Review Mangun, Novel Biografi Romo Mangunwijaya

Review Novel Biografi Romo Mangun

Judul buku : Mangun, Sebuah Novel
Penulis       : Sergius Sutanto
Penerbit     : Elex Media Komputindo
Cetakan      : I, 2016
Tebal           : xxx + 412 halaman

Saya mengenal namanya sejak aktif di pers mahasiswa. Namanya seringkali disebut para senior setiap kami berdiskusi tentang pendidikan untuk kaum terpinggirkan. Romo Mangun, Kali Code, dan Paulo Freire. Tiga frasa itu begitu akrab di telinga saya selama empat tahun menjadi jurnalis kampus.

Kebetulan kost saya tidak terlalu jauh dari Gang Kuwera, Demangan, Yogyakarta. Saya selalu melewati gang ini supaya lebih cepat sampai kost sehabis membeli makan malam di jalan Gejayan. 

Di dalam gang tersebut, ada bangunan bercat serbamerah. Di halamannya terpampang papan nama bertuliskan Dinamika Edukasi Dasar (DED). Bangunan bercat merah itu lembaga yang didirikan Romo Mangunwijaya. Lembaga ini pula yang menaungi sekolah girli di Kali Code. Sekolahnya anak jalanan yang dibangun di tepian Kali Code.

Lalu apa hubungannya dengan Paulo Freire, tokoh pendidikan dari Brazil? Tentu saja sangat berhubungan. Pemikiran-pemikiran Freire tentang pendidikan yang membebaskan sangat memengaruhi Romo Mangun. Pun buku Freire yang berjudul Pendidikan yang Membebaskan turut mewarnai cara Mangun memandang pendidikan.

Awal Mula Membaca Mangun

Tiga frasa itu melekat kuat di pikiran saya hingga saya meninggalkan hiruk-pikuk kesibukan pers mahasiswa. Belasan tahun berselang, seorang teman meminta saya membantu menjualkan puluhan judul koleksi bukunya. Salah satu judul yang ada di tumpukan bukunya Mangun Sebuah Novel.

Saya cermati lagi judulnya. Oh, ini biografi Romo Mangunwijaya yang ditulis dalam bentuk novel. Kebetulan waktu itu saya berencana akan menulis biografi mantan Ratu Ternate. Saya kira saya bisa mempelajari format penulisan Mangun untuk tulisan saya kelak.

Buku setebal 406 halaman ini dilengkapi foto-foto Romo Mangun kecil, keluarga besarnya, ketika ia dewasa, masa sekolah di Jerman, serta foto rumah masa kecilnya di Magelang. Perjalanan hidup Romo Mangun dibagi berdasarkan bagian-bagian penting dalam hidupnya. 

Saya mungkin termasuk sebagian besar orang yang hanya tahu namanya adalah Romo Mangunwijaya. Kalau dalam buku-bukunya yang pernah saya baca, ia menulis namanya "YB. Mangunwijaya. Dalam novel Mangun,  saya baru tahu kalo kepanjangan dari Y.B. adalah Yusuf Bilyarta.

Review Mangun, Novel Biografi Romo Mangunwijaya

Biografi ini dibuka dengan tulisan ambarawa, 6 Mei 1929, seorang bayi laki-laki lahir. Ia diberi nama Bilyarta. Nama itu disematkan karena saat lahir, sang bapak sedang asyik main biliar. Bapaknya tidak mengira kalau sang istri akan segera melahirkan. 

Sebagai seorang Katolik, Bilyarta mempunyai nama baptis, yaitu Yusuf. Nama itu diambil dari nama suami Bunda Maria, penjaga dan pelindung keluarga menurut keyakinan Katolik dalam kitab Injil. 

Sang Kakek bernama Mangunwidjojo. Seharusnya nama lengkapnya adalah Jusuf Biljarto Mangunwidjojo. Namun, entah kenapa, Mangun lebih suka menggantinya dengan akhiran "a" di belakang dua nama terakhirnya. Jadilah namanya ditulis Yusuf Bilyarta Mangunwijaya.

Bapaknya Yulianus Sumadi Mangunwidjoyo adalah seorang pendidik. Di usia senjanya, Pak Sumadi sempat menjabat sebagai Ketua DPRD Kedu. Ibu Mangun bernama Serafin Kamdaniyah. Ia pun seorang pendidik, guru taman kanak-kanak. 

Bapak ibu Mangun merupakan pasangan dari generasi kedua Jawa Katolik yang sangat taat. Sementara kakek-nenek dari bapak ibunya adalah penganut muslim secara tradisi. Sebagai keluarga pendidik, bapak ibu Mangun sangat mahir berbahasa Belanda. Itulah sebabnya Mangun lebih dulu kenal bahasa Belanda sebelum fasih berbahasa Inggris.

Sebagai keluarga yang religius, Mangun dan sebelas adiknya sangat akrab dengan cerita-cerita dalam alkitab. Begitu pula dengan ibadat rutin di gereja juga doa-doa harian yang tidak pernah absen dibaca.

Bagian pertama dalam novel Mangun menceritakan kisah Mangun kecil hingga remaja. Masa kecil Bilyarta (panggilan Romo Mangun semasa kecil) dihabiskan di Kota Magelang yang damai. DI tengah masa pendidikan SMP, Bilyarta bergabung dengan Tentara Pelajar. 

Pengalaman menjadi Tentara Pelajar menjadi salah satu referensinya menulis novel Burung-Burung Manyar. Tokoh Atiek adalah nama gadis yang sempat menjadi primadona di antara kawan-kawannya sesama Tentara Pelajar.

Ketika Jepang kalah di Perang Dunia II lalu meninggalkan Indonesia, Bilyarta masih aktif sebagai Tentara Pelajar hingga detik-detik Proklamasi Kemerdekaan. Ia masih bertugas saat Belanda yang diboncengi NICA kembali masuk Indonesia. Bilyarta baru kembali bersekolah setelah kondisi benar- benar aman dari penjajahan.

Ia melanjutkan sekolah ke SMA di Yogyakarta. Ketika memikirkan kelanjutan pendidikannya selepas SMA, hati nurani Bilyarta gelisah mengingat masa lalu semasa menjadi Tentara Pelajar. Ia merasa dosa-dosanya menggunung hingga tak layak untuk diampuni. 

Di kondisi tersebut, kegelisahan yang sangat membawa Bilyarta menemui Romo Kanjeng Soegijapranata, Uskup Agung Semarang. FYI, Soegijapranata merupakan uskup pribumi Indonesia pertama.

Setelah bertukar pikiran, Romo Kanjeng mendukung pilihan Bilyarta menjadi pastor. Pada tahun 1953, Bilyarta melanjutkan pendidikan ke Seminari Tinggi Santo Paulus di Yogyakarta sampai tahun 1959. 

Perjalanan Menjadi Romo dan Pengabdian kepada Kaum Marginal


Setelah lulus seminari pada 1959, Mangun diordinasi sebagai pastor pada 1960 dan ditugaskan di berbagai paroki, mulai dari Jakarta hingga Yogyakarta. Di sinilah pengaruh Paulo Freire semakin mendalam. 

Romo Mangun menerapkan konsep "pendidikan pembebasan" untuk anak-anak miskin urban dan kaum terpinggirkan. Ia bukan sekadar mentransfer pengetahuan, melainkan juga membangun kesadaran kritis agar mereka bisa membebaskan diri dari belenggu kemiskinan struktural.

Puncak pengabdiannya diabadikan di bagian tengah novel: pendirian Dinamika Edukasi Dasar (DED) di Gang Kuwera, Demangan, yang saya lewati setiap hari waktu kuliah. Melalui DED dan Sekolah Girli di tepi Kali Code, Romo Mangun mendidik anak jalanan dengan pendekatan holistik. Ia mengajar baca tulis sambil menumbuhkan harga diri dan keterampilan hidup. Novel ini kaya akan detail perjuangannya, seperti membangun sekolah darurat dari kardus bekas, menghadapi banjir Kali Code, memperjuangkan hak-hak  petani korban gusuran (Kedungombo) hingga konflik dengan aparat yang curiga pada aktivitasnya yang progresif.

Bagian akhir menggambarkan masa senja Romo Mangun, termasuk karya sastra ikoniknya seperti Burung-Burung Manyar (dari pengalaman Tentara Pelajar) dan Rangan Samiri, serta kritik tajamnya terhadap Orde Baru. Ia wafat pada 17 Februari 1999, meninggalkan warisan sebagai "Sang Romo bagi Kaum Marginal" yang menginspirasi generasi pendidik Indonesia.

Kekuatan, Kelemahan, dan Rekomendasi

Kekuatan utama Mangun terletak pada format novel biografi yang hidup. Penulisnya, Sergius Sutanto, menuliskan perjalanan hidup Mangun bukan dalam daftar kronologi kering, melainkan narasi mengalir dengan dialog autentik, introspeksi batin, dan foto-foto arsip yang membangun ikatan emosional. Integrasi pemikiran Freire dengan konteks lokal Indonesia membuatnya relevan hingga kini, terutama bagi aktivis pendidikan dan sastra.

Tapi, ada kelemahan kecil: beberapa deskripsi keluarga terasa panjang dan memperlambat ritme. Sementara itu, kontroversi seperti pandangan Romo soal sinkretisme agama atau politik Orde Baru kurang dieksplorasi secara mendalam.

Secara keseluruhan, buku ini seperti reuni dengan idola masa muda saya. Skor pribadi: 4,5/5. Sangat direkomendasikan untuk pembaca sejarah, pendidikan, atau siapa pun yang ingin terinspirasi berjuang bagi yang terpinggirkan, ala Romo Mangunwijaya.



No comments