kendali Literasi Digital Tangkal Algoritma
 
1. Tahan 24 jam sebelum membeli
Ketika kita melihat ada barang bagus yang didiskon, biasanya tanpa pikir panjang langsung check out.  Kali ini coba tahan dulu 24 jam. Setelah itu, biasanya ada perubahan pikiran. Kalau lupa : berarti tidak penting. Kalau masih butuh : silakan lanjut check out.
 
2. Sistem Pisah Rekening
Supaya uang tidak tumpah dan bocor ke tempat yang salah, mulai ubah ke sistem pisah rekening. Bagilah menjadi tiga rekening terpisah, yaitu rekening kebutuhan harian, rekening tabungan, dan rekening darurat. 
 
3. Kunci tautan yang mencurigakan
Ini maksudnya jangan pernah klik link apa pun yang formatnya asing, misalnya format apk. Dari pengalaman orang-orang, ketika kita klik tautan tersebut, data juga dana yang ada di berbagai aplikasi di ponsel kita akan raib dibawa lari si tautan.
 
---
 
Pembahasan soal melawan algoritma belanja di hari Kartini sore itu sangat insightful. Seolah-olah mengisi tangki pemahaman finansial kami. Kemandirian finansial bukan tentang seberapa banyak barang yang bisa kita beli, tapi seberapa besar kendali yang kita miliki atas keputusan kita sendiri tanpa dipengaruhi oleh tren sesaat (FOMO). Demikian :)

Cerita Lintang Hati

Parenting untuk Remaja

Di tengah kerjaan mem-filter blog-blog yang akan kuajukan untuk kerja sama backlink dengan agensinya Auni, iseng kucek juga blogku di Google Index. Muncul beberapa artikel dari sekian tahun ke belakang. Salah satunya ada tulisan tentang keresahanku menghadapi Lintang. Lebih tepatnya sih ketidakberdayaan menghadapi Lintang di usianya yang 11 tahun. Ia picky eater, malas solat, malas mandi, malas belajar, manja, dan cengeng. 
 

Lintang is Growing Up

Sepuluh tahun berlalu, Lintang sudah dewasa sekarang. Usianya 21 tahun. Ia sudah mahasiswa semester enam. Dua tahun lagi maksimal ia sudah wisuda. Semoga Allah mudahkan ia mendapat kerja di tempat yang aman dan sreg di hatinya, in sya Allah..

Apakah Lintang masih picky eater? Masih, tapi aku sudah tidak khawatir lagi. Ia sudah mau makan nasi, makan sayur, buah, dan protein tanpa dipaksa-paksa lagi. Meskipun masih tetap mengonsumsi junk food, setidaknya ia tahu apa yang tubuhnya butuhkan. Sepertinya sih tahu..
 
Apakah Lintang masih malas solat? Kalo setiap kutanya sih dia mengaku tidak pernah melewatkan solat. Wallahualam. Semoga Allah senantiasa menjaganya dari kelalaian. Apakah Lintang masih malas mandi? Nah, yang bagian ini sudah sangat berubah. Ia tak perlu lagi disuruh mandi. Di usia 21, ia sudah sadar merawat diri. 
 
Saking sadarnya, ni anak bisa berjam-jam dandan sebelum berangkat kuliah. Apalagi semasa masih SMA, madu dan havermut di rumah pelan, tapi pasti abis dia pakai maskeran. Sekarang setelah paham kondisi finansial ortunya, kulihat tak pernah lagi maskeran pakai madu dan havermut, Sayang, mending buat dimakan. Hehehe.. 
 
Apakah masih malas belajar? Mungkin ya, tapi tuntutan akademik di kampus membuat ia harus menyelesaikan banyak tugas tepat waktu. Yang kulihat sih ia sudah sangat jarang membaca buku. Waktunya kebanyakan abis untuk scroll medsos sambil rebahan. Kalo ini sepertinya sudah jadi habit global.
 
Setelah mahasiswa, apakah Lintang masih manja dan cengeng? Tentu tidak, tapi ia masih mudah marah dan moody. Mudah marah pada adiknya, moody kalau disuruh bantu beres-beres rumah. Bagian marah ini kukira bagian dari kesalahanku yang sering marahin dia semasa kanak-kanak. Ia bilang aku keras dan kaku. Aku sebal dibilang gitu meski sebenernya memang gitu sih.
 
By the way, kenapa aku keras dan kaku? Pasti ada sebabnya. Sekalipun sudah accept and change, tetep aja kalo ter-trigger, si kaku dan keras akan muncul lagi. Gimana cara menghindari si trigger? Jangan dekat-dekat pemicunya. Sayangnya pemicunya ada di sekitarku..Butuh kebesaran jiwa dan keikhlasan untuk menelannya. Begitulah..Kalo ngga paham dengan yang kusampaikan, skip aja :D 
  

Gelap Terang Perjalanan

Tahun ini Lintang 22 tahun. Ia sudah bukan anak-anak lagi. Pasti sudah banyak peristiwa hidup yang dialaminya. Ada banyak yang tidak kutahu. Sisi-sisi gelap yang ia simpan sendiri. Aku pun tak perlu tahu banyak kukira. Biarkan dia berproses dengan perjalanannya. Semoga ia banyak belajar dari yang sudah lewat termasuk masalah pelik yang ia ceritakan padaku dan kini harus ia bereskan sendiri. Aku tak bisa bantu banyak karena kondisiku juga. Namun, setidaknya aku tetap support agar masalah itu bisa selesai bertahap.
 
Selepas ayahnya meninggal Agustus tahun lalu, aku kadang sedih mengingat perjalanan hidup yang ia alami. Penuh onak duri di usia balita hingga kanak-kanak. Ia tidak mengalami masa penuh kebahagiaan seperti Arinah. Hal itu membuatku selalu merasa bersalah sepanjang hidup. Tak bisa memberinya pengalaman penuh bahagia di masa keemasannya.
 
Anyway, yang sudah biarlah lewat. Aku menerimanya dan terus bergerak untuk mengubah yang buruk agar tak terjadi lagi di kehidupan sekarang. Meski ternyata memang dalam hidup tidak melulu bahagia, seperti juga kita tidak selalu berkelindan dengan kesedihan. Yang pasti kebijaksanaan rasanya datang dan pergi. Pemakluman pun kesabaran. Saat ini semua terasa berat karena aku sedang tak bisa berpikir jernih dan menelan yang sedang kujalani. Salam...