Tuesday, October 15, 2019

Traveloka Experience Bikin Liburan Makin Berkesan



Travelling paling mengesankan yang saya alami adalah saat saya memutuskan travelling mendadak dan sendirian. Keinginan itu muncul begitu saja. Liburan sekejap ke Yogyakarta. Akhirnya setelah pengajuan cuti tiga hari disetujui, saya langsung mengecek ketersediaan tiket di  aplikasi Traveloka. Pas buka aplikasinya, mata saya langsung tertumbuk pada ikon baru. Tulisannya Traveloka Experience.




Dari informasi yang saya baca, Traveloka Xperience merupakan produk dan layanan baru dari Traveloka. Berbagai kebutuhan travel dan lifestye ada di Traveloka Xperience. Kita bisa menemukan berbagai jenis produk dan aktivitas liburan dan gaya hidup di Asia Tenggara mulai dari atraksi, bioskop, event, hiburan, spa dan kecantikan, olahraga, taman bermain, transportasi lokal, tur, pelengkap travel, makanan dan minuman, serta kursus dan workshop. Wah, yang terakhir ini saya suka sekali. Gimana pun, bagi saya, liburan bukan sekadar bersenang - senang, melainkan tetap harus ada tambahan ilmu.

Selain itu berbagai produk wisata yang ditawarkan, kita juga bisa menikmati ribuan pilihan pengalaman wisata di seluruh dunia yang didukung oleh metode pembayaran beragam, proses pemesanan cepat dan praktis, serta customer service 24/7. Semuanya tersedia dalam enam pilihan bahasa untuk memudahkan para penggunanya.


Penasaran ingin mencoba #XperienceSeru di Traveloka, setelah memesan tiket, saya juga memilih lokasi wisata yang akan saya kunjungi selama di Yogya serta workshop yang ingin saya ikuti selama liburan di sana. Semua saya lakukan di Traveloka Xperience dalam satu waktu.


Ternyata Traveloka memang serius kasih #XperienceSeru untuk customernya. Saya bisa mengakses Traveloka Experience dengan mudah, tanpa kendala berarti. Beragam pilihan dengan beragam harga membuat saya ingin mencoba semua. Karena cuti saya hanya tiga hari, saya harus bijak memilih lokasi dan agenda wisata yang cocok.

Kebetulan saya punya banyak teman yang menetap di Yogyakarta. Jadi, saya tidak perlu memikirkan akomodasi selama di sana. Saya bisa menginap di salah satu kost atau rumah salah seorang teman semasa kuliah. Jadi, saya bisa fokus pada anggaran jalan -jalan. Itulah pentingnya menjalin komunikasi dalam silaturahim. hehehe...

Karena saya berlibur di hari kerja, takada teman yang menemani. Ini pengalaman pertama liburan sendirian. Makanya saya pilih Yogyakarta karena sudah familiar dengan kota ini. Meskipun familiar, tetep aja perlu guide. Traveloka Xperience menjadi guide saya.

Kereta Lodaya jurusan Bandung – Solo yang saya naiki berangkat pukul 19.40 WIB. Kereta ini tiba di stasiun Tugu  Yogyakarta sekira pukul 03.00 WIB. Teman saya sudah standby di lokasi penjemputan. Mulanya saya tidak ingin merepotkannya menjemput di pagi buta. Rencananya saya akan menunggu subuh di stasiun. Setelah subuhan di musala, saya akan meneleponnya untuk jemput. Temanya tetep aja minta dijemput. Hahaha..

Ternyata Vivin, teman saya, sedang amat baik hati hari itu. Pukul 03.00 sudah nongkrong di Stasiun Tugu. Saya jadi terharu.. Kami bersahabat sejak ospek hari pertama di kampus. Kalau dihitung-hitung, sudah dua puluh tahun persahabatan ini terjalin. Terima kasih, Pin 😘

Setibanya di kost, kami ngobrol macam-macam hingga matahari terbit.  Hari ini saya berencana jalan-jalan ke Candi Prambanan. Saya sudah pesan tiketnya di Traveloka Xperience. Senangnya hati lihat harganya nggak mahal, dapat diskon pula. Ini yang saya suka! Banyak diskon di Traveloka Experience. hahaha #ketawabahagiabanget.

Perbedaan tarif antara turis lokal dan mancanegara memang jauh banget. Turis lokal bayar Rp 47ribu, sedangkan turis mancanegara bayarnya Rp 339.500,00. Itu pun sudah harga diskon. Cara pencetakan tiket yang dibeli di Traveloka sama seperti kita mencetak tiket -tiket lain yang kita beli lewat aplikasi. Saya memindainya lebih dulu lalu mencetaknya. Praktis dan aman dari kelalaian lupa taruh atau simpan tiketnya.

Jujur, lima tahun kuliah di Yogya, saya belum pernah benar-benar berwisata ke kompleks candi Hindu terbesar di Indonesia yang dibangun pada abad ke- 9 Masehi itu. Tidak hanya itu, Candi Prambanan juga termasuk Situs Warisan Dunia UNESCO. Sembilan belas tahun kemudian, saya baru berkesempatan melancong serius ke Candi Prambanan. Ealah..melancong serius..

Sebelum mengantar saya ke halteu Trans Jogja di jalan Solo, kami sarapan soto dulu. Saya lupa daerah mana. Yang pasti sedapnya soto itu masih bisa saya ingat sampai hari ini. Betapa berkesannya bukan? Bukaan …

“Ntar naik Trans Jogja jurusan Jombor, Gi.” Abis itu kamu bisa naik becak atau jalan kaki ke Prambanan,” ujar Vivin.

Ternyata Trans Jogja  yang saya naiki ini muter-muter dulu. Saya tidak ingat persis rutenya.  Bus ini juga singgah di Bandara  Adi Sucipto. Untungnya saya berangkat pagi. Jadi, hari masih termasuk pagi, sekira pukul 10.00 WIB saat saya tiba di terminal Jombor. Karena belum paham arah ke Candi Prambanan, saya memilih naik becak dengan tarif Rp 10ribu. Ternyata jaraknya dekat, jalan kaki juga ngga terasa capek.

Candi Prambanan dibuka untuk umum hari Senin - Minggu, pukul 06.00 WIB - 18.00 WIB. Kompleks Candi Prambanan sangat luas. Ada ratusan candi di sini. Sebagian candi ada yang sedang direnovasi. Nama - nama candi dipasang di pintu masuknya. Untuk mengelilingi kompleks, kita bisa menyewa sepeda. Ada sepeda tandem juga. Tarif sewanya Rp 25ribu / jam. 

Saya menjumpai Roro Jonggrang dan Batari Durga di salah satu candi dari 240 candi yang ada di kompleks ini. Ruangan dalam candi meski terbuka untuk umum rasanya kok tetap mistis ya? Ini perasaan saya saja sih . . .

Usai bersepeda, saya duduk - duduk di kursi - kursi yang disediakan di padang rumput di kompleks candi. Pengunjung bisa mengambil air mineral gratis sebagai pelepas dahaga. Suara gamelan sayup -sayup terdengar ditingkahi angin sepoi -sepoi. Suasana sejuk, tenang, dan damai. Inilah liburan yang menenangkan.



Karena piknik sendirian, otomatis ngga ada yang motretin setiap gerak langkah. Nggak papa sih, sejatinya wisata itu kan pengalaman batin; makanan spiritual. Ada atau tanpa foto - foto, kenangan yang tertinggal di hati lebih utama. Tapi, tetep aja sih perlu kenangan fisik. Kebetulan ada wisatawan lain yang mau mengambilkan foto. Foto cover tulisan ini satu -satunya foto yang saya punya selama menikmati kompleks Candi Prambanan.

Sebenarnya saya masih ingin berlama -lama di kompleks candi hingga senja tiba.  Malamnya saya bisa menonton sendratari Ramayana di pelataran candi. Sayangnya, hari itu tidak ada pentas. Padahal saya sudah mau beli tiketnya di Traveloka Experience. 

Layanan baru Traveloka ini mantap banget. Kita bisa mengakses informasi berbagai objek wisata yang ada di kota yang kita kunjungi. Banyak pilihan, banyak diskon, dan informasinya pun detail. 

Biar nggak penasaran, cuss ke aplikasi Traveloka lalu klik Traveloka Xperience. Tinggal kita siapin anggarannya aja. Makin tebel dompet kita, makin banyak yang bisa kita nikmati. Seru dan puas pokoknya. :)

Sunday, August 25, 2019

Mental Positif Orangtua Modal Komunikasi dengan Remaja

Adakah orangtua yang bisa amat santai menyikapi perubahan sikap anak - anaknya ketika mereka menginjak usia remaja? Kalau ada, saya angkat topi setinggi - tingginya. Saluut!

Dulu, semasa saya masih rutin mengajar siswa SMP dan SMA, seringkali saya membatin melihat polah tingkah sebagian anak yang tidak lazim. "Ini orangtuanya gimana sih? Anaknya ngga santun banget, anaknya malas, dan centil sekali."

Waktu itu, anak saya masih duduk di bangku SD dan masih amat penurut. Dari buku - buku parenting yang saya baca, anak masih bisa dibentuk hingga usia 12 tahun. Karena pada usia remaja, pengaruh lingkungan sangat kuat. Berangkat dari pemahaman itu, saya menjaga si sulung agar mempunyai 'bekal' cukup untuk perkembangan psikologisnya di usia remaja.

Ternyata, bekal dua belas tahun masih harus bersaing dengan pengaruh peer groupnya sejak ia duduk di kelas 7. Sejak itulah, berbagai kompromi dimulai, salah satunya pemakaian pewarna kuku, alat pelurus rambut, penjepit bulu mata, hingga liptint. Saat sedang mentok, seorang teman berkabar ada kelas parenting dengan tema Menjalin Komunikasi Asyik dengan Remaja di SMP Hikmah Teladan, Cimahi. Kelas parenting ini merupakan kerja sama antara Komite SMP Hikmah Teladan Cimahi dan Rumah Parenting.

Lisna Jaelani Albarqie (dokpri)
Tentu saja saya sangat antusias dengan kabar itu. Pada hari Jumat pagi, dengan penuh harapan dan semangat 45, saya bergegas menuju SMP Hikmah Teladan. Kelas Parenting dimulai pukul 09.00 WIB. Selain saya, hadir pula para orangtua siswa SMP Hikmah Teladan. Pembicara pada kelas ini adalah Ibu Lisna Djaelani Albarqie. Beliau merupakan salah seorang pendiri Rumah Parenting. Sebuah lembaga yang fokus pada bimbingan konseling pada remaja. Lembaga ini berlokasi di Bekasi, Jawa Barat.

Tiga Unsur Ketahanan Keluarga


Pembahasan dimulai dengan tiga unsur ketahanan keluarga. Menurut Ibu Lisa, ketahanan keluarga tercipta dengan tiga unsur :

1. adanya visi dan misi keluarga
Saat dua orang berniat membangun rumah tangga, seyogyanya keduanya sudah mempunyai modelling keluarga yang akan dibangun.

2. adanya komunikasi yang efektif  dengan pasangan dan anggota keluarga
Komunikasi efektif adalah komunikasi dua arah; ada timbal balik.

3. terlaksananya fungsi pokok keluarga
delapan fungsi pokok keluarga menurut BKKBN :
fungsi agama, fungsi kasih sayang, fungsi perlindungan, fungsi sosial budaya, fungsi reproduksi, fungsi sosialisasi dan pendidikan, fungsi ekonomi, dan fungsi pembinaan lingkungan.

Ketiga unsur ketahanan keluarga ini menentukan peran orangtua dalam tahapan perkembangan anak. yang terbagi atas tujuh tahapan. Sejauh mana orangtua berperan menjadi teladan dalam kehidupan sehari -hari berdasarkan delapan fungsi pokok keluarga.

Dokpri

Pada tahap masa pubertas hingga masa remaja akhir, 70% pengaruh datang dari lingkungan dan 20% masih ada pada orangtua. Persentase pengaruh orangtua bisa lebih bisa apabila pada usia 1 - 9 tahun, kedekatan antara anak dan orangtua maksimal.

Problem Komunikasi pada Remaja

Orangtua sering mengeluhkan betapa sulitnya berbicara pada remaja agar mereka mau mendengarkan dan patuh. Sementara itu, remaja pun mempunyai keluhan yang kurang lebih sama. Orangtua cenderung memerintah dan menuntut agar ia selalu mau menurut padahal sebagai individu, ia pun punya pandangan dan pendapat sendiri yang ingin dihargai.

Menurut Ibu Lisa, problem komunikasi pada remaja biasanya disebabkan oleh ketidakpahaman akan tugas perkembangan dan karakteristik remaja serta pola asuh yang diterapkan orangtua dalam keluarga. belajar membuat keputusan merupakan salah satu contoh tugas perkembangan utama remaja. Pada usianya, ia harus bisa menentukan akan makan apa, akan pergi ke mana, dan berteman dengan siapa.

Kemampuan anak membuat keputusan menandakan ia sudah mandiri secara mental. Agar kondisi ini berjalan dengan baik, orangtua harus menghindari delapan hal berikut ini :
  • menyalahkan
  • menyindir
  • bersikap sinis
  • mengungkit - ungkit
  • membuat remaja menangis karena dimarahi habis - habisan
  • menceramahi
  • mengganggu
  • bersikap berlebihan

Tiga Sikap Mental Positif Orangtua

Mendidik remaja bukan perkara sederhana. Orangtua remaja harus mempunyai tiga sikap mental positif, yaitu kesabaran, ketabahan, dan stamina. Tiga faktor utama yang bisa membangun pola pikir dan kesadaran untuk memahami dan memberi ruang remaja menjadi individu bermental mandiri dan menghargai.

Tentang Rumah Parenting

Kelas parenting yang diselenggarakan di SMP Hikmah Teladan ini merupakan salah satu program yang dimiliki Rumah Parenting dalam memfasilitasi pendidikan, pembinaan, dan konseling bagi orangtua dan keluarga.

Sejak berdiri 6 November 2006, Rumah Parenting sudah menyelenggarakan berbagai program, seperti pelatihan, seminar / workshop, Forum Bunda, dan konseling keluarga serta pernikahan. Selain itu, lembaga swadaya masyarakat ini juga mmpunyai divisi literasi untuk anak, remaja, dan dewasa. Lembaga ini juga bekerja sama dengan eRTeKa Giga dalam memberikan penyuluhan / sosialisasi tentang gaya hidup remaja yang benar agar terhindar dari perilaku dan
penyimpangan sosial yang akhir -akhir ini banyak menimpa remaja di Indonesia. Tujuan kerja sama ini adalah membangun pola pikir dan sikap remaja agar mempunyai seksualitas yang sehat dan lurus.

Rumah Parenting dan Komite SMP Hikmah Teladan (dokpri)




Friday, August 23, 2019

Review Film Bumi Manusia : Tiga Jam Yang Tidak Membosankan


Meskipun saya kurang sreg dengan Iqbaal sebagai Minke, saya tetap menonton Bumi Manusia. Sebagai pembaca tetralogi Pulau Buru, saya penasaran juga ingin tahu bagaimana Hanung menerjemahkan 535 halaman novel Bumi Manusia ke dalam film berdurasi 181 menit.

Jadi, semua bermula dari rasa ingin tahu. Selain itu, saya pun takingin menghakimi film Bumi Manusia tanpa menontonnya lebih dahulu. Sebagai aktor, saya yakin Iqbaal yang identik dengan Dilan pasti bekerja keras memahami karakter Minke dan menghidupkannya dalam film. Pasti ada workshop, pendalaman karakter, dan sebagainya.

Jadilah, di hari perdana pemutarannya, 15 Agustus 2019, saya menonton Bumi Manusia. Mulanya saya kira kursi di studio akan penuh. Ternyata dugaan saya meleset. Hanya sepertiga kursi terisi.

Film ini dibuka dengan lagu Indonesia Raya. Sayangnya, saat lagu ini dikumandangkan, penonton tetap duduk manis. Mungkin seharusnya ada yang mengomandoi untuk berdiri. Saya pun ragu -ragu untuk berdiri karena yang lainnya duduk, hehe..

Alur Cerita Film Bumi Manusia

Setelah lagu Indonesia Raya berkumandang, layar dibuka dengan rangkaian gambar kondisi Indonesia pada tahun 1890an. Bersamaan dengan itu, ada monolog keprihatinan Minke tentang ketertindasan bangsanya sekaligus kekagumannya pada modernitas yang dibawa Eropa.

Minke keturunan bangsawan sehingga ia bisa sekolah di HBS. Pendidikan Eropa yang diterimanya sejak duduk di sekolah dasar membuatnya terkagum - kagum pada semua hal tentang Eropa. Kekaguman itu pelahan redup sejak perkenalannya dengan Nyai Ontosoroh, perempuan pribumi yang menjadi selir Herman Mellema, pemilik Boerderij Buitenzorg di Wonokromo.

Kisah ini dimulai oleh gedoran Robert Suurhof di pintu kamar Minke. Gedoran itu menimbulkan keriuhan di pagi hari. Mevrouw Telinga, ibu kost Minke, keluar dan menegur Robert. Sementara itu, Minke yang masih amat mengantuk terpaksa membuka matanya. Minke spontan keluar kamar melihat keramaian begitu Robert memberi tahu hari ini penobatan Ratu Wilhelmina.

Kemeriahan penobatan Sang Ratu Belanda terasa hingga negeri jajahannya, Hindia Belanda. Bendera merah putih biru berbagai ukuran dikibarkan. Orang - orang Belanda merayakannya dengan berwisata, makan -makan, juga berbelanja. Indo dan Pribumi pun tidak ketinggalan meskipun mereka takbisa masuk ke kafe  orang-orang Eropa.

Ajakan Robert Suurhof mengunjungi Buitenzorg, tempat tinggal Robert Mellema, pada Minke ternyata malah membangun relasi romantis antara Minke dan Annelies. Suurhof hanya bisa gigit jari melihat Annelies, adik Robert Mellema sekaligus pujaan hatinya, langsung terpikat pada Minke.

Meskipun Annelies cantik tiada banding, bukan Annelies yang meninggalkan kesan mendalam di hati Minke, melainkan Nyai Ontosoroh, ibunda Annelies. Sosok Nyai Ontosoroh amat berbeda dengan nyai - nyai lain yang selama ini dikenal masyarakat Hindia Belanda. Perempuan bernama asli Sanikem itu cerdas, berpendidikan, dan fasih berbahasa Belanda.

Konflik pun bergulir sejak Minke berkenalan dengan keluarga kaya raya, tetapi penuh luka. Mulai dari teguran keras Ayah Minke, Bupati B, terhadap kedekatannya dengan sang Nyai hingga terseretnya ia dalam pengadilan pembunuhan Herman Mellema, ayah Annelies.

Film Bumi Manusia lebih fokus pada kisah cinta Minke dan Annelies. Pemikiran dan perjuangan Minke melalui tulisan adalah penunjang cerita. Namun, ini juga takbisa dipersalahkan. Mengapa? Tujuan awal pembuatan film Bumi Manusia memang bermaksud memperkenalkan karya Pramoedya Ananta Toer kepada generasi milenial akhir hingga generasi Z.

Jika yang disampaikan pergolakan pemikiran Minke, cerita akan rumit dan takcukup menerjemahkannya dalam 181 menit. Karena itu pula, peran Magda Peter, guru sastra HBS yang menjadi partner diskusi Minke, tidak menonjol seperti diceritakan dalam novelnya.

Apa yang Membuat Film Ini Bagus?


Sinematografinya cantik.

Pengaturan kamera, pencahayaan, dan aspek visual dalam film ini tersaji cantik dan indah.

Properti filmnya oke

Tim produksi film berhasil menghadirkan desain set yang mampu menghidupkan suasana kolonial, seperti dalam novelnya. Beberapa contoh adalah kostum Nyai Ontosoroh, peralatan makan yang klasik, koran berbahasa Belanda dengan isi berita yang cukup detail, dan sebagainya.
Para Pemeran Bumi Manusia

Banyak orang meragukan Iqbaal sebagai Minke. Keraguan itu menyebabkan keengganan menonton  film ini. Padahal, Minke dalam film tak mengecewakan kok. Meskipun Iqbaal terlalu ganteng sebagai  Minke dan beberapa ekspresi masih kurang mengena, kerja keras Iqbaal tetap saya apresiasi. Setidaknya sekarang saat membaca lagi novel Bumi Manusia, yang ada di benak saya adalah Minke yang  ganteng. hehehe...
    
Bagaimana dengan Annelies di film? Kecantikannya meleset dari yang saya bayangkan sebagai bunga penutup abad. Ia pun tidak terlampau kekanak - kanakan seperti yang diceritakan Pram dalam novelnya. Namun, Mawar Eva tetap memesona sebagai Annelies yang ceria dan kuat dalam  kerapuhannya melawan tumpukan trauma.

Lalu adakah yang memenuhi ekspektasi sebagai tokoh yang sama persis seperti dalam novelnya?

Nyai Ontosoroh dan Annelies (dok. falconpicture)

Tentu saja ada. Sha Ine Febriyanti berhasil menjadi Nyai Ontosoroh yang tangguh, cerdas, tegas, dan bijaksana. Ekspresi wajah, sorot mata, dan bahasa tubuhnya sangat natural. 

Pun dengan Wani Dharmawan sebagai Darsam. Seniman dari Yogyakarta ini menjelma menjadi Darsam yang garang, sangar, tetapi amat setia pada Nyai Ontosoroh. Kumis baplang, sorot mata tajam, baju serbahitam,. dan sebilah parang di pinggang. Dialah penjaga keselamatan Nyai Ontosoroh, Annelies, dan Minke. Bahkan Herman Mellema dan anak laki -lakinya, Robert Mellema, langsung gentar hanya mendengar namanya.


dok. idntimes.com
Ayu Laksmi sebagai Ibunda Minke. Scene-nya sedikit, tetapi aktingnya luar biasa. Perempuan bangsawan Jawa yang bijaksana, lembut, dan teguh  terpancar dalam suara dan sorot matanya. Sementara, Donny Damara, sang Ayahanda hampir tak saya kenali. Kumis tebal melintang, suara dalam, dan galak. Sosok Bupati feodal pada umumnya.

Christian Sugiono sebagai Kommer. Ia adalah jurnalis yang sangat bersimpati pada masyarakat Hindia Belanda. Perannya termasuk sentral dalam perjalanan Minke di tetralogi Pulau Buru. Sama seperti Jean Marais. Bedanya, saya melihat akting suami Titi Kamal ini kurang nendang. Mungkin karena hanya ada dua scene, jadi belum terasa betul kehadirannya.

Pemeran figuran sebagai pembantu rumah tangga Nyai Ontosoroh juga berperan penting menghidupkan suasana segar. Kelucuan muncul pada celetukan dan ekspresi mereka. 

Pesan Moral Film

Quote inspiratif bertebaran di film ini. Jean Marais menekankan tentang mahapentingnya adil sejak dari pikiran bagi kaum terpelajar. Sementara Nyai Ontosoroh berulangkali menyampaikan kita harus melawan sebagai bentuk mempertahankan kehormatan.  "Dengan melawan, kita takkan sepenuhnya kalah, Nyo."

Perlawanan terhadap diskriminasi kelas di masa kolonial seharusnya bisa menjadi renungan bagi kita tentang betapa berhargannya pengakuan atas kemerdekaan dan persamaan hak martabat yang kita miliki di masa sekarang.

Nyai Ontosoroh yang kaya raya tak berdaya menghadapi diskriminasi kelas yang dialaminya. Begitupula dengan Minke. Meskipun bangsawan terpelajar, ia harus menerima pernikahan legalnya secara Islam dianggap takada di hadapan hukum Belanda. Di titik itu, saya merasa betapa malangnya kita sebagai bangsa Pribumi. Bahkan hukum Islam pun tidak dianggap ada oleh pemerintah kolonial. Tragisnya..

Agar tak penasaran, sebaiknya tontonlah film ini. Agar tak tergesa menyimpulkan hanya dari review -review yang sudah dibaca, termasuk review saya. Salam :)

Wednesday, August 14, 2019

Launching Kampung Wisata Quran di Kiaracondong Bandung


Sejak berdiri tahun 2013 silam, perusahaan Syaamil Group berkembang pesat hingga menjadi produsen Al Quran terbesar di negeri ini. Sebagai perusahaan yang bervisi membumikan Al Quran dan menghidupkan sirah, Syaamil Group bekerja sama dengan pengurus lingkungan di sekitar Syaamil Group, yaitu RT, RW, kelurahan , dan kecamatan untuk menggagas Kampung Wisata Al Quran.

Gagasan itu terealisasi dengan peluncuran Kampung Wisata Quran pada Senin, 12 Agustus 2019. Peluncuran ini dihadiri Chairman Syaamil Group, Riza Zacharias, Plh Walikota Bandung, Yana Mulyana, S.E., MM., Camat Kiaracondong, Dra. Rina Dewiyanti, M.Si., serta pejabat terkait. Para jurnalis media online dan teman - teman blogger dari Komunitas Blogger Bandung pun turut hadir dalam acara ini.

Kampung Wisata Quran

Program Kampung Wisata Quran sejalan dengan program Kiaracondong Agamis. Pada program ini, Kiaracondong akan membuat kampung - kampung Quran di setiap kelurahan dengan visi Lingkungan Cinta Quran.

Kiaracondong Agamis ini sesuai dengan visi Syaamil Group, yaitu menjadi perusahaan terdepan dalam membumikan Al Quran dan menghidupkan sirah. Peluncuran Kampung Wisata Quran merupakan implementasi dari visi membumikan Quran, di antaranya adalah program rumah Syaamil Quran, Wakaf 1 juta Al Quran, program Semua Bisa Ngaji dengan tagline "Kampung Bebas Buta Huruf Al Quran".

Nah, Wisata Quran ini yang paling populer. Saya jadi penasaran seperti apa Wisata Quran yang ditawarkan Syaamil Quran? Pada Senin, 12 Agustus 2019 lalu, sebelum launching Kampung Wisata Quran, kami diajak berwisata Quran di kantor Syaamil Group. Kami berkeliling ruang percetakan melihat proses pencetakan Quran.   

Sebagian proses pembuatan Quran (dok.pribadi)

Saat melihat proses pencetakannya, ada haru menyusup di hati. Terlebih ketika saya berbincang dengan Bapak Syamsul, bagian quality control. Setiap lembaran Quran yang akan dicetak harus melewati proses pengecekan, baik tanda baca pada setiap huruf maupun warna - warna sebagai penanda di ayat -ayatnya, "Di sini, ada banyak varian Quran yang dicetak. Jadi, harus teliti banget mengeceknya, jangan sampai ada kesalahan," jelas beliau.

Kiaracondong Agamis

Kali ini, program Wisata Quran Syaamil Group berkolaborasi dan bersinergi dengan warga Kiaracondong untuk bersama -sama mewujudkan Kiaracondong Agamis. Program Kiaracondong Agamis bertujuan untuk melakukan pembinaan spriritual warga masyarakat agar bersama -sama menciptakan lingkungan yang cinta Quran dan bebas buta Al Quran.

Sementara itu,  Program Kampung Wisata Quran diharapkan bisa menjadi destinasi wisata tematik dan edukatif bagi masyarakat sekitar dan pengunjung dari berbagai wilayah di luar Kiaracondong bahkan di luar Kota Bandung. Kampung Wisata Quran ini gratis dan terbuka untuk umum. Alamatnya di Jalan Babakan Sari I/ No. 71 Kiaracondong Bandung. Wisata ini untuk rombongan bukan perorangan. Jika Anda ingin berkunjung secara perorangan, saat kunjungan Wisata Quran, Anda akan digabungkan dengan rombongan lain. 

Wisata Quran untuk umum dibuka setiap hari Rabu dan Kamis. Ada dua sesi pada setiap jadwal kunjungan. Sesi pagi pada pukul 09.00 WIB - 11.00 WIB. Sesi siang pada pukul 13.00 WIB - 15.00 WIB. Sebelum datang ke lokasi, pengunjung harus membuat janji dengan bagian Wisata Quran Syaamil Group di nomor 0227208298.


Sunday, August 11, 2019

Ketika Oma Widyawati Kuliah Lagi di Film Mahasiswa Baru

                                                     
mncmovie.com

Awal Agustus 2019 ini, ada film keluarga kocak yang dibintangi aktor senior Widyawati dan Slamet Rahardjo. Judul filmnya adalah Mahasiswi Baru. Dua nama besar ini sudah bisa menjamin kualitas filmnya.

Siapa aktor pendukung lainnya? Di antaranya Morgan Oey, Mikha Tambayong, dan Oemay Shahab. Sutradaranya juga ngga kalah keren lho. Siapakah dia? taklain dan takbukan, dialah Monty Tiwa.

Sudah tau kan film - film garapan Monty Tiwa? Biasanya film kocak yang sarat pesan. Bukan hanya menghadirkan kelucuan, melainkan juga nilai - nilai kehidupan. 

Di film ini, Widyawati berperan sebagai Oma Lastri yang kuliah lagi. Tentu saja hal itu menimbulkan gegar budaya bagi Oma Lastri. Perbedaan usia yang amat jauh antara Oma Lastri dan teman - teman kuliahnya itulah yang menimbulkan banyak kelucuan.

Mulai dari usaha keras Oma Lastri menyesuaikan diri dengan gaya bicara dan gaya hidup teman - teman se-gank-nya hingga kekagetan Karina Suwandi, anaknya, melihat kelakuan sang ibu.

Kocaknya film sudah dijumpai pada bagian awal cerita. Ketika Oma Lastri menjadi peserta ospek. Seniornya terbelalak saat tahu juniornya ini seusia omanya. 

"Lahir tujuh puluh tahun lalu," jawab Oma Lastri.
"Waduh! Tujuha puluh tahun lalu?"

Perkenalana Oma Lastri dengan Morgan Oey, Oemay, Mika Tambayong dan teman gank lain membuat hidup Oma Lastri lebih hidup. Ia sedikit banyak bias menghibur dirinya dari kesedihan dalam ditinggal orang yang amat disayanginya.

Keputusan Oma Lastri kuliah lagi sebenarnya adalah cara Oma mewujudkan cita - cita cucu tersayangnya. Karina Suwandi sebenarnya tidak setuju sang ibu kuliah. Ia mengkhawatirkan kondisi ibunya saat kuliah. Terrnyata kekhawatiran itu terjadi sejak awal perkuliahan.

Iszur Muchtar, menantunya, terkejut melihat wajah ibu mertuanya yang lebam. Ibu mertuanya ikut tawuran. Nah, di scene ini nih saya penasaran tawurannya seperti apa. Kebayang sih bakal kocak banget.  

Scene lain yang ngga kalah lucunya adalah saat Oma Lastri menjawab pertanyaan Slamet Raharjo.

"Kamu Lastri kan?" tanya Slamet Rahardjo
"Yoaa Braay," seru Oma Lastri

Saking gaulnya, Oma Lastri pun tidak keberatan dipanggil namanya saja oleh teman - teman kuliah. Hal itu tentu saja membuat Karina naik pitam. Ia menegur teman-teman kuliah ibunya karena menurutnya sikap mereka tidak sopan.

Sayangnya, sikap protektif Karina membuat Oma Lastri tidak nyaman. Ia menganggap Karina mengganggu kesenangannya. Akibatnya Oma Lastri mengancam akan angkat kaki dari rumah. 

Bagaimana kelanjutan kisahnya? alur ceritanya tetap seperti drama pada umumnya. Pasti ada pesan moril yang tersirat dari 

Film Mahasiswa Baru menyajikan alur cerita yang pasti membuat kita terpingkal - pingkal. Akting Morgan Oey semakin matang. Ditambah kocaknya Oemay yang menggemaskan.
 Apalagi waktu ia usul pakai istilah paguyuban mengganti sebutan gank. Hahaha...ekspresinya kocak sekali, gaes!

Akting Widyawati di film Mahasiswa Baru sangat berbeda dibandingkan film-filmnya yang lain. Kali ini ia menjadi oma yang enerjik, berusaha untuk gaul, dan gabung gank.

Ini pasti seru nih ditonton buat kamu yang masih kuliah atau mau kuliah. Ajak juga irangtua saat menontonnya. Mereka pasti bakal takjub banget melihat perbedaan drastis Widyawati di film Mahasiswa Baru.