Minggu, 04 Juni 2017

Mari Menjaga Indonesia



Dewasa ini, sejak media sosial menjadi media paling efektif menyampaikan gagasan, setiap orang menggunakannya sebagai buku harian. Mereka bisa bebas bercerita tentang apa saja. Bahkan saat mereka marah, mereka bisa menumpahkan unek-uneknya sesuka hati. Tanpa perlu menyaring atau mengkhawatirkan ada pihak-pihak yang tersinggung dengan unek-unek yang disampaikan.

Mulanya, unek-unek itu seputar urusan pribadi. Sebal pada si A, jengkel pada si B, dan lain-lain. Lambat laun, masalah politik dan ideologi pun mewarnai beranda media sosial. Analisis politik berubah menjadi hujatan dan makian. Hal itu bergulir bak bola salju hingga menimbulkan friksi di masyarakat.

Media sosial pun menjadi semakin ramai dengan status-status bersahutan. Suasana di dunia maya yang panas merembet ke kehidupan nyata. Pecahnya persahabatan, rusaknya persaudaraan, hingga hambarnya hubungan pernikahan akibat perbedaan pilihan politik. Ini makin lama makin mengkhawatirkan.

Ternyata, meskipun disebut-sebut sebagai salah satu negara demokrasi terbesar di dunia, masyarakatnya belum siap dengan keragaman. Padahal negeri ini disatukan oleh perbedaan. Para pendiri pun memilih semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang diambil dari kitab Negarakertagama sebagai semboyan pemersatu bangsa.

Berbagai informasi yang bertebaran di media sosial seringkali tidak disikapi bijaksana oleh sebagian masyarakat. Mudahnya membagi informasi tanpa disaring terlebih dahulu menimbulkan kecurigaan antarkelompok. Hal ini tentu membahayakan kerukunan dan ketertiban bangsa. Betapa mengerikannya jika negeri yang mulanya damai tenteram ini berubah chaos tak terkendali seperti di Suriah, misalnya.

Sebelum semua tidak terkendali, penting bagi lembaga-lembaga tinggi negara mempunyai cyber army. Cyber army ini bertugas menghalau informasi negatif dan menyadarkan masyarakat agar tak mudah terkecoh hoax. Bagaimana pun, tradisi literasi yang buruk akan memudahkan hoax masuk dan mencuci otak pembacanya.

Majelis Permusyawaratan Rakyat sebagai salah satu lembaga tinggi negara pun mengajak para blogger sebagai cyber army-nya. Bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional, MPR mengadakan gathering dengan netizen Bandung. Acaranya yang dihadiri Sekjen MPR dan para staf ini diselenggarakan di Hotel Novotel Bandung. Pada kesempatan itu, Sekjen MPR menekankan pentingnya warga negara memahami etika kehidupan berbangsa.

Suasana gathering MPR dan Netizen. dok.pribadi

Dalam Tap MPR RI Nomor VI/MPR/2001 tentang etika kehidupan berbangsa dijelaskan ada enam etika kehidupan berbangsa. Keenam etika itu adalah etika sosial budaya, etika politik dan pemerintahan, etika ekonomi dan bisnis, etika penegakan hukum yang berkeadilan, etika keilmuan, dan etika lingkungan.
 
Selain menjelaskan pentingnya etika kehidupan berbangsa, Sekjen MPR, Ma'ruf Cahyono, juga menekankan tentang empat pilar kebangsaan, yaitu NKRI, Pancasila, UUD 1945, dan Bhinneka Tunggal Ika. Empat pilar ini diharapkan dapat menjadi perekat dalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. 
Buku saku yang harus dipelajari agar paham Indonesia. dok.pribadi

Pilar-pilar ini menjadi cermin bagi masyarakat Indonesia dalam berinteraksi dengan sesama di dunia maya dan dunia nyata. Krisis multidimensi yang dialami bangsa ini sebenarnya bisa diatasi jika semua orang berhati-hati dalam menggunakan lidah dan tangannya agar tak menyakiti orang lain. Minimnya etika pergaulan menyebabkan banyak pihak saling menyakiti agar tampak lebih hebat, lebih keren, dan benar.

Jika kondisi saling menjatuhkan ini terus terjadi, Indonesia benar-benar ada di ambang kehancuran. Negeri ini bukan hancur akibat hantaman bom atau nuklir, melainkan tidak terkendalinya lisan dalam berkomentar. Hal sederhana yang bisa dilakukan untuk menjaga Indonesia adalah tidak menyakiti orang lain dengan lisan dan tulisan kita.