Kamis, 02 November 2017

Si Empuk Yang Irit Bumbu


Sore ini sebelum mengajar, saya ada janji ketemu teman. Pilah-pilih tempat ketemu yang nyaman, dapet deh Pasar Cisangkuy. Lokasinya tidak terlalu jauh dari tempat saya mengajar. Dua tahun lalu pernah makan di situ, banyak banget pilihan menunya. Pas lah untuk teman saya yang hobi kuliner dan rajin memosting perjalanan wisata kulinernya di Instagram.



Di buku menunya, ada ratusan menu yang ditawarkan. Pantesan buku menunya tebel banget. Wajar sih, nama tempatnya kan Pasar Cisangkuy. Lengkapnya Resto n Cafe Pasar Cisangkuy. Layaknya pasar, rame dan rupa-rupa isinya. Setiap menu, ada fotonya. Bikin cegluk..cegluk...Meskipun saya sudah makan siang, akhirnya tergoda juga pilih makanan berat. 

Pilah-pilih, buka halaman demi halaman, mata saya tertumbuk pada menu sate taichan di Bandung. Sudah lama saya penasaran dengan sate yang sedang naik daun ini. Pengin coba, tapi ga kesampaian juga. Dengan mantap, saya pilih sate taichan. Sementara, teman  saya masih bingung pilih menu. Ini pengin, itu pengin. Laper mata bikin perut mendadak ikut laper.

Taraa! Sate taichan pun datang. Akhirnya saya mencicipi sate taichan di Bandung. Setelah setahun terakhir ini hanya membaca cerita yang berseliweran di televisi dan medsos. Penampilannya simple banget. Berbeda dengan sate madura, sate padang, atau sate ambal favorit saya. Ketiga jenis sate itu berlimpah bumbu. Sementara, bumbu sate taichan ini minimalis : garam dan air jeruk nipis. Perbedaan yang lain, sate taichan full daging. Jenis sate lain (biasanya) bercampur daging dan kulit.

Sepuluh tusuk sate, sejumput sambal cabe rawit yang mantep pedesnya, sepotong jeruk nipis, sedikit acar bawang merah, dan nasi putih. Sepaket sate taichan ditambah nasi putih harganya Rp 35.000,00. Oh ya, karena belinya di kafe, harga segitu belum termasuk pajak...


Rasa asin langsung menyapa lidah saya pada gigitan pertama. Saya kunyah pelahan menikmati dagingnya yang empuk. Lama-lama terasa kesegaran jeruk nipis di lidah. Asin dan asam berbaur dalam empuknya daging.  Kesan pertama menjawab penasaran saya. Oh, gini rasanya sate taichan, simple. Adanya sambal memberi tambahan rasa pada sate. Yah, rasanya jadi ga cuma asin aja di lidah. Sebagai pecinta sate khas Indonesia, rasa sate taichan tidak menantang di lidah. 

Meskipun potongan dagingnya tampak kecil-kecil dalam satu tusuk, sepuluh tusuknya tetap mengenyangkan. Ya iya lah, sepuluh tusuk gitu lho. Eh, tapi itu untuk saya, entah kalau yang makan terbiasa dengan porsi besar. Mungkin sepuluh tusuk sate taichan dianggap sebagai cemilan hehe..

Minimalisnya bumbu sate taichan mungkin tidak lepas dari asal-usul munculnya sate taichan di Indonesia. Mulanya adalah seorang Jepang yang minta membumbui sendiri satenya saat ia memesan sate di kawasan Senayan, Jakarta, setahun silam (Kompas.com, 15/10/2017). Karena pelanggan ini dari Jepang, ia terbiasa dengan bumbu minimalis yang digunakan pada masakan di negerinya. Ini hanya asumsi saya saja sih ^^

Meskipun bumbunya minimalis, sate taichan di Bandung tetap dicari penggemar wisata kuliner. Selain di Pasar Cisangkuy, ada banyak tempat di Kota Bandung yang menjual sate taichan. Harga rata-rata sate taichan berkisar 20 ribu – 35 ribu per porsi. Ada yang menyertakan acar, ada juga yang hanya menyajikan sate taichan beserta sambal rawit. Ada pula yang menambahkan bubuk penyedap di pinggir piring saji. Kalau dagingnya kurang gurih, bisa dicocol ke bubuk penyedap lalu cocol ke sambalnya. Sedaap...