Friday, August 23, 2019

Review Film Bumi Manusia : Tiga Jam Yang Tidak Membosankan


Meskipun saya kurang sreg dengan Iqbaal sebagai Minke, saya tetap menonton Bumi Manusia. Sebagai pembaca tetralogi Pulau Buru, saya penasaran juga ingin tahu bagaimana Hanung menerjemahkan 535 halaman novel Bumi Manusia ke dalam film berdurasi 181 menit.

Jadi, semua bermula dari rasa ingin tahu. Selain itu, saya pun takingin menghakimi film Bumi Manusia tanpa menontonnya lebih dahulu. Sebagai aktor, saya yakin Iqbaal yang identik dengan Dilan pasti bekerja keras memahami karakter Minke dan menghidupkannya dalam film. Pasti ada workshop, pendalaman karakter, dan sebagainya.

Jadilah, di hari perdana pemutarannya, 15 Agustus 2019, saya menonton Bumi Manusia. Mulanya saya kira kursi di studio akan penuh. Ternyata dugaan saya meleset. Hanya sepertiga kursi terisi.

Film ini dibuka dengan lagu Indonesia Raya. Sayangnya, saat lagu ini dikumandangkan, penonton tetap duduk manis. Mungkin seharusnya ada yang mengomandoi untuk berdiri. Saya pun ragu -ragu untuk berdiri karena yang lainnya duduk, hehe..

Alur Cerita Film Bumi Manusia

Setelah lagu Indonesia Raya berkumandang, layar dibuka dengan rangkaian gambar kondisi Indonesia pada tahun 1890an. Bersamaan dengan itu, ada monolog keprihatinan Minke tentang ketertindasan bangsanya sekaligus kekagumannya pada modernitas yang dibawa Eropa.

Minke keturunan bangsawan sehingga ia bisa sekolah di HBS. Pendidikan Eropa yang diterimanya sejak duduk di sekolah dasar membuatnya terkagum - kagum pada semua hal tentang Eropa. Kekaguman itu pelahan redup sejak perkenalannya dengan Nyai Ontosoroh, perempuan pribumi yang menjadi selir Herman Mellema, pemilik Boerderij Buitenzorg di Wonokromo.

Kisah ini dimulai oleh gedoran Robert Suurhof di pintu kamar Minke. Gedoran itu menimbulkan keriuhan di pagi hari. Mevrouw Telinga, ibu kost Minke, keluar dan menegur Robert. Sementara itu, Minke yang masih amat mengantuk terpaksa membuka matanya. Minke spontan keluar kamar melihat keramaian begitu Robert memberi tahu hari ini penobatan Ratu Wilhelmina.

Kemeriahan penobatan Sang Ratu Belanda terasa hingga negeri jajahannya, Hindia Belanda. Bendera merah putih biru berbagai ukuran dikibarkan. Orang - orang Belanda merayakannya dengan berwisata, makan -makan, juga berbelanja. Indo dan Pribumi pun tidak ketinggalan meskipun mereka takbisa masuk ke kafe  orang-orang Eropa.

Ajakan Robert Suurhof mengunjungi Buitenzorg, tempat tinggal Robert Mellema, pada Minke ternyata malah membangun relasi romantis antara Minke dan Annelies. Suurhof hanya bisa gigit jari melihat Annelies, adik Robert Mellema sekaligus pujaan hatinya, langsung terpikat pada Minke.

Meskipun Annelies cantik tiada banding, bukan Annelies yang meninggalkan kesan mendalam di hati Minke, melainkan Nyai Ontosoroh, ibunda Annelies. Sosok Nyai Ontosoroh amat berbeda dengan nyai - nyai lain yang selama ini dikenal masyarakat Hindia Belanda. Perempuan bernama asli Sanikem itu cerdas, berpendidikan, dan fasih berbahasa Belanda.

Konflik pun bergulir sejak Minke berkenalan dengan keluarga kaya raya, tetapi penuh luka. Mulai dari teguran keras Ayah Minke, Bupati B, terhadap kedekatannya dengan sang Nyai hingga terseretnya ia dalam pengadilan pembunuhan Herman Mellema, ayah Annelies.

Film Bumi Manusia lebih fokus pada kisah cinta Minke dan Annelies. Pemikiran dan perjuangan Minke melalui tulisan adalah penunjang cerita. Namun, ini juga takbisa dipersalahkan. Mengapa? Tujuan awal pembuatan film Bumi Manusia memang bermaksud memperkenalkan karya Pramoedya Ananta Toer kepada generasi milenial akhir hingga generasi Z.

Jika yang disampaikan pergolakan pemikiran Minke, cerita akan rumit dan takcukup menerjemahkannya dalam 181 menit. Karena itu pula, peran Magda Peter, guru sastra HBS yang menjadi partner diskusi Minke, tidak menonjol seperti diceritakan dalam novelnya.

Apa yang Membuat Film Ini Bagus?


Sinematografinya cantik.

Pengaturan kamera, pencahayaan, dan aspek visual dalam film ini tersaji cantik dan indah.

Properti filmnya oke

Tim produksi film berhasil menghadirkan desain set yang mampu menghidupkan suasana kolonial, seperti dalam novelnya. Beberapa contoh adalah kostum Nyai Ontosoroh, peralatan makan yang klasik, koran berbahasa Belanda dengan isi berita yang cukup detail, dan sebagainya.
Para Pemeran Bumi Manusia

Banyak orang meragukan Iqbaal sebagai Minke. Keraguan itu menyebabkan keengganan menonton  film ini. Padahal, Minke dalam film tak mengecewakan kok. Meskipun Iqbaal terlalu ganteng sebagai  Minke dan beberapa ekspresi masih kurang mengena, kerja keras Iqbaal tetap saya apresiasi. Setidaknya sekarang saat membaca lagi novel Bumi Manusia, yang ada di benak saya adalah Minke yang  ganteng. hehehe...
    
Bagaimana dengan Annelies di film? Kecantikannya meleset dari yang saya bayangkan sebagai bunga penutup abad. Ia pun tidak terlampau kekanak - kanakan seperti yang diceritakan Pram dalam novelnya. Namun, Mawar Eva tetap memesona sebagai Annelies yang ceria dan kuat dalam  kerapuhannya melawan tumpukan trauma.

Lalu adakah yang memenuhi ekspektasi sebagai tokoh yang sama persis seperti dalam novelnya?

Nyai Ontosoroh dan Annelies (dok. falconpicture)

Tentu saja ada. Sha Ine Febriyanti berhasil menjadi Nyai Ontosoroh yang tangguh, cerdas, tegas, dan bijaksana. Ekspresi wajah, sorot mata, dan bahasa tubuhnya sangat natural. 

Pun dengan Wani Dharmawan sebagai Darsam. Seniman dari Yogyakarta ini menjelma menjadi Darsam yang garang, sangar, tetapi amat setia pada Nyai Ontosoroh. Kumis baplang, sorot mata tajam, baju serbahitam,. dan sebilah parang di pinggang. Dialah penjaga keselamatan Nyai Ontosoroh, Annelies, dan Minke. Bahkan Herman Mellema dan anak laki -lakinya, Robert Mellema, langsung gentar hanya mendengar namanya.


dok. idntimes.com
Ayu Laksmi sebagai Ibunda Minke. Scene-nya sedikit, tetapi aktingnya luar biasa. Perempuan bangsawan Jawa yang bijaksana, lembut, dan teguh  terpancar dalam suara dan sorot matanya. Sementara, Donny Damara, sang Ayahanda hampir tak saya kenali. Kumis tebal melintang, suara dalam, dan galak. Sosok Bupati feodal pada umumnya.

Christian Sugiono sebagai Kommer. Ia adalah jurnalis yang sangat bersimpati pada masyarakat Hindia Belanda. Perannya termasuk sentral dalam perjalanan Minke di tetralogi Pulau Buru. Sama seperti Jean Marais. Bedanya, saya melihat akting suami Titi Kamal ini kurang nendang. Mungkin karena hanya ada dua scene, jadi belum terasa betul kehadirannya.

Pemeran figuran sebagai pembantu rumah tangga Nyai Ontosoroh juga berperan penting menghidupkan suasana segar. Kelucuan muncul pada celetukan dan ekspresi mereka. 

Pesan Moral Film

Quote inspiratif bertebaran di film ini. Jean Marais menekankan tentang mahapentingnya adil sejak dari pikiran bagi kaum terpelajar. Sementara Nyai Ontosoroh berulangkali menyampaikan kita harus melawan sebagai bentuk mempertahankan kehormatan.  "Dengan melawan, kita takkan sepenuhnya kalah, Nyo."

Perlawanan terhadap diskriminasi kelas di masa kolonial seharusnya bisa menjadi renungan bagi kita tentang betapa berhargannya pengakuan atas kemerdekaan dan persamaan hak martabat yang kita miliki di masa sekarang.

Nyai Ontosoroh yang kaya raya tak berdaya menghadapi diskriminasi kelas yang dialaminya. Begitupula dengan Minke. Meskipun bangsawan terpelajar, ia harus menerima pernikahan legalnya secara Islam dianggap takada di hadapan hukum Belanda. Di titik itu, saya merasa betapa malangnya kita sebagai bangsa Pribumi. Bahkan hukum Islam pun tidak dianggap ada oleh pemerintah kolonial. Tragisnya..

Agar tak penasaran, sebaiknya tontonlah film ini. Agar tak tergesa menyimpulkan hanya dari review -review yang sudah dibaca, termasuk review saya. Salam :)

Wednesday, August 14, 2019

Launching Kampung Wisata Quran di Kiaracondong Bandung



Sejak berdiri tahun 2013 silam, perusahaan Syaamil Group berkembang pesat hingga menjadi produsen Al Quran terbesar di negeri ini. Sebagai perusahaan yang bervisi membumikan Al Quran dan menghidupkan sirah, Syaamil Group bekerja sama dengan pengurus lingkungan di sekitar Syaamil Group, yaitu RT, RW, kelurahan , dan kecamatan untuk menggagas Kampung Wisata Al Quran.

Gagasan itu terealisasi dengan peluncuran Kampung Wisata Quran pada Senin, 12 Agustus 2019. Peluncuran ini dihadiri Chairman Syaamil Group, Riza Zacharias, Plh Walikota Bandung, Yana Mulyana, S.E., MM., Camat Kiaracondong, Dra. Rina Dewiyanti, M.Si. Para jurnalis media online dan teman - teman blogger dari Komunitas Blogger Bandung pun turut hadir.

Kampung Wisata Quran

Program Kampung Wisata Quran sejalan dengan program Kiaracondong Agamis. Pada program ini, Kiaracondong akan membuat kampung - kampung Quran di setiap kelurahan dengan visi Lingkungan Cinta Quran.

Kiaracondong Agamis ini sesuai dengan visi Syaamil Group, yaitu Menjadi Perusahaan yang terdepan dalam membumikan Al Quran dan menghidupkan Sirah. Peluncuran Kampung Wisata Quran merupakan implementasi dari visi membumikan Quran, di antaranya adalah program rumah Syaamil Quran, Wakaf 1 juta Al Quran, program Semua Bisa Ngaji dengan tagline "Kampung Bebas Buta Huruf Al Quran". Wisata Quran ini yang paling populer.

Wisata Quran seperti apa yang ditawarkan Syaamil Quran? Pada Senin, 12 Agustus 2019 lalu, sebelum launching Kampung Wisata Quran, kami diajak berwisata Quran di kantor Syaamil Group. Kami berkeliling ruang percetakan melihat proses pembuatan Quran.   

Sebagian proses pembuatan Quran (dok.pribadi)

Saat melihat proses pembuatannya, ada haru menyusup di hati. Terlebih ketika saya berbincang dengan Bapak Syamsul, bagian quality control. Setiap lembaran Quran yang akan dicetak harus melewati proses pengecekan, baik tanda baca pada setiap huruf maupun warna - warna sebagai penanda di ayat -ayatnya, "Di sini quran yang dicetak banyak variannya.. Jadi, harus teliti banget mengeceknya, jangan sampai ada kesalahan," jelas beliau.


Kiaracondong Agamis

Kali ini, program Wisata Quran Syaamil Group berkolaborasi dan bersinergi dengan warga Kiaracondong untuk bersama -sama mewujudkan Kiaracondong Agamis. Program Kampung Wisata Quran diharapkan bisa menjadi destinasi wisata tematik. 

Kampung Wisata Quran sebagai wisata tematik juga bisa menjadi wisata edukatif bagi masyarakat sekitar pada khususnya dan pengunjung dari berbagai wilayah di luar Kiaracondong bahkan di luar Kota Bandung.

Kampung Wisata Quran ini gratis dan terbuka untuk umum. Alamatnya di Jalan Babakan Sari I/ No. 71 Kiaracondong Bandung. Wisata ini untuk rombongan bukan perorangan. Sebelum datang ke lokasi, pengunjung harus membuat janji dengan bagian Wisata Quran Syaamil Group di nomor 0227208298.

Monday, August 12, 2019

Akhir Pekan Yang Istimewa Bersama Kompasiana

Awal Agustus lalu, saya sangat bersemangat. Apa pasal? Saya akan mengikuti workshop penulisan yang diselenggarakan CLICK Kompasiana. Tidak hanya workshop penulisan, beserta peserta workshop lain, usai workshop, kami akan berkunjung ke Pantai Maju.

Pada Jumat yang masih amat pagi, Argo Parahyangan membawa saya dan empat kawan Kompasianer ke Jakarta. Kami tiba di TMII sebagai lokasi workshop tepat saat azan Dhuhur berkumandang.

Workshop Penulisan

Workshop dimulai setelah para peserta pria menunaikan salat Jumat dan peserta wanita beribadah salat Dhuhur. Materi workshopnya adalah menulis fiksi bersama Fanny Jonatan Pyok. Saya baru ngeh kalau Kak Fanny ini putrinya Gerson Pyok, sastrawan kenamaan yang tulisannya banyak dimuat di Harian Kompas. 
Miris hati saya mendengar kisah pilu Gerson Pyok menjalani masa sakit hingga beliau berpulang. Di situ saya kembali berpikir bisakah saya hidup dari menulis? Jika bisa, tulisan seperti apa yang bisa menjamin kehidupan saya?

Ketika Kak Fanny berbagi info tentang fee yang diterima Alberthiene Endah, sang penulis spesialis biografi artis dan tokoh populer di negeri ini, saya berdecak kagum. Tetep aja harus punya networking orang - orang yang dekat dengan dunia keartisan atau politik. Karena nepotisme di negeri ini teramat kental.
Kondisi Gerson Pyok mengingatkan saya pada Hamsad Rangkuti. Beliau juga sakit dan wafat jauh dari ingar - bingar perayaan karya - karyanya. Padahal karya - karya Hamsad Rangkuti ini juga diperhitungkan di dunia sastra nasional.
Keprihatinan itu membuat saya berpikir apa yang harus dilakukan agar tulisan kita bernilai secara materi secara berkelanjutan?
Pemaparan dan penjelasan dari dua pembicara selanjutnya tentang content marketing dalam tulisan serta potensialnya tulisan bertema ekonomi membuat saya kembali bersemangat menjadi penulis, terutama penulis blog. 
Mas Iskandar Zulkarnaen, Co founder Kompasiana menjelaskan serba -serbi literasi digital. Bagi saya yang sudah bertekad menjadi blogger professional, materi ini sangat bermanfaat. Menurut Mas Isjet, ada empat prinsip dalam membuat content marketing :
1. orisinalitas; dilarang keras menjiplak
2. kesabaran; konten marketing bukan proses kilat
3. aktual; sesuaikan dengan kondisi terkini masyarakat
4. fleksibel artinya bisa membuat konten di semua platform media social.

Berkaitan dengan yang konten marketing, Direktur Program PPI (Persatuan Penulis Indonesia), Bang Isson Khaerul menekankan pentingnya kekayaan data yang valid dalam menulis. Untuk itu, setiap penulis wajib memperkaya diri dengan berbagai informasi, baik primer maupun sekunder. Kerangka berpikir yang harus menjadi pedoman adalah isi tulisan harus bermanfaat untuk banyak orang.

Ilmu - ilmu baru ini mengurai simpul - simpul kekhawatiran saya tentang masa depan kehidupan penulis. Ketika simpul - simpul kekhawatiran itu terurai, saya merasa melihat masa depan profesi penulis amat cerah. Efek semangat itu memudahkan saya menulis cepat di ponsel ketika panitia meminta kami membuat artikel tentang kesan pesan tentang acara hari pertama. Harapan memang selalu menjadi bahan bakar perjalanan.

Plesir ke Pantai Maju

Esok paginya, sekira pukul 06.30, rombongan bergerak ke Pantai Maju. Saya penasaran sekali seperti apa sih Pulau D yang direklamasi menjadi daratan ini.


Setibanya di sana, yang saya jumpai jalanan panjang yang gersang.  Beberapa orang tampak sedang berolahraga jalan kaki. Banyak bangunan baru di kanan kiri jalan. Ada juga deretan warung tenda yang katanya menjadi jujugan wisata kuliner pada sore hari. 

tenda wisata kuliner (dok. pribadi)

Hari masih pagi, tapi sinar matahari terasa amat menyengat di kulit. Saya yang masih agak mengantuk berusaha tetap semangat menikmati Pantai Maju yang menjadi kawasan bisnis ini. Di kejauhan, saya melihat gedung -  gedung pencakar langit tampak terselimuti kabut. Objek foto yang indah. Namun sayangnya, itu bukan kabut, tapi polusi udara yang terakumulasi hingga terlihat seperti kabut. Ah ya, saya ingat hari itu udara Jakarta masih menempati peringkat kedua terburuk di dunia. 
kabut polusi (dok. pribadi)

Bersama kawan - kawan, saya menyusuri jalan di Pantai Maju hingga ke tepian laut. Sebagai orang Bandung yang jauh dari laut, saya merasa antusias bisa melihat laut dari dekat. Karena bukan kawasan wisata, saya hanya bias memandanginya dari  tepian. Di tepi laut ini, ada lahan yang amat luas sedang dalam proses pembangunan. Truk - truk lalu lalang di sana.  Sejauh mata memandang hanya ada kesibukan proyek. Kondisi ini mengingatkan saya pada film -film Hollywood. Saya seolah - olah menjdi detektif yang sedang mengintai proyek misterius.  







Jujur,  takada yang menarik di tempat ini selain kontroversi yang terus merebak sejak pulau ini direklamasi. Yang menarik hanyalah berita - berita kontroversi tentang kebijakan Ahok dan Anis. Manakah yang lebih layak diperjuangkan? Keselamatan lingkungan hidup di masa depan atau keuntungan yang diterima Pemda DKI dengan adanya reklamasi? 
Hari beranjak siang, agenda di Pantai Maju pun usai. Mobil elf mengantar kami ke tujuan yang sudah disepakati sebelumnya. Saya Bersama kawan -kawan bersepakat turun di HI lalu lanjut naik MRT. Selepas Maghrib, kami kembali ke Bandung. Perjalanan 39 jam yang mengesankan. Terima kasih CLICKompasiana dan PPI. Sampai jumpa lagi..








Sunday, August 11, 2019

Ketika Oma Widyawati Kuliah Lagi di Film Mahasiswa Baru

                                                     
mncmovie.com

Awal Agustus 2019 ini, ada film keluarga kocak yang dibintangi aktor senior Widyawati dan Slamet Rahardjo. Judul filmnya adalah Mahasiswi Baru. Dua nama besar ini sudah bisa menjamin kualitas filmnya.

Siapa aktor pendukung lainnya? Di antaranya Morgan Oey, Mikha Tambayong, dan Oemay Shahab. Sutradaranya juga ngga kalah keren lho. Siapakah dia? taklain dan takbukan, dialah Monty Tiwa.

Sudah tau kan film - film garapan Monty Tiwa? Biasanya film kocak yang sarat pesan. Bukan hanya menghadirkan kelucuan, melainkan juga nilai - nilai kehidupan. 

Di film ini, Widyawati berperan sebagai Oma Lastri yang kuliah lagi. Tentu saja hal itu menimbulkan gegar budaya bagi Oma Lastri. Perbedaan usia yang amat jauh antara Oma Lastri dan teman - teman kuliahnya itulah yang menimbulkan banyak kelucuan.

Mulai dari usaha keras Oma Lastri menyesuaikan diri dengan gaya bicara dan gaya hidup teman - teman se-gank-nya hingga kekagetan Karina Suwandi, anaknya, melihat kelakuan sang ibu.

Kocaknya film sudah dijumpai pada bagian awal cerita. Ketika Oma Lastri menjadi peserta ospek. Seniornya terbelalak saat tahu juniornya ini seusia omanya. 

"Lahir tujuh puluh tahun lalu," jawab Oma Lastri.
"Waduh! Tujuha puluh tahun lalu?"

Perkenalana Oma Lastri dengan Morgan Oey, Oemay, Mika Tambayong dan teman gank lain membuat hidup Oma Lastri lebih hidup. Ia sedikit banyak bias menghibur dirinya dari kesedihan dalam ditinggal orang yang amat disayanginya.

Keputusan Oma Lastri kuliah lagi sebenarnya adalah cara Oma mewujudkan cita - cita cucu tersayangnya. Karina Suwandi sebenarnya tidak setuju sang ibu kuliah. Ia mengkhawatirkan kondisi ibunya saat kuliah. Terrnyata kekhawatiran itu terjadi sejak awal perkuliahan.

Iszur Muchtar, menantunya, terkejut melihat wajah ibu mertuanya yang lebam. Ibu mertuanya ikut tawuran. Nah, di scene ini nih saya penasaran tawurannya seperti apa. Kebayang sih bakal kocak banget.  

Scene lain yang ngga kalah lucunya adalah saat Oma Lastri menjawab pertanyaan Slamet Raharjo.

"Kamu Lastri kan?" tanya Slamet Rahardjo
"Yoaa Braay," seru Oma Lastri

Saking gaulnya, Oma Lastri pun tidak keberatan dipanggil namanya saja oleh teman - teman kuliah. Hal itu tentu saja membuat Karina naik pitam. Ia menegur teman-teman kuliah ibunya karena menurutnya sikap mereka tidak sopan.

Sayangnya, sikap protektif Karina membuat Oma Lastri tidak nyaman. Ia menganggap Karina mengganggu kesenangannya. Akibatnya Oma Lastri mengancam akan angkat kaki dari rumah. 

Bagaimana kelanjutan kisahnya? alur ceritanya tetap seperti drama pada umumnya. Pasti ada pesan moril yang tersirat dari 

Film Mahasiswa Baru menyajikan alur cerita yang pasti membuat kita terpingkal - pingkal. Akting Morgan Oey semakin matang. Ditambah kocaknya Oemay yang menggemaskan.
 Apalagi waktu ia usul pakai istilah paguyuban mengganti sebutan gank. Hahaha...ekspresinya kocak sekali, gaes!

Akting Widyawati di film Mahasiswa Baru sangat berbeda dibandingkan film-filmnya yang lain. Kali ini ia menjadi oma yang enerjik, berusaha untuk gaul, dan gabung gank.

Ini pasti seru nih ditonton buat kamu yang masih kuliah atau mau kuliah. Ajak juga irangtua saat menontonnya. Mereka pasti bakal takjub banget melihat perbedaan drastis Widyawati di film Mahasiswa Baru.







Friday, August 9, 2019

Perencanaan Keuangan Keluarga Agar Segera Terbebas dari Lilitan Hutang

Masalah keuangan yang dialami sebuah keluarga atau rumah tangga memang berbeda-beda. Salah satunya adalah terlalu boros mengakibatkan terlilit hutang. Pada dasarnya, berhutang adalah hal yang normal saja terjadi. Kadangkala seseorang tidak memiliki dana untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sehingga terpaksa harus berhutang untuk membiayai hidupnya. Hanya saja jika jumlahnya sudah bertumpuk begitu besar, ia sulit melunasi hutangnya. Kondisi tersebut tentu akan membebani hidupnya bukan? Itulah alasan perlunya perencanaan keuangan keluarga yang benar.

minews.id

Di Indonesia, banyak lembaga keuangan yang menawarkan berbagai macam produk pinjaman, di antaranya adalah pinjaman berbasis agunan sampai dengan pinjaman tanpa agunan. Namun, apakah sebenarnya ini jalan keluar terbaik untuk melunasi hutang? Jawabannya tidak. Meminjam pada lembaga keuangan sama artinya dengan gali lubang tutup lubang. Tindakan ini akan memperparah kondisi finansial.


Tips Cepat Melunasi Hutang

Berikut ini diantaranya beberapa upaya untuk segera melunasi hutang keluarga Anda dengan cepat yang bisa diterapkan, yaitu:

1. Menganggarkan pengeluaran bulanan seminimal mungkin. dalam setiap rumah tangga tidak bisa dipungkiri jika seandainya ada begitu banyak jenis kebutuhan yang harus dipenuhi, mulai diantaranya adalah kebutuhan pokok hingga kebutuhan pelengkap lainnya.


2. mulailah untuk membenahi catatan pengeluaran Anda, ada baiknya diganti dengan yang baru dan upayakan agar memangkas pengeluaran agar jadi seminim mungkin, sehingga lebih banyak uang yang dapat di save atau digunakan membayar hutang.

3. Berhemat di berbagai sisi, tak hanya dalam hal belanja kebutuhan pokok saja, melainkan penghematan ini juga dapat dilakukan di beberapa komponen lain, mulai diantaranya adalah penggunaan listrik dan yang lainnya, meskipun tidak begitu besar, namun tetap saja ada beban pengeluaran yang dapat ditekan. Begitu juga dengan hal-hal kecil layaknya


4. menyiapkan bekal untuk suami maupun anak-anak, sehingga nantinya tidak jajan sembarangan di luar, cukup efektif dalam menghemat uang bukan.

5. Cari penghasilan tambahan, di zaman yang modern seperti sekarang ini sebenarnya ada banyak hal yang dapat dilakukan untuk mendapatkan income tambahan, seperti diantaranya adalah dengan memanfaatkan passion yang dimiliki untuk menjadi seorang freelancer,


6. kemudian juga Anda dapat mencoba menjajal bisnis tanpa modal layaknya menjual barang secara online dan sejenisnya. Jadi nantinya income untuk keluarga juga akan bertambah banyak, sebagian dapat digunakan untuk melunasi hutang.

7. Batasi pemakaian kartu kredit, bahkan jika bisa hindari menggunakan credit card untuk setiap transaksi keuangan atau pembayaran Anda, karena meskipun di satu sisi sebenarnya cukup menolong, namun tentunya Anda juga tahu bahwa setiap pembayaran dengan kartu yang satu ini selalu menyertakan adanya bunga bukan, semakin sering digunakan semakin banyak bunga yang harus dibayarkan.

8. Cerdas saat berbelanja kebutuhan, diantaranya adalah dengan mencari toko yang menjual berbagai macam kebutuhan dengan harga yang lebih murah. Jika biasanya Anda berbelanja kebutuhan sehari-hari di swalayan atau super market, maka sekarang dapat menggantinya dengan berbelanja ke pasar tradisional karena harga berbagai macam kebutuhan disana tergolong sangatlah murah.

Dengan perencanaan keuangan keluarga di atas nantinya akan mempercepat Anda untuk terbebas dari jeratan hutang. Jika nilai hutang sudah cukup tinggi dan sifatnya hutang produktif ada baiknya untuk mempertimbangkan menjual aset yang dimiliki untuk segera menutupnya.