Monday, December 18, 2017

Gathering Netizen MPR, Ketua MPR Serukan Persatuan Bangsa




Gathering Netizen MPR RI Desember ini berbeda dengan Gathering  Netizen  MPR RI Mei lalu. Apa saja perbedaannya? Pertama, acara berlangsung lebih singkat. Acara dimulai pukul 14.00 dan berakhir secara formal sekira pukul 17.00. Di bulan Mei lalu, acaranya berlangsung seharian, sejak pukul 09.00 hingga pukul 15.00. Kedua, ini yang paling menarik. Acara tidak dibuka dengan pemaparan lebih dahulu dari Ketua MPR sebagai pembicara tunggal. Pak Ketua, begitu Zulkifli Hasan meminta Blogger BDG memanggil dirinya, membuka acara dengan memberi kesempatan pada Blogger BDG untuk menyampaikan uneg-uneg mereka  tentang apa saja. 


foto: parmadi
Kesempatan emas ini tentu saja dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh saya dan teman-teman dari Blogger BDG. Berbagai pertanyaan dan pernyataan disampaikan kepada Pak Ketua. Mulai dari keluhan tentang langkanya tabung gas 3 kg, persoalan sampah, curhat politik perkawanan, harapan adanya undang-undang yang jelas tentang perbukuan dan kesejahteraan penulis, masalah korupsi, SARA, dan lain sebagainya. Diskusi gayeng pun terbangun. Respons Pak Ketua terhadap antusiasme netizen pun menyenangkan. Serius, tapi santai.


Dalam setiap jawabannya, Zulkifli Hasan menekankan pentingnya kesadaran. "Kesadaran itu penting," tegas Zulkifli Hasan. Seharusnya setiap orang mempunyai kesadaran dalam menjalani perannya sebagai warga negara. Dengan kesadaran itu, setiap warga negara Indonesia pasti bisa memahami dalamnya makna Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan bangsa. 


Roadshow gathering Netizen di beberapa kota di Indonesia merupakan salah satu upaya
suasana saat gathering (foto : dedew)
MPR untuk memasyarakatkan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika. Acara ngobrol bareng MPR ini penting untuk mengajak netizen berkontribusi dalam upaya mempertahankan persatuan dan kesatuan Indonesia. Wih, segenting itukah kondisi negara kita?


Genting atau belum seharusnya tidak dijadikan parameter untuk membangun kesadaran kolektif rakyat Indonesia menjaga keutuhan bangsa. Kita bisa becermin pada Pilpres 2014 silam atau Pilkada Gubernur DKI yang menggoncangkan sosmed akibat perseteruan dua kubu. Perseteruan itu sayangnya takselesai saat pilpres dan pilkada usai. Perseteruan masih berlanjut hingga hari ini meskipun tidak sepanas dulu. Perseteruan itu serupa api dalam sekam; serupa bom waktu. Bisa meledak kapan pun jika kita sebagai rakyat abai terhadap kesadaran kolektif bahwa negeri ini dibangun dari keragaman latar belakang sosial geografis.

Baca : Mari Menjaga Indonesia

Kesadaran itu pula yang seharusnya menjadi panglima bagi pola pikir dan perilaku setiap manusia Indonesia. Mengapa demikian? Saya teringat cerita Pak Jokowi tentang pesan dari Presiden Afghanistan yang dimuat di harian Kompas. "Hati-hati negaramu, hati-hati negaramu. Di Afghanistan hanya ada 7 suku, negaramu memiliki 714 suku. Kurang lebih 30 tahun lalu, dua suku bersengketa. Karena tidak ditangani dengan benar, hingga hari ini sengketa itu berubah menjadi peperangan yang sulit didamaikan." (Kompas, Oktober 2017)

Jika tidak ada yang menjaga kesadaran kolektif betapa beragamnya Indonesia, tidak mustahil nasib Indonesia akan sama seperti Afghanistan. Saya ngeri membayangkannya. Perang merenggut segalanya. Kita bisa berkaca pada negara-negara di Timur Tengah; di Afrika. Tak ada yang tersisa kecuali kenangan buruk.  Karena itu, penting bagi rakyat Indonesia merawat negara bersama-sama. Perbedaan suku, agama, dan status sosial bukan halangan untuk tetap satu dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Blogger bisa menjadi cyber army
Di titik ini, di manakah peran MPR? MPR sebagai lembaga tinggi negara bertugas memasyarakatkan Pancasila, UUD NRI tahun 1945, NKRI, Bhinneka Tunggal Ika, dan Ketetapan MPR. Berdasarkan tugas itulah, roadshow gathering netizen diselenggarakan. " Visi utama MPR adalah menjadi rumah kebangsaan agar merah putih tidak terkoyak," jelas Ketua MPR RI, Zulkifli Hasan  menutup acara ngobrol santai sore itu.

Tuesday, December 5, 2017

Sayangi Sampah, Lingkungan Menjadi Indah

Pada hari Minggu, 19 November 2017 lalu, Balitbang PUPR mengadakan acara di Car Free Day (CFD) Dago. Acara ini bertajuk Ciptakan Lingkungan Sehat dengan Inovasi Balitbang.

Sambutan dari Sekretaris Balitbang (dok.pribadi)
Acara ini dipusatkan di halaman Eduplex Dago. Ada panggung kecil, spanduk berdiri, dan meja informasi tentang hasil-hasil penelitian dan pengembangan yang dilakukan Balitbang PUPR.

Dalam sambutannya, Sekretaris Badan Litbang, Herry Vaza, mengatakan bahwa kegiatan ini perdana digelar di car free day Bandung. Dalam kegiatan ini pula, Balitbang sebagai badan yang bertugas melaksanakan penelitian dan pengembangan di bidang perumahan dan permukiman memperkenalkan teknologi seputar banjir, sampah, serta aspal plastik kepada masyarakat. Hal itu bertujuan untuk meningkatkan wawasan masyarakat terhadap inovasi yang telah dihasilkan oleh Badan Litbang PUPR.

Banyak hasil penelitian dan pengembangan yang sudah dilakukan Balitbang PUPR. Pada acara di hari Minggu lalu, hasil-hasil itu bisa dilihat di pamflet yang bisa diperoleh di meja informasi. Bahan utama dari penelitian dan pengembangan itu adalah sampah. Sampah yang selama ini dipandang tak berguna, Balitbang bisa mengolahnya menjadi produk-produk yang bermanfaat bagi kehidupan masyarakat. Di sinilah peran ilmu pengetahuan menyejahterakan manusia.

Ada yang menarik dari ungkapan Sekretaris Balitbang, "1 kg sampah = 1 kg ikan". Kok bisa ya? Ternyata ungkapan itu merupakan simpulan dari menumpuknya sampah yang tidak terurus sehingga merusak lingkungan, mengancam kehidupan.

Sampah ternyata ada di perut ikan; di perut ayam. Kondisi yang mungkin tidak terbayangkan oleh sebagian besar orang. Karena pengelolaannya tidak tepat, sampah pun bertebaran di mana-mana. Wajar jika slogan dari sampah oleh sampah untuk sampah menjadi bagian dari kehidupan manusia.

Sebenarnya, citra slogan itu bisa diubah menjadi positif apabila kita mengetahui cara hidup berdampingan dengan sampah. Untuk itu, Balitbang melalui berbagai hasil penelitian dan pengembangannya mengenalkan kepada masyarakat tentang cara hidup berdampingan dengan sampah.

Menurut Balitbang, kesadaran substansial yang harus dimiliki adalah kesadaran mengelola sampah sejak dari dapur kita. Mengapa dari dapur? karena sampah terbanyak berasal dari dapur. Persentasenya saja sebesar 50%. 

Wawancara Blogger Bandung dengan Balitbang (dok.pribadi)
Langkah pertama yang bisa dilakukan adalah memilah sampah. Pisahkan sampah organik dan nonorganik. Sampah organik adalah sampah yang berasal dari makanan. Pasti banyak sisa nasi, sayur,buah, daging, dan masakan lain yang tidak habis dikonsumsi. Tempatkan sampah organik itu di kantong plastik yang sudah dialasi kerikil agar sisa-sisa airnya tertampung dibawah kerikil.

Oh ya, sebelum ditaruh di kantong plastik, pastikan kita memeras sisa-sisa makanan itu hingga tetesan airnya tidak mengalir lewat sela-sela jari kita lagi. Cara menuntaskan kandungan air ini bertujuan agar proses pembuatan kompos tetap bersih, tidak dikunjungi kecoa dan teman-temannya.

www.paktani.net
Sampah nonorganik adalah sampah yg terdiri dari plastik, kertas,botol,dan sebagainya. Tempatkan juga sampah nonorganik di kantong yang berbeda. Sangat baik jika kita pun memilah sampah-sampah nonorganik. Kantong-kantong plastik ditaruh di tempat yang berbeda dengan botol, bungkus-bungkus makanan lain.

Pemisahan jenis-jenis sampah nonorganik ini ada tujuannya juga. Bungkus-bungkus minuman dan makanan bisa diolah lagi menjadi tas, tempat tisu, dompet, dan sebagainya. Karena itu,agar mudah mengolahnya, bungkus-bungkus itu harus dibersihkan dari sisa-sisa makanan dan minuman yang ada di dalamnya.

Sementara itu, kresek alias kantong plastik diolah untuk hal yang lain. Ternyata kresek bisa diolah menjadi bahan campuran pembuatan jalan. Teknologi ini namanya teknologi tambal cepat mantap. Bersama aspal, kerikil, dan bahan lain, kresek berjasa menjadi bahan pembuat jalan.

Menurut Pak Tedy, Kasi Pelayanan Pengerasan Jalan, untuk 1 ton hotmix,dibutuhkan 3,6 kg kresek atau kantong plastik. Penggunaan kantong plastik juga mengurangi pemakaian semen dalam proses pembuatan jalan. Ternyata, 1 kg semen = 1 kg gas rumah kaca. Luar biasa.

Sejauh ini, sudah ada tiga daerah di Indonesia yang menggunakan kresek dalam campuran pembuatan jalan. Tiga daerah itu adalah Bekasi, Makassar, dan Bali. Di Bekasi, jalan aspal yang menggunakan kresek sepanjang 600 meter. Ternyata sebagian besar sampah kresek di tiga tempat itu didatangkan dari Bandung!

uji coba aspal plastik di Bekas (www,binamarga.pu.go.id)





Sampah, bagaimana pun tidak sukanya kita padanya, ia tetap ada. Ia bisa menjadi lawan atau kawan, tergantung cara kita mengelolanya.