Monday, November 5, 2018

Optimis Cegah dan Atasi Stunting

validnews.id
Topik stunting mengemuka beberapa tahun terakhir. Topik ini menjadi fokus perhatian setelah terkuaknya kasus stunting yang sangat memprihatinkan di Papua. Kabar itu menyedot perhatian masyarakat Indonesia. Sebagai provinsi sangat kaya di timur Indonesia, balita kurang gizi hingga berdampak pada tumbuh kembangnya seharusnya bisa diantisipasi. 

Pasca diketahuinya kasus stunting yang mengejutkan karena saking banyaknya, satu per satu kasus stunting di daerah lain muncul ke permukaan. Masyarakat semakin terhenyak. Indonesia negeri yang permai, tetapi anak-anak kurang gizi tidak teperhatikan. 


Apa Itu Stunting 


Stunting adalah masalah kurang gizi kronis. Penyebabnya makanan minuman yang dikonsumsi tidak sesuai dengan kebutuhan gizi yang harus diterima tubuh. Jika berlangsung terus-menerus dalam waktu yang lama, pertumbuhan tubuhnya akan terhambat. 

Menurut UNICEF, stunting didefinisikan sebagai persentase anak-anak usia 0 sampai 59 bulan dengan tinggi di bawah minus termasuk stunting sedang dan berat. Sementara itu, stunting dengan minus tiga termasuk stunting kronis. Pembagian pengelompokan stunting ini diukur dari standar pertumbuhan anak yang dikeluarkan WHO. 

Selain pertumbuhannya terhambat, stunting juga mengakibatkan perkembangan otak yang tidak maksimal. Kondisi semacam itu akan sangat memengaruhi kemampuan mental dan belajar anak yang bisa menyebabkan buruknya prestasi sekolah. 

Menteri Kesehatan, Nila Farid Moeleok, menyebutkan kasus stunting di Indonesia ada 32,7 Persen. “Itu artinya, 4 dari 10 anak di Indonesia dipastikan mengalami stunting,”ujar beliau seperti yang dilansir Tribunnews pada Agustus 2018. 

Kepastian perbandingan jumlah anak yang mengalami stunting membuat saya terhenyak. Di era internet sebagai panglima dalam sebagian besar kehidupan masyarakat Indonesia, persentase anak dengan stunting masih banyak. Betapa sedihnya… 

Saya teringat artikel di Kompas cetak bertahun-tahun lalu. Artikel itu menjelaskan bahwa anak stunting bermasa depan suram. Olala…Mengapa demikian? Kekurangan gizi kronis sejak dalam kandungan ternyata tidak hanya menghambat pertumbuhan fisik, tetapi juga perkembangan otak anak. Maka dari itu, secara akademis, anak stunting sulit mengikuti pelajaran. Akibatnya, ia pun sulit mendapat pekerjaan berpenghasilan tinggi. 

Apa yang bisa kita lakukan agar jumlah kasus stunting di Indonesia tidak bertambah? Termasuk juga bagaimana agar anak stunting tidak divonis bermasa depan suram? karena stunting pada awal kehidupan akan menghambat kemajuan anak di masa depan.  


1000 Hari Pertama Ananda 

Kapan anak bisa mengalami stunting? Sejak ia masih berupa janin dan tampak saat ia berusia dua tahun. Mengapa demikian? Karena makanan dan minuman yang dikonsumsi sang ibu sangat berpengaruh pada tumbuh kembang janin di dalam rahimnya. Untuk itu, amat penting bagi ibu hamil mengetahui bahwa nutrisi di masa hamil sangat penting. 

Menurut dr. Bram Pradipta, pengasuh Redaksi Spesialis Kebidanan dan Kandungan dari klikdokter.com, masa kehamilan adalah waktu yang tepat mencegah stunting. Oleh karena itu, penting bagi ibu  memahami 
bahwa nutrisi di masa hamil sangat penting.

Apa saja yang bisa dilakukan agar kasus stunting tidak terus berulang?

  1. Penuhi kebutuhan zat gizi bagi ibu hamil. Pastikan ibu hamil mengonsumsi tablet penambah darah secara teratur. Pantau kesehatan ibu hamil dengan cara kunjungan ke rumah ibu-ibu hamil.
  2. Penuhi kecukupan gizi ibu hamil dengan memberikan pemahaman perlunya keragaman pangan dan sumber protein hewani.
  3. Pantau kondisi kesehatan ibu hamil. Ibu hamil harus melakukan rangkaian pemeriksaan kesehatan saat ia positif hamil. Pemeriksaan kesehatan itu terdiri atas urine, darah, ddan gigi. Hal ini bertujuan mengecek kondisi fisik ibu. Jika ada sakit yang bisa memengaruhi keselamatan ibu dan janin, dokter akan memberi obat atau menyarankan pengobatan lebih dahulu.
  4. ASI eksklusif sampai umur 6 bulan lalu di usia 6 bulan, berilah anak MPASI yang cukup jumlah dan kualitasnya.
  5. Akses terhadap air bersih dan fasilitas sanitasi ditingkatkan.
  6. Saat anak sudah bisa makan makanan orang dewasa, berikan ia superfood. Superfood ini jenis makanan yang kandungan gizi dan vitaminnya tinggi. Superfood itu di antaranya adalah daging sapi, ayam, ikan, telur, susum alpukat, tempe, tahu, dan sebagainya.
  7. Rajin mengukur tinggi badan dan berat badan anak setiap kali memeriksa kesehatan di Posyandu atau fasilitas kesehatan lainnya untuk memantau pertumbuhan dan perkembangan anak serta mendeteksi dini terjadinya gangguan pertumbuhan. 
Sebenarnya selalu ada kesempatan untuk memperbaiki kondisi stunting ini. Pada usia remaja, ada harapan bisa diperbaiki. Caranya tentu kembali pada konsistensi orangtua dalam memaksimalkan nutrisinya.

Pentingnya Pola Asuh yang Benar

Pola asuh pada konteksi ini berhubungan dengan perilaku dan praktik pemberian makan kepada anak. Biasakan di 1000 hari terbaik pertamanya, ibu mengonsumsi keragaman pangan, baik protein hewani, maupun protein nabati. Karbohidrat, lemak, sayuran, dan buah tentu turut serta. Semangati anak saat makan agar ia mau menghabiskan makannya dengan riang. Alangkah baiknya ada tradisi makan bersama dalam keluarga agar selalu ada kehangatan interaksi yang penuh kasih sayang.

Piramida makanan bisa menjadi acuan bagi ibu dan keluarga dalam menyusun menu makanan setiap hari. Takperlu harus makan daging dan ikan setiap hari, yang penting pemenuhan gizi sudah terpenuhi.


Jika ibu melewati masa remaja dengan pola makan tidak beraturan, kebiasaan itu tentu akan diterapkan juga pada anak. Kecuali, ibu segera insaf lalu berubah. Bagaimana ibu sebagai madrasah anak-anaknya berperan sangat penting dalam perjalanan tumbuh kembang anak sejak dalam kandungan. Sebagai imbalan, Tuhan memperkenankan ada surga di telapak kakinya..

21 comments:

  1. Ga disebut susu dlm artikelnya, berarti gak apa-apa ya gak konsumsi susu. Anak saya lepas ASI umur 2 tahun, abis itu gak saya kasih susu. UHT palingan, jarang itu juga. Tingginya masi normal utk usia 6 tahun

    ReplyDelete
    Replies
    1. tulisan susunya typho,Teh. Harusnya susu, ini malah susum.hehehe..UHT juga bagus,Teh. Kebutuhan susu untuk batita selepas ASI hanya 400 ml per hari.

      Delete
  2. Makasih sharingnya teh sayanjuga sering denger stunting di radio, semoga ortu lebih aware ya biar semua anak Indonesia lebih sehat dan cerdasđź’•

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama,Teh. Iya, semoga para ortu aware dengan kondisi anak-anaknya. Ibu hamil terutama, ga nurutin rasa mual sehingga mengabaikan asupan gizi untuk janinnya.

      Delete
  3. waktu saya kuliah, stunting adalah topik yang cukup membuat para mahasiswa alert di dalam ruang kelas.
    yang bikin ngeri adalah stunting adalah indikasi malnutrisi jangka panjang yang nggak bisa diperbaiki kalau udah kejadian T>T

    ReplyDelete
    Replies
    1. yang bikin prihatin tanpa akhir karena nggak bisa diperbaiki..Semoga masyarakat makin paham terhadap pentingnya gizi seimbang. Begitu juga pemerintah makin peduli dengan kesejahteraan rakyatnya agar akses pendidikan dan nutrisi lebih mudah dan terjamin.

      Delete
  4. teh makasih banyak, baca ini mengingatkan aku yg makannya ga pernah beraturan huhu. harus segera insaf nih sebelum nanti punya anak atau hamil

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semangaat. Di mana ada kemauan di situ ada jalan,Teh :)

      Delete
  5. Mksh tth sharingnya. Anakku baru 8.5 bulan, lg emas2nya pertumbuhan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga adek selalu sehat dan optimal tumbuh kembangnya ya,teh :)

      Delete
  6. Jadi seperti diingatkan lagi pas baca tulisan Teh Sugi ini. Semoga aku bisa menjadi madrasah yang baik bagi anak-anak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin...semoga kita bisa menjadi teladan untuk anak-anak kita ya,Teh

      Delete
  7. sedih kalp punya anak stunting, karena dia ngga bisa berpikir maksimal

    ReplyDelete
  8. Jadi ternyata buat cegah stunting itu dimulai menjaga dari sewaktu hamil ya teh..

    ReplyDelete
  9. MAsalah stunting memang tidak boleh diremehkan karena berpengaruh pada masa depan bangsa juga, semoga kesadaran terhadap bahaya stunting semakin difahami para ibu ya sheingga bisa mencegahnya sejak dini

    ReplyDelete
  10. Memang penting sekali pemahaman ttg gizi ini msh banyak yg belum paham soalnya..

    ReplyDelete
  11. Apakah umur 1,5tahun baru bisa bicara sekitar 4 kosakata,masih dikatakan normal?apakah termasuk stunting jg?

    ReplyDelete
  12. Makasih infonya, Teh.
    Bacanya muncul perasaan sedih gitu.
    Semogalah anak-anak Indonesia gak lagi mengalami kekurangan gizi.

    ReplyDelete
  13. Ngeri juga ya kasus stunting ternyata tinggi juga di Indonesia. Kudu alert nih. Kemarin aja ikutan kelas ibu hamil dikasih materi ttg stunting sama dokternya.

    ReplyDelete
  14. semoga kita selalu terhidar dari berbagai macam marabahaya

    ReplyDelete
  15. Gi, kalau anak udah kena stunting, itu bisa diatasi ga, maksudnya gimana cara menanganinya biar pertumbuhannya ada perbaikan.

    ReplyDelete