Sunday, May 13, 2018

Kolaborasi Keren Komunitas Bandung Independent School dalam Grand Musical Drama Sangkuriang



Sabtu sore, 12 Mei 2018 lalu, saya diundang menghadiri pertunjukan Grand Musical Drama Sangkuriang di Bandung Independent School (BIS). 

Pertunjukan musikal ini diselenggarakan atas prakarsa Ibu Heni selaku founder The Lodge Foundation (TLF) dan Mr. Chris Toomer selaku Kepala Sekolah Bandung Independent School (BIS). Acara ini digagas untuk merayakan hari jadi ke-45 tahun Bandung Independent School (BIS). Saya ingat  pernahlewat depan sekolah ini sekira tahun 2012. Waktu itu nama yang tertera di plang sekolahnya masih Bandung International School. 

Saya sempat penasaran dengan perubahan namanya. Penasaran itu dijawab oleh marketing BIS ( maaf,saya lupa nama Teteh Marketing cantik ini). "Perubahan nama dari international menjadi Independent sesuai dengan peraturan pemerintah agar BIS bisa menerima siswa lokal," jelasnya.

Penjelasan itu mengembalikan ingatan saya ke tahun 2014 silam.  Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) tentang kerja sama penyelenggaraan dan pendidikan oleh lembaga pendidikan di Indonesia. Terhitung mulai 1 Desember 2014, seluruh sekolah berlabel internasional di Indonesia harus berganti nama menjadi Satuan Pendidikan Kerja Sama (SPK). 

Bandung Independent School (BIS) yang berdiri sejak tahun 1972 merupakan salah satu dari 174 sekolah berstatus internasional di Indonesia yang berubah namanya menjadi SPK. Karena SPK inilah, siswa lokal bisa bersekolah di sini.

Dua ratus siswa BIS ini datang dari 23 negara, termasuk Indonesia. Mereka berbaur saling menyesuaikan diri dengan keragaman latar budaya masing-masing. Kebetulan karena sekolah ini ada di Bandung, di hari jadinya, BIS mementaskan drama musikal Sangkuriang. Legenda yang sangat populer dari tanah Sunda. Dalam drama musikal Sangkuriang ini, BIS akan mempertunjukkan pagelaran seni yang mengangkat kombinasi dan keanekaragaman budaya asing dan Sunda.

Acara dimulai sekira pukul 15.30. Yang bertugas sebagai pembawa acara adalah guru mata pelajaran Bisnis. Ah, saya lupa nama beliau. Gaya pembawa acaranya asyik. Ia mengajak kami bermain games "sit down if you ..."

                                                MC  in action 

Permainan ini mensyaratkan semua penonton berdiri. Penonton diminta duduk jika pernyataan yang disampaikan pembawa acara sesuai dengan kondisi penonton. Contoh pernyataannya, "Please sit down if you play with your ponsel when dinner." Ternyata banyak yang duduk lho,termasuk saya. Hihihi...

Setelah games berakhir, pembawa acara mengumumkan pertunjukan akan dimulai. Lampu ruangan dimatikan dan layar terbuka pelahan. Layar terbuka diiringi suara merdu tiga wanita yang menyanyikan lagu This is Me. Lagu ini adalah OST The Greatest Snowman. Oh, ternyata Ibu Heni ada di antara mereka. Mantep banget suara ketiganya. Hati saya bergetar. eaa...

This is Me sebagai lagu pembuka acara 

Lagu This is Me tidak hanya menjadi pembuka, tetapi juga mengiringi fashion show sebagai bagian dari pembuka Grand Musical Sangkuriang. Peragawan dan peragawatinya adalah guru-guru BIS.  Mereka memakai busana hasil rancangan Deden Siswanto, desainer asal Bandung yang identik dengan koleksi multikultural dalam karyanya

fashion show                    


Desainer Deden Siswanto (tengah)
Usai fashion show, tibalah pada acara inti. Drama musikal dibuka oleh prolog berupa ilustrasi asal-usul Dayang Sumbi. Narator prolog adalah seniman yang tergabung dalam Nuwala, komunitas sendra tari dan seniman Jawa Barat.

Selanjutnya, para penari menceritakan kehidupan Dayang Sumbi yang hidup sendiri di hutan selepas kematian Si Tumang, sang suami, dan kepergian anak semata wayangnya, Sangkuriang.

Para penari ini adalah gabungan orangtua siswa dan guru. Sementara, siswa-siswa menabuh gamelan dan alat musik lain, seperti gitar dan drum.

tarian pengantar cerita

Di tengah pertunjukan, gerombolan bertopeng datang dari berbagai arah. Mereka tidak hanya naik ke panggung, tetapi juga mendatangi kursi penonton. Ekspresi wajahnya menyeringai dengan rambut gimbal berantakan. Suasana pun menjadi riuh rendah.

Singkat cerita, Dayang Sumbi berjumpa Sangkuriang. Kesaktian Dayang Sumbi membuatnya tetap awet muda dan senantiasa cantik jelita. Demikianlah, Sangkuriang yang sudah menjadi pemuda tampan dan gagah pun jatuh cinta. Gayung bersambut. Dayang Sumbi pun menerima cinta Sangkuriang.

Dayang Sumbi dan Sangkuriang


Dayang Sumbi dan Sangkuriang

Ñgomong-ngomong, siapakah pemeran Dayang Sumbi yang cantik jelita dan luwes menari ini? Ow, ternyata dia adalah Runner Up 1 

Miss Indonesia. Namanya Narda Virelia. Narda ini alumnus BIS empat tahun silam.
Lalu siapa pemeran Sangkuriang? Pemuda tampan dan gagah ini diperankan oleh Mr. Chris Toomer, sang kepala sekolah. Masih muda berarti kepala sekolahnya 😁

Di ujung cerita, seperti yang sudah kita tahu, Dayang Sumbi menolak diperistri Sangkuriang. Ia menolak setelah melihat bekas luka di kepala Sangkuriang dan mengetahui penyebabnya.

Namun, Sangkuriang tetap ngotot ingin menikahi Dayang Sumbi. Ia tidak mau mendengarkan penjelasan Dayang Sumbi bahwa ia ibunya. Sangkuriang pun minta bantuan para jin agar bisa memenuhi permintaan Dayang Sumbi.

cinta ditolak, jin pun bertindak

Berkat doa Dayang Sumbi yang dikabulkan Sang Hyang Widhi, Sangkuriang gagal menyelesaikan tugasnya. Pemda ini murka. Ditendangnya perahu yang hampir selesai itu hingga terbalik. Perkawinan terlarang pun tidak terjadi
Layar pun ditutup sejenak lalu dibuka lagi. Para pendukung acara hadir di atas panggung tanpa kecuali. Trio penyanyi memperkenalkan setiap pendukung acara diiringi lagu This is Me. Kepala sekolah mengapresiasi partisipasi guru, orangtua, karyawan, dan siswa dalam menyukseskan Grand Musical Sangkuriang.

ekspresi lega dan bahagia para pengisi acara
Usai acara, Ibu Heni sebagai perwakilan dari orangtua siswa sekaligus founder The Lodge Foundation menjelaskan persiapan penyelenggaraan Grand Drama Musical Sangkuriang ini selama dua bulan.

Ibu Heni, founder The Lodge Foundation
"Banyak pihak terlibat di acara ini. Alumni BIS juga terlibat. Salah satu contohnya adalah partisipasi Narda sebagai alumni. Partner menyanyi saya tadi juga ibu dari alumni
BIS, tapi masih aktif kalau BIS bikin acara," jelas Ibu Heni.

Sukses terus BIS dan TLF. Semakin banyak kegiatan seni budaya yang diselenggarakan untuk mempererat ikatan kasih sayang kemanusiaan yang universal.