Jumat, 27 Oktober 2017

Usir Stress dengan Automatic Writing


Ada kalanya kita tidak perlu mengedit apa pun isi tulisan kita. Membiarkan pena meliuk-liuk menuliskan apa saja atau jari-jari kita mengetik di keyboard tanpa harus mengecek nyambung nggak kata-katanya.

www.pixabay.com
Banyak jalan mengusir stress. Banyak cara yang bisa dilakukan agar hati kembali damai. Salah satunya dengan menulis secara otomatis atau nama populernya automatic writing. Saya membaca metode menulis ini pertama kali di majalah Yoga kurang lebih dua tahun lalu. Menarik sekali membiarkan jari dan perasaan berkolaborasi menuliskan semua kegundahan tanpa diatur pikiran.

Seperti dilansir dari psychicelements.com (13/10/17),ternyata automatic writing sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Automatic writing berkembang ke seluruh dunia sebagai gerakan spiritualitas. Metode menulis ini dipercaya bisa menjadi terapi pelepas stress. Mengapa demikian? Karena automatic writing dapat membantu seseorang menumpahkan semua negativitas yang ada di pikirannya tanpa diedit sama sekali.

Mulanya metode ini dipraktikkan di lembaga konsultasi kejiwaan. Setelah lama berjalan, terapi ini bisa dilakukan sendiri. Bagaimana kita mempraktikkan automatic writing agar bisa menjadi terapi agar dapat melepas seluruh negativitas yang bersarang di hati dan pikiran kita? Berikut ini caranya :
 1.      Siapkan pena dan kertas atau media lain yang nyaman sebagai alat menulis bagi Anda.

 2.      Setting tempat menulis Anda di tempat yang tenang dan bebas gangguan, 
baik suara maupun orang-orang yang lalu lalang.

3.       Meditasilah sejenak. Atur napas Anda, tarik dan embuskan pelahan dengan
teratur.  Pengaturan napas bertujuan agar Anda bisa fokus pada pikiran dan perasaan Anda.

4.       Jika Anda masih kesulitan fokus, Anda bisa mendengarkan musik relaksasi, 
seperti suara-suara alam agar pikiran dan hati bisa lebih tenang dan jernih saat menulis.

5.       Mulailah menulis. Tuliskan semua yang ada di pikiran dan hati Anda. Biarkan
pertanyaan dan pernyataan mengalir dalam tulisan Anda. Anda tidak perlu langsung menjawab pertanyaan-pertanyaan yang muncul. Anda pun tidak perlu  merevisi pernyataan-pernyataan yang Anda tuliskan.

6.       Biarkan pena Anda menari atau jari-jemari Anda bergerak di tuts-tuts keyboard. 
Terus menulis dengan konstan. Jangan menjudge apa pun terhadap tulisan Anda. Sebagian     orang menutup matanya saat menulis agar lebih konsentrasi, tetapi tidak sedikit yang   
membuka matanya.

7.       Berhentilah sejenak apabila Anda merasa buntu. Tapi ingat! Jangan membaca tulisan
lebih dulu atau merevisinya. Segera lanjutkan tulisan Anda setelah berhenti selama lima 
menit. Konsentrasi Anda akan buyar jika berhenti terlalu lama.

8.       Simpan dulu tulisan Anda selama sekira satu jam sebelum Anda membacanya.  Setelah
satu jam, bacalah tulisan Anda. Anda juga bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang    
muncul dalam tulisan Anda. Yakinkan diri Anda bahwa jawaban-jawaban itu positif dan  
solutif bagi kegelisahan Anda. Karena itu, sangat penting menenangkan dan menjernihkan 
hati dan pikiran ketika Anda mulai menulis.

9.       “Practice makes perfect”. Biasakan melakukan automatic writing berturut-turut selama
tiga puluh hari. Usahakan menjaga rutinitas menulis dengan melakukannya pada waktu   
yang  sama selama tiga puluh hari itu.

10.    Gunakan timer untuk mengatur waktu menulis Anda. Timer membatasi waktu menulis
Anda sehingga Anda tidak membuang waktu untuk berpikir atau menimbang-nimbang apa   
yang akan ditulis. 

Automatic writing  berbeda dengan menulis kreatif. Peran intuisi sangat dominan. dalam menyampaikan perasaan dan pemikiran lewat tulisan. Sementara, creative writing mengedepankan peran akal dalam mengembangkan ide menjadi tulisan.

“The intuitive mind is a sacred gift and the rational mind is a faithful servant. We have created a society that honors the servant and has forgotten the gift.” — Albert Einstein