Senin, 21 Agustus 2017

Dari Blogger untuk Indonesia

"Bila ingin menguasai dunia, kuasailah dunia maya." 

Karim Suryadi mencetuskan idiom itu pada acara Flash Blogging  dengan tema 72 Tahun Memperkokoh Kebhinekaan dalam Membangun Negeri. Acara yang dihelat di Holiday Inn, Pasteur, Bandung, 21 Agustus silam.  Melalui kegiatan ini, Kominfo sebagai tuan rumah mengajak para blogger untuk memaksimalkan pengaruhnya di dunia maya. Pengaruh yang bagaimana? Tentu pengaruh yang positif.

dok.pribadi
 Menurut mantan Dekan FPIPS UPI ini, keragaman yang dimiliki bangsa Indonesia bisa menjadi rumput kering yang mudah terbakar. Mengapa demikian? Karena keragaman yang dipahami sempit bisa menimbulkan kecurigaan atau penghakiman.



Keragaman bisa seputar apa saja. Bisa tentang agama, pilihan politik, suku, status sosial, bahkan pilihan sosok yang diidolakan. Keragaman yang tidak dikelola dengan bijaksana bisa menyulut terbakarnya emosi seseorang atau sebuah kelompok. Jika hal itu tidak tertangani dengan tepat, kebakaran akan meluas ke banyak tempat. Tentu kita tidak ingin negeri ini hangus; hancur lebur bukan?

Berbeda-beda tetapi satu adalah semboyan bangsa kita, bangsa Indonesia. Sayangnya, kebebasan berpendapat di ranah publik membuat orang lupa dengan semboyan itu. Ketika saluran-saluran kemerdekaan bersuara dibuka sembilan belas tahun lalu, setiap orang bisa menyampaikan segala sesuatu yang dipikirkan; yang diduga. Bahkan tanpa cek dan ricek lebih dulu, pemikiran atau dugaan itu bisa dibagikan begit saja di ranah publik ( baca : dunia maya).

Kebebasan berekspresi di ranah publik tidak lepas dari masifnya penggunaan gawai dalam kehidupan masyarakat. Tak ada yang tidak menggunakan gawai dalam kesehariannya. Gawai tidak hanya sebagai alat komunikasi, tetapi juga menjadi sumber informasi. Jika dipersentasekan, masyarakat yang mengakses informasi dari media cetak jumlahnya lebih sedikit ketimbang mereka yang mengakses informasi dari portal berita dan berbaga website yang bertebaran di dunia maya.


Di sinilah peran blogger dibutuhkan. Blogger diharapkan dapat mengajak netizen untuk lebih bijak menyikapi semua peristiwa agar tidak terjebak pada prasangka-prasangka buruk. Meskipun blogger bukan jurnalis, di dunia maya, blogger bisa memengaruhi netizen melalui tulisan-tulisannya. Blogger menulis di media miliknya yang disebut website.  Website itu tidak hanya sebagai tempatnya menyampaikan berbagai ide, tetapi juga sebagai media memengaruhi orang lain.

Karena itu, sangat penting bagi blogger berhati-hati dalam mengelola tulisan-tulisannya. Ia memang bisa tetap subjektif dalam menuliskan pemikiran-pemikirannya. Namun, ia harus ingat bahwa tulisan yang sudah tersebar luas takbisa diperbaiki atau ditarik jika itu menyakiti hati seseorang atau sekelompok orang. Bahkan permintaan maaf sekalipun takbisa menyembuhkan luka akibat torehan kata-kata.


Tablet, Stylus, Secretary, Reading

Agar terhindar dari peribahasa "sesal kemudian tiada berguna, penting bagi blogger untuk memahami empat makna kebebasan :
  1. kelebihan. Dengan tulisan-tulisannya di dunia maya, ia mempunyai kelebihan memengaruhi pengguna internet agar mempunyai perspektif yang sama
  2. peluang. Blogger berpeluang menyampaikan hal-hal baru dan diikuti pengikutnya yang tersebar di berbagai belahan dunia.
  3. tantangan. Blogger ditantang mengelola ide-ide agar selalu baru dan bernas sehingga menarik para pengikut blognya atau mereka yang singgah di blognya.
  4.  karunia. Kebebasan adalah karunia untuk mengekspresikan diri dan membangun eksistensi diri.          
Empat hal tersebut mengatur kebebasan kita sehingga terasa dibatasi. Namun, jika bebas tanpa batas, masihkah bermakna kebebasan itu?

Kebebasan yang dibatasi biasanya menuntut pengalamnya untuk berhati-hati dalam bertindak. Bahkan ada yang sampai pada membatasi kebebasan berpikir. Ketika kebebasan dibatasi hingga ke dunia ide, kondisi semacam itu sangat buruk. Beruntunglah kita, bangsa Indonesia, hidup di negara demokrasi. Ada UUD yang menjamin rakyat tetap aman dan selamat untuk berkumpul, berserikat, dan mengeluarkan pendapat.

Sayangnya, ada saja pihak tidak bertanggung jawab yang memanfaatkan kebebasan itu. Mereka yang tidak suka melihat orang lain bahagia. Kelompok inilah yang meniupkan berbagai berita bohong dengan sangat meyakinkan, Hasilnya, kita bisa lihat debat-debat kusir di media sosial karena berita-berita bohong itu. Debat kusir kemudian diikuti caci maki yang isinya memerahkan telinga.   

Yah, sebenarnya sih, kebohongan terjadi karena ada pihak yang mau dibohongi. Berita-berita bohong bisa menyebar sangat cepat karena ada kelompok yang membutuhkan untuk menjatuhkan kelompok lain. Betapa mirisnya . . .

Supaya terhindar dari jeratan berita bohong alias hoax, saat menulis, blogger harus disiplin melakukan klarifikasi terhadap semua berita yang dibaca. Setelah itu, bagus kalau kita tulis hasil klarifikasinya di blog kita. Itulah yang disebut literasi media. 

Sekalipun Indonesia sudah 72 tahun merdeka dan sudah 19 tahun menjadi negara demokrasi terbesar ketiga, hanya segelintir masyarakat yang tahu tentang literasi media. :Literasi media adalah kemampuan untuk mengakses, menganalisis, mengevaluasi, dan mengomunikasikan isi pesan media dengan benar..

www.budiono.net 

Sebagai blogger, seharusnya kita konsisten mempraktikkan literasi media. Karena blog yang kita jadikan media menulis ini ada di dunia maya. Blog kita bisa diakses siapa saja, bisa dibaca semua isinya meskipun pembaca tidak mengenal kita. Sebagian isi blog kita akan menjadi acuan jawaban, atau pertanyaa tambahan tergantung sejelas apa tulisan kita.

www.pikiran-rakyat.com 
Di titik ini, kita menjalankan fungsi sebagai blogger sekaligus buzzer, Kita bisa mengajak dan mengingatkan masyarakat agar lebih disiplin mengklarifikasi berita-berita yang lalu-lalang di sekitar kita. Inilah yang dimaksud Presiden Jokowi dengan bekerja bersama. Setiap orang bekerja sesuai kapasitasnya demi Indonesia yang lebih baik.