Langsung ke konten utama

Tentang Ibu

Takbanyak kenangan manis yang kusimpan tentang ibu. Sebagian besar jejak yang tertinggal dalam ingatan tentang ibu adalah kebiasaan mengomel yang bagiku sangat menyebalkan. Takbanyak kenangan manis tentang perempuan yang telah bersusah payah melahirkanku puluhan tahun silam itu.

Kuakui, aku memang tidak dekat dengan ibu. Ingatan tentang kebersamaanku dengan ibu pun takbanyak. Bukan karena ibu sibuk bekerja, melainkan karena ibu lebih sering memarahiku ketimbang bersikap lembut seperti kisah-kisah tentang ibu yang sering kubaca.

Ada juga kenangan tentang betapa heroiknya ibuku saat aku sakit. Waktu itu aku duduk di kelas 2 SMP. Ibu menggendongku dari tempat praktik dokter sampai rumah karena aku takkuat berjalan. Kenapa ibu tidak memanggil becak waktu itu ya? Apakah karena ibu takpunya uang? Bisa jadi begitu karena ibu harus sangat cermat dan hemat mengelola keuangan setelah bapak meninggal saat aku duduk di kelas 1 SMP. Ingatan lain adalah saat ibu harus bersusah payah mengantar aku ke dokter waktu sakit bronchitisku kambuh. Kami harus naik turun angkutan umum dan melewati pasar yang becek juga ramai. Aku masih ingat ibu mengeluh karena harus mengalami perjalanan yang tidak nyaman. Kalau ingat itu, aku sangat berterima kasih pada ibu.

Jika kubuat perbandingan, kenangan tentang ibu lebih banyak tidak menyenangkan ketimbang sebaliknya. Sejak remaja, aku sering memberontak kepada ibu. Mengapa itu kulakukan? Karena ibu menikah lagi sepeninggal bapak. Itu hal yang wajar sebenarnya, tetapi bagiku tidak. Alasan utamanya karena bapak tiriku sudah beristri sebelumnya. Kedua kakakku dan adik tunggalku sebenarnya tidak setuju, tetapi mereka hanya diam dan tak berdaya dalam ketidaksetujuannya.

Pemberontakanku menimbulkan konflik antara aku dan ibu. Konflik yang membekas di hati hingga hari ini. Selain konflik yang disebabkan pernikahan ibu dan bapak tiriku, konflik-konflik lain muncul saat aku memilih sekolah dan melanjutkan kuliah. Mulanya ibu taksetuju dengan pilihan SMA-ku. Ibu pun taksetuju dengan pilihan perguruan tinggi negeri yang kuputuskan. Seiring berjalannya waktu dan kekerasan hatiku, akhirnya ibu menerima pilihanku. Perjuangan yang menguras energi, termasuk cucuran air mata saat aku keukeuh memilih sekolah dan perguruan tinggi tertentu sebagai tempatku menimba ilmu.

Ternyata perbedaan pendapat pun masih berlanjut pada keputusanku menikah saat kuliah. Ibu menentangnya. Namun akhirnya ibu melunak. Ibu mengizinkanku menikah setelah aku diwisuda. Ini sangat berbeda dengan ketetapan ibu sebelumnya. Semua anaknya boleh menikah jika sudah bekerja. Ternyata kegigihan bisa mengubah keputusan.

Seruwet apa pun konflikku dengan ibu, ibu takpernah meninggalkanku. Ibu selalu ada dalam setiap peristiwa kehidipan yang kualami meskipun tak terlibat secara spiritual. Maksudnya, ibu bukan tempatku mencurahkan semua keluh kesah saat kesulitan menimpaku. Ibu selalu ada membantuku,meringankan bebanku secara fisik dan itu sebenarnya pun sangat membantu.

Saat aku ada di masa transisi pasca perceraian. Ibu membantuku menjaga anakku yang masih balita; mengurus semua keperluannya karena aku harus bekerja di luar kota. Ibu takpernah melihatku menangis sedih dalam kondisi sesulit apa pun. Ibu hanya tahu aku sedang dalam kesulitan lalu ibu membantuku menyelesaikan urusan sehari-hari. Dan mengingat semuanya sekarang, aku sangat berterima kasih pada beliau.

Mungkin benar simpulan tentang hubungan antara ibu dan anak perempuan yang takpernah mulus. Selalu ada perbedaan, ada konflik, tapi saling membutuhkan. Hm..bukankah warna serupa juga dialami dalam hubungan antara ayah dan anak perempuannya, ibu dan anak laki-lakinya? Entahlah . . .
Di usiaku yang sudah semakin dewasa ini, aku semakin sering merenungi peran ibu dalam hidupku. Aku pun mengurai ingatan tentang ibu semasa kecil, remaja hingga dewasa. Banyak kenangan pahit tentang ibu yang sulit kuhapus karena beberapa kenangan itu menyebabkan kerumitan bagi keluarga kami juga -mungkin- kesedihan panjang di hati ibu saat ini. Namun, setelah begitu banyak hal yang ibu lakukan untukku, aku sangat menghargai ibu. Meskipun masih banyak ketidaksepakatanku terhadap keputusan-keputusan yang ibu buat, sudah waktunya aku memaklumi itu.

Usia ibu sudah kepala enam. Tak elok jika aku tetap keras kepala menentang beliau. Keinginan ibu agar kami tinggal di rumah sepeninggal bapak tiriku memang tidak serta-merta langsung kusetujui. Aku harus membicarakannya dengan suamiku. Sementara, cukup banyak juga ketidaksepakatannya terhadap keputusan-keputusan ibu. Aku sadar sudah bukan waktunya aku keras kepala seperti belasan tahun silam. Sudah waktunya aku memaklumi ibu dan menemani beliau di usianya yang sudah lanjut ini. Meskipun beliau masih super aktif, aku harus bersiap dengan kondisinya yang mungkin bisa menurun drastis kelak. Menemaninya dan merawatnya.

Membayangkan ibu kelak tak berdaya karena usia tuanya membuatku sedih dan ingin memeluknya . .

Komentar

  1. semasa ibu masih ada aku juga selalu berontak kadang acuh sepeninggal almh ibu aku baru kenyadari tiada cinta kasih yang dot menggantikan kasih ibuku ☺️ smg mb dn keluarga sehat2 yah aamiin

    BalasHapus

Posting Komentar

Pos populer dari blog ini

Renungan Kematian

Hari Minggu kemarin, saya dan keluarga menjenguk tetangga sebelah yang dirawat di Rumah Sakit Kebon Jati, Bandung. Karena terbiasa memanggil `Mbah`, setibanya di rumah sakit, mulanya saya bingung juga nama beliau saat bertanya pada satpam lokasi ruangan Bougenville tempat beliau dirawat. Setelah menelepon Ibu RT, akhirnya saya tahu nama beliau, `Ibu Supiah`. Duh, hampir dua tahun kami bertetangga, saya takpernah mengetahui nama beliau. Betapa saya tetangga yang payah karena terlalu sibuk bekerja. Ruang Bougenville terletak di lantai 2 gedung ini. Saya baru dua kali menjenguk relasi di rumah sakit ini. Kali pertama kalau tidk aslah semasa SMP, waktu itu, saya bersama teman-teman sekelas menjenguk wali kelas kami. Bangunan rumah sakit ini kusam, terkesan tidak terawat. Kesan lain yang tertangkap adalah bagnunan ini seperti sedang direnovasi.  Semoga kesan kedua yang benar. Entah karena bangunan tua entah karena kusamnya, jika kelak terpaksa harus dirawat di rumah sakit, semoga dirawat…

Makna Headline bagi Kompasianer

Lama sekali saya tidak menulis di kompasiana. Saking lupanya, saya tidak ingat kapan terakhir menulis di sana. Seperti yang lain, ide menulis sebenarnya kerap muncul, tapi eksekusinya yang sering gagal. Akibatnya, ide-ide itu menguap tanpa bekas. Yang tersisa hanya sisa-sisa kata yang taktahu bagaimana merangkai alurnya. 
Mulanya saya sangat semangat menulis tentang kemenangan Trump di Pilpres Amerika November silam. Namun, kesempatan fokus menulis yang tak kunjung disempatkan membuat ide berikut gambaran tentang alur tulisan itu menguap pelahan hingga hilang. Akhirnya, ya sudah, tak ada ide menarik lagi untuk ditulis. Saya agak menyesal sebetulnya karena momentum menulis tentang Trump saat itu sedang hangat-hangatnya. Di koran langganan saya, hampir tiap hari opini yang dimuat bicara tentang Trump dari berbagai sudut pandang. Saya memang tidak atau lebih tepatnya belum berencana mengirimkan tulisan itu -kalau sudah jadi- ke media cetak. Cukuplah saya posting di Kompasiana. Mengapa Kom…

Lalu Lalang Pikiran

Selamat pagi . . . 
Cukup cerah Kamis pagi ini. Kecerahannya tidak menyurutkan berbagai pikiran yang lalu lalang di kepala saya. Banyak hal minta diurai agar takjadi beban. Bagaimana pun klasifikasi masalah atau tugas itu perlu dilakukan.
Ada dua naskah yang sudah ditunggu penerbit. Saya menjanjikan akhir minggu ini selesai. Sayangnya, inkonsistensi menghambat lagi. Dua hari kemarin saya keasyikan membaca Intelegensi Embun Pagi-nya Dee. Buku ini saya beli April 2016 silam dan baru dibaca dua hari kemarin. Sebelum 2016 berakhir, buku ini harus selesai. Resensinya menyusul. Akan saya tulis setelah resensi Dawai-Dawai Ajaib Frankie Presto karya Mitch Albom saya selesaikan. Sebelum 2016 berakhir, harus ada resensi yang saya kirim ke media. Dimuat atau tidak, itu urusan lain. 
Nah, karena keasyikan membaca itu, slogan "tar sok..tar sok..." melanda saya. Di hari Kamis ini, kesadaran itu menyeruak lagi. INGAT! modal penulis freelance adalah kepercayaan agar ada proyek-proyek lanju…