Showing posts with label cinta. Show all posts

Ketika Cinta Tak Bisa Mengubah Seseorang, Catatan tentang pernikahan, niat menyelamatkan, dan belajar menerima batas diri


 


“Menikahlah karena dengan menikah, kita sudah menunaikan setengah dari perintah agama.”

Pernyataan itu menjadi semacam legitimasi buatku ketika kuputuskan menerima pinangannya. Ia sebenarnya sahabat dari sahabatku. Mereka satu kos. Sahabatku sering bercerita tentang dia padaku. Ternyata sahabatku juga sering bercerita tentang aku padanya. 

Dunia Kita yang Berbeda

Ketika kami akhirnya bertemu, kami sudah saling tahu satu sama lain lewat cerita-cerita itu. Meski begitu, ia tetap datang dari luar lingkaran pertemananku, lingkaran aktivitasku, dan lingkaran minatku.

Ia bukan aktivis kampus. Ia juga tidak pernah hadir di kajian rutin di masjid. Ia juga tak suka diskusi, tidak pernah membaca buku-buku sastra, atau ikut turun aksi ke jalan. 

Aku aktivis pers mahasiswa, aktivis pecinta alam, juga aktivis rohis. Aku membagi Senin hingga Minggu-ku dalam diskusi buku, rapat redaksi, liputan, menulis artikel, dan kajian rutin di masjid atau kelompok kecil. Sementara ia menghabiskan waktunya berhari-hari membaca komik, main gitar, touring dengan motor Binter Kawasakinya, dan latihan band. 

Kami memang sangat berbeda. Ketika ia datang ke hidupku dan bilang, “Kalau ada yang sayang padamu, aku lebih sayang. Aku berjanji akan menemanimu menjalani hidup," aku tergagap karena menikah belum masuk agenda hidupku kala itu.

Aku tak pernah membayangkan ada laki-laki melamarku di usia 22 tahun. Di usia itu, aku masih penuh mimpi, penuh cita, dan harapan. Aku masih ingin fokus menyelesaikan skripsi yang kuharap bisa jadi magnum opus karyaku. Aku masih ingin lanjut S-2 ke luar negeri, aku masih ingin jadi jurnalis yang pergi ke banyak tempat bahkan meliput di medan peperangan.

Namun, beragam rencana, impian, dan harapan kutinggalkan di belakang. Ia menunjukkan kesungguhan dan datang dengan beragam cerita sedihnya tentang keluarga serta rasa sunyi yang selalu ia rasakan. Aku jatuh hati, jatuh kasihan, dan jatuh cinta padanya. 

Ketika Logika Kalah oleh Cinta

Seperti kata orang, “Mereka yang sedang jatuh cinta amat sulit melihat realita.”

Demikian halnya dengan kondisiku. Aku ingin menyembuhkan luka-lukanya. Niat yang amat lugu, niat yang ternyata membuatku menerima pinangannya. Dalam perjalanan saling mengenal sebelum pernikahan, aku mengalami berbagai kekerasan fisik. 

Seharusnya aku segera pergi, angkat kaki dari relasi kami. Sayangnya, aku sok heroik. Aku yakin bisa mengubahnya menjadi lebih baik.

Hari pernikahan pun ditetapkan, satu bulan setelah aku wisuda. Sebagian teman menggodaku, “Harusnya di belakang togamu, kamu tulis : lulus untuk menikah.”

Aku yang sedang amat bahagia tertawa mendengarnya. Yah, demi segera menikah, kulepaskan keinginan menulis skripsi yang bisa menjadi magnum opus karyaku. Skripsiku mungkin termasuk paling tipis di antara skripsi lulusan Filsafat lainnya. Hanya 68 halaman! Tidak ada masalah dengan jumlah halamannya. Saat sidang, dosen-dosen penguji tidak mempermasalahkan itu selama aku bisa mempertanggungjawabkan isi skripsiku. 

Hari pernikahan pun tiba. Kerabat dan sahabat datang menyemarakkan hari bahagia itu. Aku amat lega karena akhirnya halal. Selama setahun berproses dengannya, hati nuraniku sering gelisah karena aku tahu pacaran dilarang dalam Islam, tapi aku tetap pacaran.

Jadi, ketika kami sah sebagai suami istri, hatiku rasanya plong. Semua halal di hadapan Allah Ta’ala. Babak baru pun dimulai. Aku berharap pernikahan kami dilandasi ajaran Islam seperti yang selama ini kupelajari di kajian-kajian rutin. 

Aku membayangkan suamiku pun seperti Rasulullah SAW. Suami yang tak pernah marah ketika masakan istrinya keasinan. Suami yang tidak akan murka ketika istri kelupaan bawa kunci kamar sehingga ia harus menunggu istrinya pulang karena tak bisa masuk kamar. 

Ekspektasi yang Patah 

Realita ternyata tak seindah harapan. Ia kerap marah kalau masakanku keasinan atau tak sesuai harapannya. Ia juga tak mau menoleransi sifatku yang pelupa. Ia pun masih sulit untuk solat apalagi mengaji. Aku yang berharap suamiku adalah ensiklopedi tempat aku bertanya harus berdamai dengan itu semua. OK fine. Mari kita lanjutkan perjalanan.

Perjalanan mulai terasa amat berat di tahun keenam. Eskalasi kekerasan fisik semakin tinggi. Luka-luka fisik tampak di sana-sini. 

Seorang sahabat mengingatkan, “Kamu harus berani mengamputasi kakimu supaya keluar dari lingkaran kekerasan.”

Sahabat yang lain menegur, "Berhenti bersikap heroik dalam pernikahan. Kamu tidak bisa mengubahnya. Ia yang harus mengubah dirinya dengan sadar.”

Di tahun keenam itu juga, kubulatkan hati keluar dari pernikahan kami. Sebelumnya tidak mudah memintanya melepas ikatan ini. Setelah beragam peristiwa, akhirnya ia pun kelelahan dengan konflik-konflik panjang kami.

Di bulan Desember 2010, putusan jatuh. Ikatan kami lepas. Kami bukan suami istri lagi. Rasanya campur aduk, tapi untuk kesehatan lahir batin dan kehidupan yang bebas dari rasa takut dan tertekan, aku harus menelannya. Aku hanya perlu membiasakan diri tanpa dia lagi dalam kehidupan kami. Memang bukan jalan yang mudah, jalannya amat terjal berliku, tapi ada Allah yang selalu menemani dan menguatkanku.

Penerimaan dan Sapaan dalam Kenangan

Itu cerita enam belas tahun lalu. Semua luka sudah terbasuh. Ingatan-ingatan tentang negativitas masa itu memang tak pernah hilang, tapi rasa yang tertinggal tentu saja sudah tidak sama. Bukan luka yang berdarah-darah lagi, tetapi lebih ke pembelajaran bahwa aku pernah ada di masa yang sangat berat karena terlalu larut dalam perasaan mencintai yang heroik.

Pun kenangan tentang dia. Yang tertinggal adalah kenangan penuh makna. Aku tak tahu rasa ini apa namanya. Yang pasti aku mengapresiasi hal-hal baik yang sudah ia lakukan dan ajarkan padaku. Sebagian masih kuingat detail hal-hal baik itu. 

Tentang ingatan buruk yang kadang masih muncul, kadang memang masih terselip marah dan gusar, tapi itu sesaat saja. Kini aku mulai paham dengan kata-katanya di Ternate delapan belas tahun silam.

“Aku menyakitimu dengan tanganku. Kamu menyakitiku dengan kata-katamu.”

Yah, dulu kami masih amat muda. Ego berkelindan dengan tuntutan dipahami dan dipatuhi. Jadinya ya begitulah, saling menyakiti hingga cinta tak bisa menolong lagi.

Malam ini aku bercerita lagi tentang dia. Aku mengingat lagi fase perjalanan yang sangat banyak mengubah caraku memandang hidup. Kegagalan pernikahan dan proses memaafkan juga melepaskan yang amat panjang.

Aku lupa kapan terakhir kali aku menulis tentangnya. Mungkin saat ia sakit parah tahun lalu. Itu pun aku hanya menulis pendek-pendek di caption konten Instagram. Oh yaa! Aku ingat, aku menulis tentang dia di review film Sore tahun lalu. 

Ia takkan pernah hilang dari ingatan. Semua kenangan tentangnya menjadi bagian dari perjalanan hidupku sebagai manusia hari ini. Mungkin baginya pun sama. Aku tak pernah benar-benar tahu bagaimana ia menempatkanku dalam perjalanan hidupnya. Dari cerita mantan - mantan istrinya, aku tahu bahwa namaku sesekali masih hadir dalam kisah-kisahnya. Wallahualam.

Tiga hari lagi seharusnya ia genap berusia 47 tahun. Namun, Tuhan berkehendak lain. Tahun lalu, kanker hati merenggutnya. Ia kini hanya bisa kusapa dalam kenangan atau sesekali muncul dalam mimpi.

Di titik ini, aku makin paham "makna luka tawar oleh pengertian. "

Salam :)